Keputusan saya pindah dari Surabaya ke Jogja sering kali dipertanyakan banyak orang yang saya temui. Kok bisa, dari sebuah kota ber-UMK tinggi, memilih ke daerah yang UMP-nya tidak sebanding dengan biaya hidup? Karena sudah teramat sering disangsikan, saya akhirnya menyimpulkan: ternyata masih banyak orang yang salah paham tentang situasi kerja di Surabaya. Mengira kalau di Kota Pahlawan gaji saya lebih layak.
Itu terjadi juga di beberapa kenalan saya yang masih atau pernah bekerja di Surabaya tiap berbincang dengan orang daerah lain. Pertanyaan kepada mereka selalu dimulai dengan nada kaget: “Loh, bukannya di Surabaya kamu bakal lebih sejahtera finansial?” Padahal belum tentu.
Surabaya, sebagai salah satu level up city di Indonesia ternyata masih disalahpahami oleh banyak orang—khususnya yang belum pernah sama sekali merasakan kerja di sana. Branding Surabaya sebagai “kota industri dan perkantoran” sudah terlanjur kuat.
UMK Surabaya besar, tapi gaji belum tentu
Mulai dari saya sendiri. Saya dulu bekerja di sebuah media online. Gaji saya ada di angka Rp2,5 juta. Tanpa BPJS. Itupun masih ada potensi dipangkas jika target bulanan tidak tercapai. Jauh dari gaji saya di Jogja pada bidang yang sama.
Sejumlah teman (lulusan perguruan tinggi) yang masih kerja di Surabaya pun mengalami hal yang sama. Sebenarnya narasi “pusat industri besar, perkantoran besar, UMK tinggi” memang tidak salah. Namun, bukan berarti gaji yang diterima juga sama besar.
Sejumlah teman, yang rata-rata kerja di sektor swasta, itu rata-rata mendapat gaji di angka Rp2 juta-Rp2,5 juta. Bahkan, beberapa kenalan yang lulusan SMA/SMK, mereka bisa menerima gaji di angka Rp1,5 juta. Tanpa BPJS, karier mandek.
Kenaikan gaji pun sangat pelan bahkan ada yang tidak beranjak sama sekali (gajinya benar-benar mandek segitu saja walaupun sudah kerja bertahun-tahun: rata-rata mereka sudah kerja sejak 2021).
Sementara, merujuk Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/937/013/2025, UMK Kota Pahlawan di tahun 2026 ini sudah di angka Rp5.288.796 perbulan. Kalau saya terakhir—setalah bekerja dari 2021-2023—UMK Surabaya pada tahun 2023 Rp4.525.479 perbulan. Tapi gaji saya tetap istikamah di angka Rp2,5 juta.
Surabaya banyak perkantoran, tapi sedikit yang bisa kerja formal
Surabaya banyak perkantoran, iya. Dalam bayangan orang-orang yang saya dan sejumlah teman temui, kerap menganggap kalau sudah bilang “sarjana kerja di Surabaya”, pasti kerjanya di sektor formal.
Padahal belum tentu. Merujuk data BPJS Jawa Timur, pekerja di sektor formal justru hanya 38,3%. Sementara 61,7%-nya adalah pekerja sektor informal.
Sialnya, sering kali pekerja sektor informal ini berada di posisi tidak diuntungkan: dapat kontrak jangka pendek, rentan PHK, gaji lebih rendah, tanpa jaminan sosial, bahkan sering overwork (overwork tapi underpaid).
Tunjangan Hari Raya (THR), ini beruntung-beruntungan memang. Syukurnya, saya dulu selalu dapat THR satu kali gaji sesuai aturan UU Cipta Kerja. Setidaknya setiap lebaran saya masih bisa pulang kampung dengan saku sedikit lebih tebal.
Namun, ada seorang teman perempuan yang mengaku tidak pernah menerima THR sama sekali semenjak kerja pada 2022-2024 (sebelum akhirnya memilih keluar untuk menikah). Ada juga yang THR-nya cuma puluhan ribu rupiah.
Biaya hidup lebih murah, asal tahan dengan penderitaan
Soal biaya hidup, kalau dibandingkan dengan Jakarta, jelas lebih murah. Kalau dibandingkan dengan Jogja, ya tipis-tipis lah.
“Di Surabaya itu banyak makanan murah, enak-enak lagi,” begitu kata setiap orang setiap kali saya mengaku pernah kerja di Surabaya.
Ini relatif. Begini, makanan enak, banyak. Surabaya surga kuliner memang. Tapi aspek harga juga harus dipertimbangkan.
Kalau gaji cuma Rp2,5 juta atau bahkan Rp1,5 juta, jelas harus menahan diri untuk makan enak setiap saat. Misalnya saya. Saya dulu membatasi pengeluaran makan di Rp20 ribu perhari. Itu maksimal. Beberapa teman (yang asli Surabaya) jauh lebih beruntung karena kalau urusan makan masih bisa ikut rumah.
Saya mencoba mencari-cari warung makan dengan harga murah. Harga Rp8 ribuan benar-benar masih ada, di gang-gang sempit perkampungan padat. Tapi memang harus kuat makan itu-itu mulu: sudah cukup enak lah untuk orang yang berkantong tipis.
Begitu juga dengan indekos. Harga kos Rp400 ribu mungkin terdengar murah. Tapi bagi pekerja dengan gaji stunting, kalau bisa ditekan lagi biaya kosnya, lebih baik ditekan. Saya dulu ngekos di harga Rp200 ribu. Seorang teman bahkan sampai ngekos di harga Rp150 ribu (beneran ada, loh). Tapi ya harus siap-siap menderita: karena berharap apa dari kos semurah itu?
Surabaya pusat hiburan, tapi tidak menghibur
Sebagai kota metropolitan, Surabaya memang dipenuhi gemerlap pusat hiburan. Sehingga, banyak orang beranggapan: ah kalau mau cari hiburan pasti tidak susah, tinggal pilih. Iya kalau yang dibayangkan hiburan melulu soal kegemerlapan ya.
Di Surabaya, tercatat ada 20+ pusata perbelanjaan modern (mall). Belum kafe/coffee shop, restoran enak, hingga kelab malam, dan lain-lain.
Siapa yang bisa leluasa mengakses? Tentu yang bergji UMK atau di atasnya. Kalau gaji stunting, pilihannya tinggal dua: klumbrak-klumbruk di kos (untuk menekan pengeluaran) atau di tempat-tempat hiburan kelas bawah seperti warung kopi pinggir kali, taman-taman kota, dan sejenisnya.
Kalau nekat ke tempat hiburan yang naik level sedikit (misalnya jajan atau belanja di mall, atau sekadar nonton di bioskop), bukannya terhibur malah menderita: pas tahu kalau uang yang dikeluarkan seharusnya bisa buat makan untuk beberapa hari ke depan, beli bensin, atau beli paket data.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
