Setelah melewati drama toxic friendship, Maya* (30) sadar menjalin hubungan dekat dengan orang sekantor adalah utopia. Sampai akhirnya dia pilih putus pertemanan agar penyakit mentalnya tak kambuh.
***
Maya dulunya memiliki satu sahabat yang merupakan rekan kantor. Sebut saja nama sahabatnya itu Bunga. Maya mengenal Bunga lewat salah satu teman kantornya yang juga sering dia ajak nongkrong.
Selama di luar jam kantor, Maya dan temannya itu sering mengajak Bunga hingga hubungan mereka dekat.
“Kami semua sudah berusia di atas 30 tahun dengan latar belakang yang beda-beda. Ada yang single, ada yang sudah nikah, dan yang baru cerai. Bunga inilah teman kami yang baru cerai itu,” jelas Maya.
Bukannya ingin mendiskreditkan, tapi setelah berteman lama dengan Bunga, Maya merasa ada yang aneh dengan kepribadian ibu tunggal tersebut. Sampai akhirnya mereka memutus pertemanan satu sama lain.
“Lama-lama aku merasa dia toxic. Hobi banget kepoin urusan pribadi orang, suka gosip, dan kesannya sinis ke sesama perempuan yang tidak dia suka, entah karena si perempuan ini lebih popular, cantik, atau kaya,” jelas Maya.
Situasi toxic yang memutus pertemanan
Kesan di atas sangat berbeda saat pertama kali Maya bertemu Bunga. Mulanya, Maya iba atas musibah yang dialami Bunga. Hatinya ikut remuk redam saat mendengar alasan Bunga bercerai, yakni ketika suaminya selingkuh dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Waktu aku mendengarkan ceritanya, aku bisa melihat kalau dia sebenarnya belum sembuh dari luka lamanya. Aku rasa dia perlu ke terapi untuk mengatasi traumanya karena dia sampai insecure parah. Di sisi lain, dia juga orang yang cari perhatian banget,” jelas Maya.
Klaim Maya bukan tanpa alasan. Dia sering melihat Bunga selalu ingin menjadi main character. Cerita dan masalah yang disampaikan Bunga ke teman-temannya, termasuk Maya pun selalu sama. Tak pelak mereka jadi kewalahan sendiri.
“Kalau kita nggak mendengarkan, dia marah. Langsung playing victim, merasa semua orang mau menjatuhkan dia,” ujar Maya.
Karena alasan itu, Bunga bilang ke teman-temannya kalau dia ingin putus pertemanan. Sebab selama ini dia merasa tidak puas dengan respons Maya dan yang lain. Bunga menganggap, satu lingkaran pertemanan kerjanya itu sudah tidak peduli dengannya.
Putus pertemanan dari sang drama queen
Maya yang sebenarnya sudah kewalahan menghadapi drama pertemanan kantor tersebut, akhirnya menyetujui keputusan Bunga untuk memutus pertemanan. Namun, Bunga sendiri yang kemudian tidak terima dan masih mengajak mereka nongkrong sepulang kerja.
Setelah drama putus pertemanan itu, hubungan mereka tidak malah membaik. Maya merasa tabiat Bunga makin tidak bisa ditolerir hingga mengadu domba satu lingkaran pertemanan kantor mereka.
“Misalnya nih ya, dia ngomong ke aku kalau si Dinda bilang A, terus ke si Dinda dia justru bilang B. Pas aku ketemu Dinda, kita sama-sama kaget, ‘heh, gw nggak pernah ngomong gitu soal lo!’,” kata Maya.
“Dia juga kalau lagi musuhan sama satu orang, kayak semua orang harus tahu gitu dan orang-orang harus memihak ke dia,” lanjutnya.
Jalani hubungan toxic sampai kena mental
Saking toxic-nya, saat memutus pertemanan kantor untuk yang kedua kalinya, Bunga bukannya lost contact dengan Maya tapi justru mengirim pesan sampah ke nomor Maya layaknya teror.
“Kadang-kadang dia bisa kirim pesan sampai seharian penuh, isinya berupa makian. Gawaiku sampai kehabisan baterai gara-gara pemberitahuan dari dia yang nggak ada habisnya,” ujar Maya.
Karena tidak tahan menerima serangan verbal terus menerus, Maya sampai ke psikolog hingga didiagnosa mengalami anxiety disorder. Demi kesehatan jiwanya, Maya pun tidak pernah membalas bahkan melihat pesan itu lagi.
“Tapi dia nggak terima, padahal aku sudah unfriend di media sosial, aku juga sudah blokir dia. Eh, dia malah minta temenan lagi waktu salah satu temanku Dinda tadi harus ke luar negeri,” kata Maya.
Putus pertemanan, jalan terakhir yang saya pilih
Untungnya, Maya memilih enggan. Putusnya hubungan pertemanan seperti yang dialami Maya dan Bunga disebut sebagai friendship cut off, yang diikuti dengan berkurangnya intensitas interaksi.
Keputusan untuk memutus pertemanan itu nyatanya tidak selalu buruk. Maya merasa hidupnya lebih tenang dari sebelumnya. Kejadian itu juga menjadi pengalaman berharga untuknya dalam menjalin hubungan pertemanan kembali.
Apalagi di usianya yang sudah kepala 3 dan sudah bekerja. Demi kesehatan mentalnya, dia lebih memilih menghindari drama pertemanan yang tidak perlu, salah satunya putus pertemanan jika hubungannya bersifat toxic.
Dosen psikologi pendidikan dan perkembangan Unair, Primatia Yogi Wulandari berujar pertemanan seharusnya bersifat mutualisme. Pertemanan yang baik, idealnya membuat hidup lebih bahagia, saling mendukung, mengurangi kesepian, serta membuat hidup lebih bermakna.
Namun, apabila pertemanan justru menghasilkan situasi toxic friendship, ada baiknya langkah untuk memutus pertemanan harus diambil.
“You deserve more. Habiskan waktu dengan orang-orang yang menyayangi kalian dengan mengatasi atau menjauhi toxic friendship,” kata Primatia dikutip dari laman resmi Unair, Rabu (5/8/2026).
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: 10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
