“Dunia jahat pada laki-laki miskin.” Saya mendapat kutipan tersebut dari bokong truk yang melintas di pantura. Sebuah lelucon yang ironis sekali. Sebab, laki-laki tidak ada harganya sama sekali jika tidak berjubah materi (tidak memenuhi standar gaji mapan ala media sosial).
Contoh paling konkret terpampang jelas di media sosial baru-baru ini: seorang pengguna X dengan akun @toni_ndara_marapu_ende1665 mengunggah foto beberapa lembar uang yang dijejer. Katanya, melengkapi foto tersebut, “Cari calon istri yang bisa kunafkahi 3 juta perbulan.”
Tak butuh lama, kolom komentar akun laki-laki tersebut (selanjutnya dipanggil Toni) langsung diserbu warganet. Komentar-komentarnya membuat para laki-laki dengan gaji 3 juta perbulan merasa tertampar karena merasa mustahil bagi mereka untuk mengejar standar sukses dengan gaji mapan ala media sosial. Standar hidup yang lebih sering disebut dengan “Standar TikTok”.
Lihat postingan ini di Instagram
Gaji 3 juta: itu cuma cukup buat kasih makan anjing peliharaan, belum perawatan kecantikan
Nafkah 3 juta atau bahkan gaji 3 juta ternyata tidak ada nilainya bagi perempuan yang hidup dengan standar sukses dengan gaji mapan ala TikTok. Bisa dilihat dari komentar-komentar yang membanjiri akun Toni:
“3 juta cuma cukup untuk perawatan anjingku seminggu.”
“Cari di pelosok banyak, yang kesulitan ekonomi. Jangan cari di sini, mereka berharga.”
“Ada tuh nenekku, ga bakal minta tas branded, ga bakal eyelash, pilates dsb ga. Paling minta balsem Geliga aja.”
“Cari di tempat lain mas, gajiku lebih besar dari nafkahmu.”
“Dih 3 juta mah cuma sekai gue treatment suntik rejoran doang.”
Gaji ART-ku aja 5 juta sebulan, Kak.”
“Mas jajanku aja ga cukup 3 juta.”
“Diketawain sama gajiku mas.”
Lantas, harus punya berapa duit agar laki-laki dianggap berharga?
Sejumlah perempuan muda pun sudah memberi jawabannya di media sosial. Belakangan ini, saya menemukan cukup banyak konten-konten “standar gaji mapan” untuk laki-laki jika ingin ngajak menikah. Salah satunya konten berikut:
Lihat postingan ini di Instagram
Angkanya sudah jelas, Kawas. Para laki-laki yang ingin mencari pasangan, nilai nafkah atau gaji 3 juta memang hanya recehan belaka.
Pasalnya, standar gaji mapan yang dipasang oleh para perempuan dalam konten tersebut ada di angka: 10 juta, 15 juta, 20 juta, bahkan 30 juta dengan asumsi biaya bulanan untuk istri sebesar Rp20 juta.
Kalau gaji cuma 3 juta kubur bayangan rumah tangga, apalagi rata-rata bergaji di bawah UMP setelah overwork
Tak pelak jika pada akhirnya beberapa laki-laki hanya bisa tertawa sumir. Sebab, saat ini, rata-rata gaji yang diterima laki-laki yang bekerja ada di bawah 3 juta (di bawah UMP). Dan sepertinya akan kesulitan untuk mencapai angka standar gaji mapan ala TikTok: 10 juta-30 juta perbulan. Karena situasi saat ini adalah problem struktural:
Berdasarkan laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) 2026, ada sekitar 14 juta pekerja di Indonesia yang masih menerima gaji di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK).
Dalam kajian yang pernah dilakukan Ekonom FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho dan timnya itu, ditemukan data bahwa upah awal rata-rata pekerja di Indonesia hanya sekitar Rp1,6 juta perbulan.
Itu pun sudah termasuk mengambil pekerjaan-pekerjaan tambahan, loh (overwork-multiple jobs). Realitas tersebut tergambar dalam liputan Mojok, “Overwork-Multiple Jobs: Keterpaksaan Pekerja demi Hidup dari Upah Tak Layak, Masih Tanggung Kesehatan Diri Sendiri Tanpa Jaminan“.
Hasilnya pun masih hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar yang bersifat pokok, belum printilan seperti makan hewan peliharaan hingga perawatan kecantikan sebagaimana yang didambakan oleh sejumlah perempuan di kolom komentar Toni dan di konten QnA di atas.
Risiko diceraikan istri karena tidak mampu menghidupi
Laki-laki dengan gaji 3 juta perbulan atau di bawahnya menjadi lebih putus asa untuk mencari pasangan hidup karena fakta: masalah ekonomi menjadi faktor seorang istri menuntut cerai.
Contoh konkretnya seperti yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 4.469 perempuan dan 1.611 laki-laki mendatangi Pengadilan Agama (PA) Surabaya untuk mengurus perceraian.
Angka tersebut naik dari laporan tahun 2024: 9,3% atau 4.087 permohonan dari pihak perempuan. Dan naik 3,5% atau 1.557 permohonan dari pihak laki-laki.
Adapun gugatan cerai—yang banyak datang dari perempuan—itu diajukan oleh istri karena suami dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan nafkah keluarga atau kondisi keuangan rumah tangga yang terasa semakin berat.
Sementara dari data nasional, laporan GoodStats menunjukkan, masalah ekonomi menjadi faktor kedua penyebab perceraian. Dalam data Juli 2025 itu, perceraian akibat ekonomi tercatat sebanyak 100.198 kasus. Di atasnya ada perceraian akibat perselisihan dan pertengkaran yang tercatat sebanyak 251.125 kasus.
Mereka yang hidup bahagia secukupnya
Tidak semua perempuan sepakat dengan standar gaji mapan yang harus 10 juta ke atas. Tidak kalah banyak kalangan perempuan yang menyayangkan penghinaan pada Toni (sebagai laki-laki yang menyatakan kemampuan memberi nafkah sebesar 3 juta perbulan).
“Alhamdulillah suamiku gajinya perbulan 2 juta, rumah masih ngontrak, anak 2 masih SD, aku tetap bersyukur,” tulis akun @nasutionanggri.
“Gaji suamiku juga perbulan 3 juta. Alhamdulillah aku sama anak-anak sampai sekarang masih hidup,” tulis akun @_kania1990.
“Sementara di bagian sisi lain ada banyak wanita yang dinafkahi kurang dari 3 juta tapi selalu bersyukur dan bahagia, selagi itu hasil usaha jerih payah keringat halal suami, yang sudah berjuang bersusah payah untuk bisa menafkahi istrinya. Manusia tidak akan pernah cukup karena kebanyakan dari mereka mengukur uang dari angkanya, bukan dari bagaimana usahanya dan bagaimana mensyukurinya,” tutur akun @na.jeuni13.
Masalah ekonomi rusak mental, tapi selalu ada alasan untuk bahagia bersama
Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Marini, menjelaskan tekanan ekonomi memang sangat berhubungan dengan meningkatnya stres, kecemasan, kelelahan emosional, serta konflik relasional. Akibatnya, kemampuan berkomunikasi secara empatik dengan pasangan ikut menurun, sehingga persoalan kecil pun kerap berujung pada pertengkaran berulang.
Secara psikologis, tekanan ekonomi sering kali terbawa ke dalam relasi terdekat, yakni hubungan suami istri. Kemudian memicu terjadinya pillover effect, yaitu kondisi ketika tekanan dari luar hubungan memengaruhi kualitas interaksi di dalam hubungan.
“Situasi itu membuat pasangan yang sejatinya saling mencintai malah terjebak dalam pola saling menyalahkan. Bukan karena hilangnya rasa sayang, melainkan karena kapasitas emosional yang telah terkuras,” jelas Marini dalam keterangan tertulisnya.
Meski begitu, Marini menekankan bahwa dampak masalah ekonomi pun sebenarnya sangat ditentukan oleh cara pasangan memaknainya.
Bagi Marini, tekanan ekonomi akan berkembang menjadi krisis ketika individu merasa tidak memiliki sumber daya psikologis untuk menghadapinya, baik berupa kemampuan coping, dukungan pasangan, maupun harapan terhadap masa depan.
“Dalam praktiknya, alasan ‘masalah ekonomi’ sering menjadi permukaan dari persoalan yang lebih dalam, seperti komunikasi yang buntu, emosi yang tidak terkelola, dan kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi,” beber Marini.
Oleh karena itu, menurut Marini, persoalan keluarga tidak bisa dilihat semata dari sisi materi. Upaya memperkuat ketahanan keluarga perlu menyentuh aspek psikologis, termasuk kemampuan pasangan dalam berkomunikasi, mengelola stres, serta saling menjadi sumber dukungan emosional. Dari situlah, bisa jadi, meski materi/ekonomi tidak seberapa (gaji hanya 3 juta), tapi tetap bisa hidup dengan bahagia bersama.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan










