WhatsApp jadi salah satu media komunikasi yang paling sering digunakan. Berkomunikasi melalui WhatsApp mempermudah sebagian urusan, tetapi juga memberikan beban tak kasat mata bagi pekerja, khususnya gen Z, yang harus stand by agar dinilai memiliki kepribadian dan etos kerja yang baik.
Setidaknya begitulah anggapan sebagian orang. Kepribadian dan etos kerja yang baik seakan-akan dilihat, salah satunya dari kecepatan membalas pesan.
Kalau bisa, dalam hitungan detik, pesan soal pekerjaan sudah harus dapat balasan. Namun seakan tidak ada puasnya, penilaian itu kemudian juga menyangkut menyalakan centang biru pada aplikasi pesan. Artinya, membiarkan orang lain tahu kalau pesan sudah dibaca dan akan segera mendapat balasan.
Masalahnya adalah keharusan semacam ini memberikan ketidaknyamanan, bahkan perasaan terganggu bagi sebagian orang. Maka dari itu, ada yang memilih untuk mematikan read receipt atau tanda baca WhatsApp demi kebaikan dirinya.
Pekerja gen Z pilih “masa bodoh” demi privasi
Salsa (25) adalah salah satu pekerja gen Z yang memilih mematikan centang biru (cenblu) pada aplikasi WhatsApp. Perempuan kelahiran tahun 2000 ini mengatakan, dirinya lebih suka tidak mengetahui status pesan yang sudah dikirimnya.
Menurutnya, tidak penting pesannya sudah dibaca atau belum. Ia hanya akan menunggu balasan pesan tiba sesegera mungkin, tanpa membiarkan dirinya merasa “digantungkan” karena pesan yang tak berbalas.
“Aku lebih suka nggak tahu kalau udah di-read atau belum, kayak ya sudah,” kata Salsa kepada Mojok, Kamis (9/4/2026).
Menerapkan sikap “bodo amat” dengan pesan dirinya yang sudah dibaca atau belum, Salsa merasa bahwa dirinya hanya mencoba menjaga privasinya. Ia tidak masalah dengan pesannya yang tidak diketahui sudah dibaca atau belum, demikian pula dengan orang lain yang diharapkannya merasakan hal sama.
Sebab, baginya, memutuskan membalas atau tidak adalah haknya.
Salsa tidak ingin privasinya diganggu dengan keharusan membalas pesan segera setelah membacanya. Untuk itu, ia menghindarinya dengan mematikan tanda baca WhatsApp.
“Kalau aku, aku lebih nggak mau privasi aku terganggu. Kayak hak aku mau balas apa nggak, nggak mau ketahuan udah read,” kata dia.
Ingin tenang, tapi dianggap punya kepribadian buruk
Selain menginginkan privasi, pekerja asal Jakarta itu mengatakan, dirinya tidak jarang merasa overthinking atau tidak tenang karena bersifat perasa.
Salsa cenderung merasa lebih peka dan emosional. Ia lebih sensitif, serta tidak bisa memungkiri bahwa dirinya kerap terpengaruh oleh perasaan dan pikirannya sendiri.
Berbalas pesan dengan kecepatan kilat membuat Salsa mengalami tekanan yang membuatnya merasa kurang nyaman sehingga berpengaruh terhadap perasaannya. Pesan-pesan yang diterima, atau harus dikirimkan, juga dapat membuat dirinya terbawa perasaan hingga berlarut-larut.
Mematikan tanda baca WhatsApp menjadi semacam bentuk antisipasi Salsa sebab tidak harus bertanya-tanya alasan pesannya dibaca, tetapi belum dibalas. Kalau saja dirinya tahu, bukan tidak mungkin pikirannya akan berkelana pada kemungkinan melakukan suatu kesalahan sehingga tidak mendapatkan balasan pesan.
“Lebih baik nggak tahu, mana aku anaknya sebetulnya overthinking dan perasa,” kata dia.
Hal serupa juga dialami Dhea (27). Ia mengaku harus melalui serangkaian tahapan sebelum mengirimkan balasan pesan. Ia terkadang harus memikirkan jawaban atau mengonfirmasi terlebih dulu kepada pihak lain soal pekerjaan tersebut.
Selama proses itu, Dhea tidak ingin pengirim pesan menunggu-nunggu jawabannya karena tahu pesannya sudah dibaca.
“Kadang suka mikir dulu jawabannya apa, kadang harus konfirmasi ke orang lain dulu. Nah selama nunggu itu, nggak kepengin lawan chat itu udah tahu kita udah baca,” kata Dhea.
Sayangnya, sikap berpikir panjang seperti ini malah disalahartikan kepada kepribadian yang buruk. The Guardian menunjukkan bagaimana gen Z terlebih dulu dicap “buruk”, padahal mencoba melakukan pekerjaan dengan cara berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Akan tetapi, itu juga yang seolah-olah membuat pekerja gen Z patut diberikan label tidak memiliki kepribadian yang “layak dipekerjakan”.
Sudah dicap buruk, pekerjaan malah masuk ruang pribadi dan memaksa gen Z mengalah
Untuk membatasi ruang pekerjaan dan personal, Dhea mengatakan, dirinya membedakan WhatsApp pekerjaan dan pribadi. Dhea mempunyai dua nomor WhatsApp berbeda, yakni business untuk kebutuhan pekerjaan dan satunya lagi untuk keluarga dan teman-temannya.
Untuk WhatsApp kerja, dia bilang, tidak mematikan tanda baca pesan. Rekan kerjanya dapat mengetahui kalau pesan mereka dibaca, serta akan segera mendapatkan balasan. Lain hal dengan WhatsApp personal yang dimatikan centang birunya.
“Yang WhatsApp business aku nyalain sih, aku nggak masalah centangnya nyala. Kalau yang pribadi aku matiin, kalau kerjaan aku nyalain,” kata dia.
Namun terkadang, pesan-pesan pekerjaan bukan tidak mungkin memasuki ruang personalnya. Pesan yang seharusnya dikirimkan ke WhatsApp business malah menyasar nomor pribadinya.
Maka, memutuskan tidak menyalakan centang biru adalah caranya membentengi diri.
“Eh, beberapa ada yang tahu nomor pribadiku,” kata dia.
Sementara itu, Salsa yang telah mencoba untuk bersikap tidak peduli justru tidak bisa bertahan lebih lama. Alasannya adalah kepribadian itu harus dinegosiasikan dengan kebutuhan kerja yang membuatnya mau tidak mau mengalah dengan menyalakan tanda baca pesan.
Sebagai pekerja yang berurusan dengan klien, dirinya memiliki kebutuhan agar pesannya segera dibalas. Setidaknya, ia harus mengetahui bahwa pesannya telah dibaca sehingga dapat melakukan follow up terhadap pesan-pesan yang tak dibalas.
“Aku dulu matiin,” aku dia.
“Tapi karena klienku nyebelin, jadi aku nyalain supaya tahu siapa yang belum balas,” ujarnya menambahkan.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
