Hidup di kota perantauan kerap kali memberi hal-hal tidak terduga yang bikin pusing kepala. Ujian keuangan menjadi satu persoalan utama. Pasalnya, ketika ada uang lebih, saat pikiran terbesit untuk menambah tabungan, eh malah ada masalah yang datangnya keroyokan.
***
Ketika mengecek saldo dan ternyata ada uang lebih, Fardan (27) refleks bernapas lega. Sebab artinya ia bisa menambahkannya dalam tabungan. Selain juga menebus bulan sebelumnya yang jatah tabungan bulanannya berkurang atau bahkan tidak sama sekali.
Fardan bekerja di sektor industri kreatif di Jogja. Selain gaji pokok sebesar Rp2,8 juta, ia juga kerap mendapat uang tambahan dari pekerjaan freelance.
Namun, baru saja hendak memindahkan uang lebihnya tersebut ke rekening tabungan, ujian keuangan datang keroyokan. Masalahnya, entah kenapa, ketika ia punya uang lebih, selalu terjadi seperti itu. Berulang kali seperti itu.
“Kalau masalah harga makanan yang naik, sebenarnya nggak terlalu berpengaruh. Karena hitungan duitku kan memang cukup kalau untuk makan, bensin, rokok, dan sewa kos,” kata Fardan.
Barang-barang rusak secara serempak, ujian keuangan di kota perantauan yang ganggu mental
Pernah suatu kali Fardan merasa gembira sekali karena ia mendapat bonus karena kinerjanya di kantor yang dinilai bagus. Alhamdulillah, bisa buat nebus bulan sebelumnya yang gagal menabung. Begitu pikiran awalnya.
Akan tetapi, ketika tengah dalam perjalanan ke kantor, ban motornya tiba-tiba jebluk. Ketika dibawa ke tambal ban, sialnya masalah ban motor Fardan tidak bisa diatasi hanya sekadar ditambal, tapi diganti.
“Ban motorku kan tubeless, ternyata nginjak benda tajam yang bikin sobek lebar. Solusinya ya ganti ban. Cok, Rp250 ribu,” gerutu pemuda asal Jawa Timur tersebut, Selasa (23/6/2026).
Masalahnya, sepanjang yang Fardan alami, masalah-masalah tidak terduga semacam itu kerap muncul keroyokan. Sebab, tidak lama setelah ganti ban tersebut, eh disusul layar ponsel yang rusak gara-gara kebanting, sehingga harus lekas diganti. Sama-sama kebutuhan primer soalnya.
Polanya selalu begitu. Ada satu momen ketika motor habis diservis. Tidak lama kemudian, tiba-tiba Fardan kehilangan charger hp, sehingga mau tidak mau harus beli baru. Di lain waktu, giliran laptop yang bermasalah yang sialnya dibarengi dengan sepatu jebol.
“Bikin stres. Karena pas lihat saldo, awalnya aku merasa kayak punya uang banyak. Tapi tiba-tiba jadi serba pas-pasan dan bahkan kurang,” ucap Fardan.
Bayar-bayar di waktu bersamaan
Ujian keuangan di kota perantauan bagi Fardan tidak berhenti di situ. Sebab, isi dompet dan saldonya kerap harus diloloskan untuk kepentingan yang sama mendesaknya.
Misalnya, membayar sewa kos sebenarnya merupakan rutinitas bulanan yang niscaya Fardan hadapi. Dan memang ia sudah spend anggaran untuk keperluan tersebut. Kalau tidak bayar, bisa diusir to dari kosan.
Hanya saja, kadang kala keharusan bayar-bayar sesuatu yang sama mendesak tidak jarang datang bersamaan. “Habis bayar kos, ternyata harus bayar pajak motor. Nggak lama kemudian paket internet habis, harus beli lagi,” beber Fardan mencontohkan.
Kalau sudah begitu, biasanya Fardan hanya bisa overthinking di kamar mandi, memegangi kepala sembari bersandar ke dinding kamar kos dengan layar hp menunjukkan pembagian uang di kalkulator, atau melamun sembari mengunyah gorengan di angkringan.
Kalau Fardan saja, yang sebenarnya bukan sandwich generation, langsung mumet, bagaimana dengan sandwich generation? Seringkali Fardan berpikir demikian.
Kebutuhan kos habis di saat bersamaan, mau kesal tapi ke siapa?
Serupa, Lissa (24) pun bercerita hal serupa: kota perantauan memang kerap memberi ujian keuangan tidak terduga.
Lissa perantau di Surabaya, Jawa Timur. Bekerja di sektor jasa, gaji Lissa tidak menyentuh Rp3 juta—tidak mencapai UMR Surabaya.
Sebagai siasat berhemat, Lissa lebih memilih masak sendiri alih-alih makan beli di warung. Untuk urusan mencuci pakaian pun ia lebih suka mencuci sendiri alih-alih laundry sebagaimana kebanyakan temannya.
“Sering banget ngalamin, gas (LPG) habis. Nggak bisa masak, dong, harus beli. Tapi di saat yang sama, pas mau masa aku nyadar ternyata minyak goreng dan beras mau habis. Pas mau mandi, baru nyadar lagi kalau ternyata keperluan mandi (seperti sabun, pasta gigi, sampo) tinggal sisa-sisa,” tutur Lissa.
Lissa mengaku ujian keuangan tersebut tidak hanya ia alami sekali. Tapi berulang kali. Alhasil, ketika habis belanja lagi untuk re-stock, ada perasaan kesal yang meletup-letup di dalam batin, setelah tahu keuangannya yang langsung terkuras di awal bulan.
“Pas mau minum, eh air galon habis. Sesudah beli, giliran paket internet yang habis. Hadeh. Maksudku, sebenarnya kan barang-barang itu habis itu pasti terjadi. Tapi mbok ya jangan barengan gitu loh,” gerutu Lissa. Masalahnya, mau marah ke siapa? Ya kan memang semua itu adalah kebutuhan yang harus dibeli.
“Kalau candaan sama temen-temen, ini semua salah gaji kita yang terlalu mini hahaha,” kelakar Lissa. “Gaji mini, eh harus hadapi ujian keuangan di kota perantauan. Ya katakan “sabar dulu” buah nambah tabungan.”
Kondangan/undangan pernikahan: ujian keuangan di kota perantauan yang tidak terhindarkan
Di tengah situasi menyebalkan tersebut, notifikasi muncul di ponsel Lissa. Memang bukan teman pinjam uang atau orang tua di rumah minta kiriman. Tapi tetap saja terasa menyebalkan, yakni undangan pernikahan.
“Temen-temen cewek semasa kuliah dulu, yang seusiaku, rata-rata memang sudah pada nikah. Nah ini nggak enaknya punya teman banyak, pasti aku nggak luput dapat undangan pernikahan,” ucap Lissa.
Untuk teman yang tidak terlalu dekat, biasanya Lissa hanya akan menransfer tanpa harus datang ke kondangan. Transferan untuk amplop pernikahannya pun sengaja tidak banyak.
Tetapi berbeda jika konteksnya adalah teman dekat. Pertama, Lissa harus meluangkan waktu untuk menghadiri kondangan. Iya kalau rumahnya dekat, kalau jauh artinya Lissa harus mengeluarkan biaya transportasi.
Kedua, karena teman dekat, maka Lissa harus mengisi amplop sedikit lebih tebal. Kalau sahabat, uang amplop tersebut harus didampingi pula dengan kado. Makin nambah pengeluarannya.
Baik Lissa maupun Fardan masih belum bisa menemukan solusi yang tepat untuk mengatur keuangan agar tidak goyang saat ujian keuangan itu datang. Teman-teman pembaca Mojok barangkali bisa memberi saran atau tips mengelola keuangan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
