Tren work life balance dianggap omong kosong oleh pekerja muda. Bagi pekerja Gen Z bergaji pas-pasan, lembur tetap jadi pilihan demi membiayai hidup dan healing.
***
Buka media sosial. Kita bakal dengan gampang menemukan konten-konten soal work-life balance di Instagram maupun TikTok.
Salah satunya, sebuah video “ajakan” untuk menutup laptop tepat jam lima sore, kemudian pulang lalu bersantai di kamar tanpa pusing memikirkan urusan kantor.
Kelihatan sangat ideal, dan memang harus begini harusnya. Namun, bagi Nabila (26), semua omongan soal work life balance itu cuma omong kosong.
Work life balance cuma berlaku kalau gaji besar
Menurut pekerja asal Sleman ini, keseimbangan hidup itu cuma indah di layar HP. Di dunia nyata, ada satu syarat yang jarang dibahas orang: work-life balance baru bisa jalan kalau gajimu sudah besar.
“Kalau gajimu cuma ngepas UMR Jogja, ya gimana mau balance,” ujarnya sambil tertawa, saat ditemui Senin (5/10/2026) malam.
Buat pekerja bergaji standard UMR Jogja seperti Nabila, yang uangnya cuma numpang lewat buat bayar kos dan makan di warteg, pulang jam lima sore justru malah bikin dia bingung.
“Bingungnya tuh begini. Kalau pun pulang kadang malah overthinking di kos, kok bisa sih hidup gini-gini aja. Jadi kayak kepikiran mending nyari kegiatan yang ada duitnya sekalian, sama-sama capek juga.”
Alhasil, bagi pekerja seperti dia, mengambil lembur yang upahnya dihitung per jam, menjadi opsi menarik ketimbang harus mengikuti gaya hidup work life balance. “Kadang malah mikir, nggak apa-apalah kerja sampai malem juga, asalkan ada duit lebih.”
Duit lembur itu ibarat napas buatan
Hal serupa dirasakan Amina (26). Gajinya cuma beda tipis dari UMR Jogja. Buat dia, ambil lembur itu antara terpaksa atau tidak terpaksa.
“Kalau ditanya terpaksa apa nggak terpaksa sih bingung juga ya. Tapi yang jelas, emang dipaksa sih, dipaksa nasib,” ujarnya sambil tertawa.
Terpaksa ataupun tidak, bagi Amina, uang lembur itu ibarat napas buatan yang menyelamatkan dompetnya setiap akhir bulan.
Amina cerita terang-terangan, gaji pokoknya selalu habis di minggu-minggu awal. Uang itu sudah habis buat bayar kos, tagihan listrik, uang bensin, dan makan sehari-hari.
“Nyaris tidak ada sisa. Kalau aku memilih pulang ‘teng-go’, kayaknya nggak bakal punya uang pegangan sama sekali,” jelasnya.
Padahal, Amina merasa dirinya juga butuh hiburan biar tidak stres. Dia butuh uang tambahan buat nongkrong bareng teman di akhir pekan, bayar Netflix, atau sekadar jalan-jalan tipis yang sering disebut anak sekarang sebagai healing.
“Semuanya butuh uang. Mustahil bisa healing kalau dompet kosong melompong kan?”
Demi bisa jajan enak di hari libur, Amina pun rela menukar waktu istirahat sorenya dengan lembur berjam-jam.
Stigma Gen Z pemalas patah oleh urusan perut
Nabila sering geregetan kalau mendengar omongan orang tua yang menyebut Gen Z itu manja, gampang kena mental, dan maunya kerja santai. Berdasarkan apa yang Nabila lihat sendiri di kantornya, omongan itu sama sekali tidak benar.
Di tempat kerjanya, justru anak-anak muda bergaji pas-pasan yang paling sering berebut jatah lembur.
“Banyak teman-teman seumuranku yang mau-mau saja disuruh masuk kerja pas hari libur, asalkan ada uang lebihnya. Itu kan jauh banget sama prinsip work life balance,” kata Nabila.
Amina juga setuju dengan pendapat itu. Menurut Amina, anak-anak muda ini bukannya gila kerja atau haus pujian bos. Mereka ambil lembur karena sadar biaya hidup sekarang sudah kelewat mahal.
Harga kebutuhan pokok naik, sewa kos mahal, sementara kenaikan gaji setahun paling cuma cukup buat beli beras.
Amina bilang, para pekerja muda ini sangat paham dan realistis, kalau mereka sok-sokan ikut tren pulang tepat waktu, mereka tidak bakal bisa menabung atau sekadar hidup layak.
Perut dan tagihan memaksa mereka rajin ambil lembur.
Work life balance, privilese yang cuma milik atasan
Dari pengalaman bertahun-tahun kerja, Amina menarik satu kesimpulan yang selalu ia ingat. Buat dia, work-life balance itu memang sungguhan ada, tapi bukan buat pekerja bawah sepertinya.
Keseimbangan hidup adalah privilese khusus buat bos atau manajer yang gajinya sudah belasan atau puluhan juta.
Amina sering melihat sendiri atasan di kantornya bisa pulang tepat jam lima sore, bahkan ikut berbagai kelas seperti yoga, atau santai bersepeda di Minggu pagi tanpa pusing urusan kerja.
“Bos bisa hidup tenang karena tugas-tugas berat dan revisi dadakan kan sudah dilempar semua ke bawahan,” keluh Amina.
Menurutnya, bos bisa menikmati work life balance justru karena ada keringat bawahan yang netes di jam lembur. Bos bebas stres karena ada staf seperti dirinya yang rela menukar waktu istirahat demi uang cepek atau dua ratus ribu rupiah.
Bagi Nabila dan Amina, selama gaji pekerja cuma cukup buat bertahan hidup, membicarakan work-life balance itu rasanya seperti lelucon. Buat mereka berdua, mencari tambahan uang lembur agar bisa makan enak di akhir pekan adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Gen Z Muak dengan Budaya Korporat, Biarlah Dicap Tak Punya Manner yang Penting Work-life Balance atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan