ADVERTISEMENT

Pasar Kliwonan Cebongan: Surganya Barang Murah dan Aneh di Sleman Barat Meski Hanya Buka Seminggu Sekali

pasar kliwonan

Berburu barang murah dan antik di Pasar Kliwonan Cebongan. Selain menemukan barang-barang murah, saya menemukan beberapa barang aneh dan tak lazim dijual di pasar tradisional.

***

Minggu pagi saya kembali datang ke Pasar Kliwonan Cebongan bersama bapak. Ada sesuatu yang ingin saya ulang dari masa kecil: datang ke pasar yang hanya terasa benar-benar hidup ketika hari pasaran Kliwon tiba.

Dalam kalender Jawa, ada lima hari pasaran yang terus berulang, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Karena siklusnya lima hari, Pasar Kliwonan pun memiliki ritme yang berbeda dari pasar tradisional pada umumnya.

Ia tidak harus menunggu Senin sampai Minggu untuk hidup. Ia menunggu Kliwon.

Bagi saya, pola semacam ini justru menjadi keunikan tersendiri. Pasar Kliwonan Cebongan bukan sekadar tempat jual beli, tetapi bagian dari kebiasaan masyarakat yang masih mengikuti penanggalan Jawa dalam menentukan waktu berdagang.

Pemerintah Kabupaten Sleman juga pernah melakukan penataan terhadap pedagang klithikan dan pedagang unggas di kawasan Cebongan. Ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan semacam itu bukan sesuatu yang baru muncul kemarin sore.

Ketika saya datang, suasananya tidak banyak berubah dari masa kecil. Hanya saja sekarang terlihat lebih tertata. Pedagang tidak lagi sekadar menggelar terpal atau tikar secara acak seperti yang saya ingat dulu.

Ada area pakaian, unggas, hingga barang loakan dan barang antik. Bapak langsung menuju bagian terakhir. Tujuannya sederhana: mencari sadel sepeda.

Dari pasar kliwon ke pasar pahing dan wage

Keunikan pasar dengan sistem pasaran Jawa ternyata tidak hanya terletak pada kapan pasar itu ramai, tetapi juga pada mobilitas pedagangnya.

Saya bertemu Tukijo (45-an), penjual barang loakan yang sudah menjalani pekerjaan tersebut sejak 1998. Ia tidak hanya berjualan di Cebongan.

“Kalau Kliwon ke Cebongan, kalau Pahing ke Pasar Sleman, kalau Wage ke Pasar Tlogorejo,” katanya kepada saya, Minggu (20/9/2026).

Bagi Tukijo, pasaran seperti menjadi semacam jadwal kerja. Hari berbeda, tempat berbeda.

Barang dagangan yang dibawanya pun mengikuti perjalanan tersebut. Sebagian merupakan barang bekas yang ia peroleh dari pengepul di wilayah Seyegan.

“Saya jualan ya karena seneng srawung sama orang-orang saja, Mas. Nggak pernah ambil untung banyak,” ujarnya.

Saya kemudian menyadari bahwa pasar seperti ini tidak sepenuhnya bergantung pada bangunan pasar. Pedagangnya justru yang bergerak. Mereka mengikuti hari pasaran dan berpindah dari satu titik perdagangan ke titik lainnya.

Itulah yang membuat konsep pasar tradisional semacam ini berbeda dengan pasar modern yang menunggu pembeli datang setiap hari. Kendati, Pasar Cebongan adalah pasar tradisional yang juga buka setiap hari, namun ketika pasaran Jawa jatuh pada hari Kliwon, maka akan berbeda ceritanya.

Pasar yang isinya tidak bisa ditebak

Saya kemudian berkeliling sendirian karena bapak masih sibuk mencari sadel. Barang yang saya temukan justru semakin aneh. Ada mini compo, kaset bekas, lampu andong, batu akik, hingga berbagai barang loakan yang sulit ditemukan di toko biasa.

Di lapak Tukijo, saya bahkan menemukan Tamagotchi dan sempoa. Barang-barang tersebut mungkin sudah tidak memiliki fungsi penting bagi sebagian orang. Namun di pasar Kliwonan, benda-benda semacam itu masih menemukan pembelinya.

Saya lalu berpindah ke lapak pakaian bekas. Harganya mulai Rp5 ribu hingga sekitar Rp70 ribu. Celana jeans, jaket, topi, sampai topi yang digunakan untuk mencari lebah tersedia di sana.

Pasar tradisional semacam ini memiliki satu karakter yang sulit ditiru toko modern: pembeli tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan mereka temukan. Orang bisa datang mencari sadel sepeda, lalu pulang membawa pedal.

Kliwon bukan sekadar hari di kalender

Tidak jauh dari lapak pakaian, saya bertemu Wintolo (40-an), tetangga saya yang sedang membeli burung merpati. Beberapa burung yang baru dibelinya langsung dimasukkan ke kandang portable yang sudah ia bawa dari rumah.

“Di sini bisa ditawar, Mas. Rata-rata memang kualitasnya sudah teruji,” katanya.

Menurut Wintolo, pengalaman berbelanja di pasar seperti Cebongan membuatnya tetap datang meskipun pasar hanya ramai pada waktu tertentu.

“Meskipun hanya seminggu sekali, kalau beli barang atau hewan di sini jaminan tokcernya gede, Mas. Kemarin saya beli itik di sini juga baik-baik saja. Lampu dan alat elektronik juga awet, padahal harganya jauh murah daripada di toko-toko,” ujarnya.

Secara hitungan kalender Jawa, sebenarnya bukan “seminggu sekali”, melainkan mengikuti siklus lima hari pasaran. Namun bagi pembeli seperti Wintolo, yang penting adalah ritmenya: ia tahu kapan harus datang.

Ekonomi kecil di pasar kliwonan yang bertahan mengikuti pasaran Jawa

Saat menunggu bapak, saya berbincang dengan Saptono (50-an), salah seorang pengunjung. Menurutnya, harga murah dan kelengkapan barang menjadi alasan pasar semacam ini masih dicari.

“Kalau di sini lengkap, Mas. Mulai dari barang yang terbaru, keperluan rumah tangga, sampai kalau mau beli besi PLN juga ada,” katanya.

Ia juga melihat keberadaan pasar seperti ini dari sisi biaya berdagang. Saptono menilai pedagang yang berjualan secara tiban memiliki beban berbeda dibanding pedagang yang menetap di pasar.

Yang menarik justru sistem ekonominya. Pedagang tidak harus membuka lapak setiap hari. Mereka dapat mengikuti siklus pasaran. Pembeli pun tahu kapan harus datang.

Ini membuat pasar tradisional seperti Pasar Kliwonan Cebongan memiliki hubungan yang cukup unik dengan kalender Jawa. Lima hari sekali, aktivitas perdagangan yang sebelumnya tidak terlihat kembali muncul.

Ketika bapak akhirnya kembali, teori ekonomi kecil itu mendadak menjadi konkret. Ia membawa sadel sepeda, pedal, dan helm sepeda. Totalnya Rp100 ribu.

“Ini kalau beli di toko udah bisa Rp300 ribuan. Kan ngirit,” kata bapak.

Saya datang ke Pasar Kliwonan untuk mengingat masa kecil. Bapak datang untuk mencari sadel. Tetapi pasar itu kembali mengingatkan saya pada sesuatu yang lebih sederhana: tidak semua pasar harus buka setiap hari untuk tetap dibutuhkan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pasar Senthir Jogja, Surga Para Gen Z Pemburu “Harta Karun”: Outfit Seharga Jutaan Dibeli 10 Ribu Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version