ADVERTISEMENT

Pulang ke Lamongan demi Dekat Keluarga Malah Dicap Anak Gagal, Saya Pilih Balik ke Jogja Cari Kenyamanan

Balik merantau ke Jogja demi mencari ruang nyaman. Karena pulang ke Lamongan demi keluarga malah dicap gagal. MOJOK.CO

Bagi Riki (29), kembali ke rumah di Lamongan, Jawa Timur, semula terdengar seperti keputusan yang masuk akal. Namun, empat bulan setelah kembali ke rumah, Riki justru memilih kembali merantau ke Jogja. Ia kembali setelah merasa sakit hati karena ibunya menganggap dirinya gagal.

***

Setelah sekitar sembilan tahun tinggal dan menjadi perantau di Jogja, ia ingin pulang ke Lamongan. Tidak ada lagi kamar kos yang harus dibayar, tidak perlu memikirkan biaya makan sendiri, dan ia bisa lebih dekat dengan keluarganya.  Namun keputusan tersebut ternyata bukan keputusan yang tepat. Setelah pulang ke Lamongan dirinya justru dianggap gagal oleh ibunya.

“Saya mikirnya apa karena kemarin-kemarin uang kiriman saya kurang besar apa gimana gitu, Mas,” ujar Riki kepada saya, Rabu (23/09/2026).

Riki memang belum mendapatkan pekerjaan selama empat bulan berada di Lamongan. Ia sudah mengirim banyak lamaran, tetapi belum mendapat pekerjaan. Di rumah, ia akhirnya lebih sering berhadapan dengan pertanyaan tentang pekerjaan dan perbandingan dengan kakaknya yang juga merantau.

Sembilan tahun merantau, dua tahun Riki bertahan dengan gaji Rp2,5 Juta

Riki datang ke Jogja sekitar sembilan tahun lalu untuk kuliah. Setelah lulus, ia tidak langsung pulang ke Lamongan. Ia justru mendapatkan pekerjaan di sebuah penerbitan di Jogja sebagai tukang layout buku.

Pekerjaannya memang tidak terdengar mentereng. Setiap hari ia mengurus tata letak buku sebelum masuk proses cetak. Gajinya sekitar Rp2,5 juta per bulan. Dari penghasilan tersebut, Riki harus membayar kebutuhan hidupnya sendiri di Jogja. Namun ia tetap menyisihkan Rp500 ribu untuk dikirim kepada ibunya.

Jumlah itu mungkin tidak besar bagi sebagian orang yang juga sama merantau sepertinya. Bagi Riki, uang tersebut merupakan caranya menunjukkan bahwa ia masih memikirkan keluarga meski hidup jauh di perantauan.

“Niatnya sederhana saja sih, saya tidak ingin membuat orang tua saya di Lamongan mikir saya gagal di perantauan,” katanya.

Riki merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya merantau di Kalimantan dan biasanya hanya pulang setahun sekali. Adiknya masih SMP. Karena itu, Riki merasa dirinya dan sang kakak punya tanggung jawab terhadap kebutuhan keluarga.

Pilih tidak merantau agar lebih dekat dengan keluarga

Setelah sekitar satu tahun bekerja di penerbitan, Riki memutuskan resign. Ia ingin kembali ke Lamongan dan mencari pekerjaan di dekat rumah.

“Biar enak aja kalau dekat rumah, tidak perlu ngekos dan bisa kumpul sama keluarga,” ujar Riki.

Keputusan tersebut awalnya bukan bentuk kegagalan. Justru sebaliknya, Riki mengira pulang bisa membuat hidupnya lebih sederhana. Ia bisa menghemat biaya hidup, membantu keluarga secara langsung, dan tidak lagi menjalani kehidupan sebagai perantau yang harus membagi penghasilan untuk kebutuhan sendiri sekaligus mengirim uang ke rumah.

Fenomena seperti ini bukan hal yang asing dalam mobilitas penduduk Indonesia. Dilansir dari IDN, Badan Pusat Statistik mencatat sekitar empat juta penduduk Indonesia masuk kategori migran risen dalam hasil SUPAS 2025.  Bagi Riki, persoalannya jauh lebih personal. Ia sudah meninggalkan Jogja dengan harapan bisa kembali dekat dengan keluarga. Yang ia temukan justru empat bulan tanpa pekerjaan.

Empat bulan menganggur dan akhirnya dibandingkan dengan kakaknya

Empat bulan pertama di rumah menjadi titik balik. Riki belum mendapat pekerjaan meski sudah mengirim banyak lamaran. Pada saat yang sama, ibunya mulai membandingkan dirinya dengan kakaknya yang merantau di Kalimantan.

Dari sisi gaji dan jumlah uang yang dikirim, kakaknya memang lebih besar. Perbandingan itu membuat Riki mulai mempertanyakan apa yang selama ini ia lakukan.

“Saya mikirnya apa karena kemarin-kemarin uang kiriman saya kurang besar apa gimana gitu, Mas,” katanya.

Padahal, selama merantau di Jogja, Riki tetap mengirim Rp500 ribu dari gajinya setiap bulan. Ia tidak pernah menganggap uang tersebut sebagai pencapaian besar. Namun, ia berharap kiriman itu cukup untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak melupakan keluarga.

Masalahnya, ketika ia pulang dan kehilangan penghasilan, ukuran tersebut seperti berubah. Empat bulan tanpa pekerjaan membuat kontribusi yang selama ini ia berikan terasa seperti tidak pernah ada.

Riki dicap anak gagal karena belum mendapatkan pekerjaan

Ketegangan antara Riki dan ibunya akhirnya pecah. Riki mengatakan, ibunya menyebut dirinya sebagai anak yang gagal karena belum mendapatkan pekerjaan di Lamongan. Perkataan tersebut semakin menyakitkan karena ia merasa sudah berusaha.

“Kan selama empat bulan itu aku nganggur, Mas, tidak ada yang kukerjakan meski banyak lamaran sudah saya kirimkan. Akhirnya pecah amarah ibu saya, saya dikatakan anak yang gagal, tidak seperti kakak saya yang bisa ngirim uang jutaan kalau gajian,” aku Riki.

Persoalan Riki sebenarnya tidak berhenti pada empat bulan menganggur. Ia merasa ukuran keberhasilan di rumah telah bergeser menjadi soal berapa banyak uang yang bisa dibawa pulang.

Padahal, pengalaman merantau juga membawa persoalan lain. Keputusan seseorang untuk berpindah atau kembali tidak selalu berkaitan dengan satu faktor pekerjaan saja. Bagi Riki, pengalaman itu terasa jauh lebih sederhana: ia ingin bekerja dan tetap dianggap sebagai anak yang berusaha.

Merantau di Jogja, membawa luka dari rumah

Pada akhirnya, Riki kembali ke pilihan awalnya untuk hidup merantau di Jogja. Kota yang empat bulan lalu ia tinggalkan karena ingin lebih dekat dengan keluarga, kini kembali menjadi tempatnya mencari pekerjaan. Ada ironi dalam keputusan tersebut.

Riki dulu meninggalkan Jogja karena ingin pulang. Ia merasa kehidupan sebagai perantau membuatnya jauh dari keluarga dan menghabiskan sebagian penghasilannya untuk bertahan hidup. Namun setelah berada di rumah, ia justru merasa semakin jauh secara emosional.

“Saya bukan masalah emosi yang menguasai, Mas. Saya cuma sakit hati. Selama ini hasil uang kiriman saya kok seperti tidak pernah dianggap ada,” ujar Riki.

Kini ia kembali merantau. Ia kembali mencari pekerjaan di kota yang pernah ia tinggalkan. Ia kembali berhadapan dengan biaya kos, makan, dan kebutuhan hidup yang dulu ingin ia tinggalkan.

Bedanya, kali ini Riki membawa sesuatu yang tidak ia bawa ketika pertama kali datang ke Jogja sembilan tahun lalu: pengalaman bahwa pulang ke rumah tidak selalu berarti menemukan tempat paling nyaman.

Bagi Riki, kembali ke hidup di Jogja bukan lagi sekadar keputusan mencari pekerjaan. Ia sedang mencari tempat untuk kembali berdiri setelah merasa gagal di tempat yang justru paling ingin ia jadikan rumah.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version