ADVERTISEMENT

Kapok Tinggal di Jogja, Memutuskan Kembali ke Pasuruan untuk Hidup Slow Living Meski Dicap Perantau Gagal

slow living

Meninggalkan Jogja dan memutuskan untuk hidup slow living di Pasuruan adalah pilihan terbaik. Meski harus menerima kenyataan dicap sebagai perantau gagal.

*** 

Selama delapan tahun tinggal di Jogja, Ilham (27) sempat mengira kota ini adalah tempat yang tepat untuk hidup santai. Ia datang pada 2017 dan baru meninggalkan Jogja pada 2025. Selama itu, ia menjalani kehidupan sebagai perantau, beradaptasi dengan ritme kota, sekaligus menikmati berbagai hal yang membuat Jogja sering dianggap nyaman untuk ditinggali.

Namun, setelah kembali ke kampung halamannya di kawasan Pandaan-Prigen, Pasuruan, Ilham justru menemukan definisi slow living yang selama ini ia cari. Bagi Ilham, hidup pelan justru berarti bisa bekerja, pulang, menikmati udara yang lebih sejuk, dan tidak merasa seluruh hidupnya habis untuk mengejar sesuatu.

“Setelah balik sini (ke Pasuruan) aku baru sadar kalau ternyata hidup bisa sesantai ini,” katanya kepada Mojok, Selasa 02/09/2026.

Delapan tahun di Jogja tidak menemukan slow living yang sesungguhnya

Ilham pertama kali tinggal di Jogja pada 2017. Selama bertahun-tahun, ia menikmati kehidupan kota yang menurutnya memang menyenangkan. Banyak tempat nongkrong, kebutuhan relatif mudah ditemukan, dan lingkungan anak muda juga membuat Jogja terasa hidup.

Namun, ada sisi lain yang mulai ia rasakan setelah tinggal cukup lama. Menurut Ilham, Jogja yang dulu ia kenal sebagai kota nyaman perlahan terasa semakin ramai dan mahal. Tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga aktivitas sosial membuat konsep “hidup santai” tidak selalu terasa nyata.

“Jogja itu enak kalau datang sebagai orang yang liburan atau tinggal sebentar. Tapi kalau sudah bertahun-tahun, aku mulai mikir, kok hidupku malah kayak ngejar terus. Ritmenya kayak semua orang punya kesibukan masing-masing. Kita akhirnya ikut sibuk juga,” ujarnya.

Bagi Ilham, pengalaman tersebut membuat predikat Jogja sebagai kota yang nyaman dan santai terasa tidak sesederhana yang sering dibayangkan orang.

Slow living tidak hanya sekadar tinggal di Jogja

Belakangan, istilah slow living memang semakin populer dibincangkan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Konsep ini sering dikaitkan dengan hidup lebih sederhana, tidak terburu-buru, mengurangi konsumsi berlebihan, dan memiliki waktu untuk menikmati kehidupan sehari-hari.

Tetapi Ilham punya ukuran sendiri. Baginya, slow living bukan berarti tidak bekerja atau hidup tanpa target. Justru ia masih bisa bekerja seperti orang lain. Bedanya, setelah pulang ke Pasuruan, ia merasa hubungan antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari lebih seimbang.

“Kalau kerja ya kerja. Pulang ya pulang. Setelah itu bisa menikmati waktu sendiri. Nggak merasa harus terus keluar atau mengikuti sesuatu,” katanya.

Di titik ini, Ilham tidak sedang mengatakan bahwa semua orang di Jogja pasti hidup terburu-buru. Ia hanya membandingkan pengalaman pribadinya selama delapan tahun tinggal di sana dengan kehidupannya sekarang. Dan menurutnya, perbedaannya cukup terasa.

Pandaan bukan daerah sepi tanpa pekerjaan

Pandaan juga bukan daerah yang sepenuhnya jauh dari hiruk-pikuk ekonomi. Kabupaten Pasuruan justru memiliki basis industri yang kuat. Pemerintah Kabupaten Pasuruan mencatat kawasan industri dan peruntukan industri tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Pandaan, Gempol, Beji, Sukorejo, dan Rembang.

Perekonomian Kabupaten Pasuruan pada 2025 bahkan tumbuh 5,66 persen dan pertumbuhannya terutama didorong sektor industri pengolahan. Artinya, pilihan Ilham untuk hidup lebih pelan bukan berarti ia harus meninggalkan dunia kerja.

Di Pandaan, aktivitas industri tetap berjalan. Pabrik tetap bekerja. Orang-orang tetap berangkat pagi dan pulang sore. Kawasan ini juga terhubung dengan aktivitas ekonomi Pasuruan dan wilayah sekitarnya. Bagi Ilham, justru di situlah menariknya.

“Orang kadang mikir slow living itu harus tinggal di desa yang nggak ada apa-apanya. Padahal di sini pabrik banyak. Kerja juga bisa, hidup di sini jauh lebih bikin sejahtera daripada di Jogja,” katanya.

Pandaan memang bukan kota administratif tersendiri, melainkan kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Namun posisinya membuat kawasan ini menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi Pasuruan, sekaligus tetap dekat dengan kawasan Prigen yang dikenal memiliki udara sejuk dan banyak sumber mata air.

Air jernih dan udara segar adalah kemewahan yang tidak dimiliki Jogja sebagai kota slow living

Ilham kemudian bercerita soal hal yang menurutnya paling sederhana, tetapi justru paling terasa setelah kembali yakni air. Di kawasan Pandaan-Prigen, ia masih bisa menemukan lingkungan dengan sumber mata air dan suasana yang menurutnya jauh lebih sejuk dibanding kehidupan perkotaannya dulu.

“Di sini aku bisa bangun pagi, udara dingin, air masih enak, terus nggak perlu ke mana-mana sudah cukup,” katanya.

Ilham juga tidak mengejar kehidupan murah yang sering dilabeli ke Jogja. Baginya kota murah yang tersemat di Jogja seringkali hanya riasan bukan sesuatu yang benar-benar terjadi di dalamnya.

“Aku juga tidak mengejar label kota murah yang selama ini disebut oleh orang-orang Jogja. Kalau murah tapi hidupnya tetap bikin stres, ya buat apa?” ujarnya.

Jawaban itu mungkin menjadi inti dari kepulangannya. Sebab selama ini slow living sering dipasarkan seperti sebuah gaya hidup yang bisa dibeli: tinggal di tempat tertentu, minum kopi tertentu, bekerja secara fleksibel, lalu mengunggahnya ke media sosial.

Bagi Ilham, konsep tersebut terlalu rumit. Ia hanya ingin kehidupan yang tidak membuat dirinya merasa harus terus berlari.

Pulang bukan karena gagal merantau

Setelah delapan tahun di Jogja, Ilham akhirnya memilih pulang pada 2025. Keputusan itu sempat terasa seperti kemunduran baginya. Merantau sering dianggap sebagai tanda keberhasilan anak muda. Semakin jauh kota yang dituju, semakin keren ceritanya.

Bahkan di awal kepulangannya, Ilham dicap sebagai perantau yang gagal karena meninggalkan kota besar tanpa membawa hasil yang “wah”. Stigma itu Ilham terima dengan biasa saja. Sebab, ia tidak menganggap kepulangannya sebagai kegagalan.

“Dulu aku mikir pulang itu kayak mundur. Sekarang malah mikir, kenapa harus malu pulang kalau di sini aku lebih nyaman?” ujarnya.

Ilham memang tidak sedang membuat pernyataan bahwa Pandaan lebih baik daripada Jogja untuk semua orang. Ia hanya menemukan bahwa tempat yang ia cari untuk menjalani hidup dengan ritme lebih pelan ternyata bukan kota yang selama ini dikenal sebagai kota nyaman.

Bagi Ilham, mungkin inilah bentuk slow living yang paling masuk akal: tetap bekerja, tetap punya penghasilan, tetap hidup di kawasan yang ekonominya bergerak, tetapi setelah pekerjaan selesai, masih punya waktu untuk menikmati udara sore, air yang jernih, dan kehidupan tanpa perasaan harus terus mengejar sesuatu.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Exit mobile version