Sejak awal berdiri tahun 2021, Masjid Walidah Dahlan Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengusung empat karakter, yakni ramah anak, ramah lansia dan difabel, ramah lingkungan, serta ramah perempuan.
Ketua Takmir Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Muhammad Nurdin Zuhdi, percaya laki-laki tidak bisa sendirian dalam membangun peradaban Islam. Oleh karena itu, perempuan harus ikut andil menyejahterakan masjid.
“Masjid itu kan pusat peradaban dan untuk membangun peradaban, laki-laki harus bersama-sama dengan perempuan, tidak bisa sendirian,” tegas Nurdin saat ditemui Mojok di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Kamis (13/8/2026) pagi.
Perempuan boleh ceramah saat tarawih di Masjid Walidah Dahlan UNISA
Langkah Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta untuk mewujudkan masjid ramah perempuan tak sekadar tampak dari segi arsitekturnya yang memisahkan ruang antara laki-laki dan perempuan, melainkan juga melalui pemberian kesempatan yang sama dalam berdakwah.
“Dalam susunan takmir kami misalnya, kebanyakan takmirnya adalah perempuan, sekitar 80 persen. Lalu pembicara untuk ceramah, kultum, atau kajian itu 40-50 persennya adalah perempuan tapi imam salatnya tetap laki-laki,” jelas Nurdin.
Nurdin tak menampik keputusannya itu mendapat banyak kritik dari warga sekitar. Ada yang menyampaikan ketidaksukaannya secara terang-terangan, ada pula yang hanya bergunjing di belakang.
“Ada yang bilang ke saya begini, ‘kalau Isya saya salat di sini tapi kalau tarawih saya nggak mau’ terus saya tanya kenapa? Katanya karena yang ceramah perempuan,” tutur Nurdin.
Perempuan di Masjid Walidah Dahlan UNISA didukung untuk berkarya
Meski begitu, Nurdin tak langsung menyerah. Setelah menyosialisasikan pandangannya, warga sekitar pun mulai paham. Hingga satu tahun lamanya, Nurdin mengaku warga maupun lingkup Masjid Walidah Dahlan UNISA sendiri mulai terbiasa dengan penceramah perempuan, terutama saat tarawih.
“Pada tahun keempat, suara-suara sumbang itu sudah mereda. Sekarang mereka sudah tahu, pelan-pelan kami sosialisasikan,” kata Nurdin.
“Seperti yang tercantum dalam Surat An-Nahl ayat 97, ‘barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” lanjutnya.
Artinya, kata Nurdin, Allah tidak membeda-bedakan kebajikan yang dilakukan laki-laki maupun perempuan, sehingga keduanya punya kesempatan yang sama dalam berkarya.
“Jadi untuk berkarya, berprestasi, maupun mengabdi, itu tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Itu prinsip yang kami pegang. Mau itu laki-laki atau perempuan, semuanya boleh ikut andil memakmurkan masjid,” jelasnya.
Semangat Masjid Walidah Dahlan UNISA terinspirasi dari masjid di Maroko
Menurut Nurdin, Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta memang bukan yang pertama mengangkat isu ramah perempuan. Namun, dia ingin mengambil semangat yang sama dari Masjid al-Qarawiyyin.
Mengutip dari berbagai literatur, masjid itu dibangun sekitar tahun 245 H/859 M oleh Fathimah binti Muhammad Al Fihriyah Al Qurosyiyah. Dia merupakan muslim yang menyulap masjid menjadi perguruan tinggi pertama dalam sejarah Islam.
Fatimah al-Fihri, sapaan akrabnya, merupakan putri dari saudagar kaya asal Tunisia yang kemudian bermigrasi ke Fes, Maroko. Meskipun berasal dari keluarga kaya dan bangsawan, Fatimah terdidik dengan jiwa sosial yang tinggi.
Bersama adiknya pula, Maryam, keduanya haus akan ilmu pengetahuan. Sehingga, sepeninggal ayah dan suaminya, Fatimah bersama Maryam sepakat untuk membangun masjid yang kemudian berubah menjadi universitas pertama. Semangat itu yang ingin dibawa Masjid Walidah Dahlan UNISA hingga sekarang.
Siti Hajar yang membangun peradaban
Dalam sejarahnya pula, perempuan punya peran besar dalam membangun peradaban Islam. Salah satunya, Siti Hajar yang menjadi penghuni pertama di Mekkah sekaligus penemu mata air Zamzam.
Keteguhan Siti Hajar saat ditinggal suaminya, Nabi Ibrahim di lembah Mekkah rupanya berbuah manis. Di sebuah tempat gersang dan tidak berpenghuni, Siti Hajar berjuang mencari air dari bukit Shafa dan Marwah untuk bayinya, Ismail.
Selama 7 kali berlari, bolak-balik dari bukit Shafa ke Marwah, Nabi Ismail mulai menghentakkan kakinya hingga muncul mukjizat air Zamzam. Air itulah yang menarik perhatian suku pengembara hingga menghidupkan Kota Mekkah.
“Jadi pada prinsipnya, masjid bukan hanya untuk sholat, tapi untuk pusat kajian keagamaan dan pendidikan. Artinya apa? Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta juga harus menjadi pusat pembentukan peradaban,” tegas Nurdin.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
