ADVERTISEMENT

Pekerjaan Impian Cuma Omong Kosong, Bagi Gen Z Gaji Besar Lebih Penting

Pekerjaan Impian Cuma Omong Kosong, Gen Z Pilih Gaji Besar. MOJOK.CO

Dulu, pekerjaan impian terdengar seperti sesuatu yang layak diperjuangkan mati-matian. Sekarang, Gen Z memilih pekerjaan dengan gaji besar daripada mengejar passion tapi gaji kecil.

***

Amanda (26), lulusan Ilmu Komunikasi UNY, pernah membayangkan dirinya bekerja di dunia broadcasting. Namun, realitas pasar kerja membuatnya berpikir ulang. Menurutnya, masuk ke industri tersebut tidak mudah, sementara penghasilannya belum tentu sebanding dengan pekerjaan yang ia jalani.

Amanda akhirnya memilih bekerja sebagai staf BPO yang berkantor di Sleman City Hall. Pekerjaan itu bukan pekerjaan impiannya, tetapi memberikan penghasilan yang menurutnya lebih masuk akal.

“Daripada di broadcasting, mending di BPO. Meski bukan pekerjaan impian tapi gajinya gede. In this economy, itu yang lebih penting,” ujar Amanda kepada saya, Sabtu (26/09/2026).

Pekerjaan impian kalah oleh angka rekening

Amanda bukan satu-satunya Gen Z yang mengubah cara memandang pekerjaan. Wisnu (28), misalnya, pernah menjalani pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan passion-nya sebagai ilustrator buku di sebuah penerbitan kecil di Jogja.

Ia senang membuat ilustrasi untuk buku yang akan terbit. Masalahnya datang dari angka di slip gaji. Penghasilan Wisnu tidak sampai UMR Jogja. Wisnu kemudian mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia meninggalkan pekerjaan yang ia sukai dan pindah menjadi staf finance di sebuah perusahaan di Jogja. Pekerjaan barunya memang tidak memberinya kepuasan yang sama, tetapi gajinya jauh lebih besar.

“Dulu senang karena pekerjaan impianku jadi ilustrator buku, tapi gajinya kecil. Makanya sekarang jadi mas-mas finance yang meski mumet tapi gajinya gede,” kata Wisnu.

Perubahan itu menunjukkan bahwa pekerjaan impian tidak selalu kalah karena seseorang berhenti menyukai pekerjaannya. Kadang, kebutuhan hidup membuat seseorang menghitung ulang apa yang sebenarnya ia cari dari sebuah pekerjaan.

Ketika passion tidak cukup untuk membayar kebutuhan hidup

Pilihan Wisnu terasa relevan dengan kondisi finansial yang dihadapi banyak anak muda. Survei Deloitte 2025 yang dilansir dari Kompas, survei tersebut dilakukan terhadap lebih dari 23.000 Gen Z dan milenial di 44 negara menemukan 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Lebih dari separuh responden dari kedua generasi juga hidup dari gaji ke gaji.

Namun, data itu tidak otomatis berarti Gen Z hanya mengejar uang. Survei yang sama menemukan 89 persen Gen Z menganggap rasa “memiliki tujuan” dalam pekerjaan penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan.

Artinya, uang dan makna pekerjaan tidak selalu berdiri sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Masalah muncul ketika seseorang harus memilih salah satunya. Wisnu sudah memilih. Ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih besar, tetapi harus menerima pekerjaan yang tidak lagi berhubungan dengan passion-nya.

Namun, masih ada juga yang percaya pada pekerjaan impian

Di tengah dua cerita tersebut, Dito (25) justru mengambil jalan berbeda. Lulusan PGSD UNY itu memilih menjadi guru honorer di sebuah SD meski penghasilannya sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Dito tidak menutup mata terhadap kecilnya penghasilan. Namun, ia masih merasa senang ketika mengajar. Baginya, pekerjaan sebagai guru memberikan kepuasan yang tidak ia dapatkan hanya dari nominal gaji.

“Kebutuhan spiritualku terpenuhi di sini, meski sering capek batin tapi saya senang,” ujar Dito.

Ia juga belum tertarik berpindah pekerjaan demi mendapatkan gaji lebih besar. Lingkungan keluarganya ikut membentuk pilihan tersebut. Dito tumbuh dalam keluarga akademis sehingga profesi guru terasa dekat dengan kehidupannya.

“Sepertinya tidak minat. Saya masih suka mengajar, karena saya juga dibesarkan di keluarga yang akademis. Jadi menjadi guru adalah jalan ninja keluarga kami,” katanya.

Dito bahkan tetap bersyukur karena penghasilannya sedikit lebih besar daripada beberapa kawannya sesama guru honorer. Dito juga merasa bahwa bekerja dengan gaji kecil tapi sesuai dengan passion jauh lebih menyenangkan.

Pekerjaan tidak harus selalu mengalah

Tiga cerita tersebut menunjukkan bahwa Gen Z tidak punya satu cara pandang terhadap pekerjaan. Amanda mengejar penghasilan. Wisnu pernah mengejar passion lalu mengubah pilihannya. Dito masih bertahan dengan pekerjaan yang ia sukai meski gajinya kecil.

Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa Gen Z mencari keseimbangan antara uang, makna, dan kesejahteraan. Bahkan ketika tidak bisa mendapatkan semuanya sekaligus, sebagian responden memilih gaji lebih tinggi dan keseimbangan hidup karena keduanya memberi sumber daya untuk menjalani kehidupan di luar pekerjaan.

Pada akhirnya, pekerjaan impian mungkin memang belum benar-benar mati. Namun, bagi sebagian Gen Z, pekerjaan juga harus mampu membayar kebutuhan hidup. Pekerjaan impian akhirnya bukan cuma soal pekerjaan apa yang paling disukai, tetapi juga soal berapa harga yang sanggup dibayar seseorang untuk tetap mengejarnya.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ibu-Ibu Rembang Dipaksa Kerja Pabrik karena Para Suami Tak Bisa Lagi Jadi TKI di Malaysia, Kaget Ternyata Kerja Secapek Itu, Baru 3 Hari Langsung Berhenti atau liputan Muchamad Aly Reza di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version