ADVERTISEMENT

Lika-Liku Ojek Konser: Cuan Hampir Sejuta per Hari, tapi Dimusuhi Ojol dan Ojek Pengkolan Sekaligus

ojek konser, ojek online MOJOK.CO

Menjadi ojek konser itu cuannya besar, bisa tembus hampir Rp1 juta per hari. Masalahnya, mereka harus bersiap menjadi musuh bersama para driver ojol dan ojek pengkolan.

***

Semua bermula dari ketidaksengajaan Firman (28), sekitar dua tahun lalu. Setelah terkena badai PHK, ia punya banyak waktu luang. Saat ada konser besar di Jakarta, adiknya dan teman-teman adiknya sering meminta tolong untuk diantar-jemput menuju venue konser.

Firman yang sedang menganggur mengiyakan saja.

“Toh ada duitnya kan,” kata Firman, Rabu (7/10/2026).

Pekerjaannya pun baginya sangat “sepele”. Ia mengantar ke lokasi, menunggu sampai acara selesai, menjemput, lalu pulang ke rumah. Sebagai imbalan, sang adik biasanya sekadar mengganti uang bensin dan sesekali membelikan jajanan karena ia sudah mau repot-repot mengantar. 

Dari rutinitas inilah, Firman justru menyadari ada peluang uang yang sangat besar di sekitar lokasi acara.

Penderitaan penonton karena ojol suka getok harga

Firman melihat langsung bahwa kebutuhan transportasi setelah konser usai itu sangat masif. Puluhan ribu orang keluar dari tempat acara dalam waktu bersamaan. Mayoritas penonton enggan membawa kendaraan pribadi karena malas berurusan dengan parkiran yang semrawut. 

Akhirnya, mereka bergantung penuh pada transportasi daring. Sayangnya, mencari ojek online di pintu keluar konser susahnya minta ampun.

Keluhan soal ini sudah jadi rahasia umum. Pada acara Prambanan Jazz 2026 lalu, misalnya, linimasa media sosial penuh dengan amukan penonton. Mereka mengeluh kesulitan mendapat pengemudi di aplikasi, padahal di sekitar lokasi ada puluhan orang berjaket hijau yang sedang mangkal.

Usut punya usut, para pengemudi itu sengaja mematikan aplikasi. Mereka hanya mau menerima penumpang secara offline dengan harga yang dinaikkan berkali-kali lipat. 

Misalnya, kalau di aplikasi tarifnya cuma Rp30 ribu, mereka bisa menembak harga sampai Rp50 atau bahkan Rp70 ribu. Karena lelah dan kepepet, banyak penonton akhirnya menyerah dan terpaksa membayar mahal.

Saya sendiri pernah mengalami nasib serupa di Jakarta tahun lalu, dan Jogja baru-baru ini. Polanya sama persis. Pengemudi susah dicari, kemudian banyak yang menawarkan order secara offline saja, dan tentu dengan harga tidak masuk akal. 

Waktu itu saya memilih bertahan. Saya baru bisa mendapat pengemudi sesuai harga aplikasi setelah sabar menunggu hampir satu jam sampai tempat acara benar-benar sepi.

Sistem pesanan dan tarif ojek konser

Mendengar banyaknya keluhan penonton di media sosial, Firman mulai menyeriusi celah bisnis ini sejak setahun terakhir. 

Cara kerjanya pun cukup sederhana. Firman membuat poster digital yang mencantumkan nomor telepon, rentang harga yang pasti, dan metode pembayaran. 

“Kunci utama jasa saya itu ada di kepastian harga. Saya mematok tarif sesuai harga pasar, normal, tanpa akal-akalan menaikkan harga seperti ojol yang sengaja offline tadi,” jelasnya. 

Sebagai contoh, saat ada konser di Jakarta International Stadium (JIS) beberapa pekan lalu, ia mematok harga Rp30 ribu tujuan Tanjung Priok. Untuk tujuan Kelapa Gading harganya Rp35 ribu, sementara ke area Sunter cukup Rp25 ribu. 

Untuk mencari pelanggan, Firman rajin menyebar poster dan nomor ponselnya di kolom komentar akun-akun informasi konser.

Tembus sejuta sehari dan panen tip

Ternyata strategi ini laku keras. Setiap kali Firman menyebar poster, pesanan langsung masuk puluhan orang. Ia sampai sering merasa kewalahan dan terpaksa menolak beberapa penumpang.

“Menurut saya pribadi, jasa seperti saya ini digemari bukan karena harganya lebih murah saja. Para penumpang itu sudah terlalu malas, lelah kalau harus tawar-menawar dengan ojek online nakal, apalagi ojek pengkolan.” 

Menurutnya, kepastian harga membuat penumpang merasa tenang. Saking tenangnya, kalau kebetulan dapat penumpang yang royal, Firman sering diberi uang tip lumayan besar. 

“Bahkan kalau mujur dapat penumpang tajir, mereka sengaja membayar dua kali lipat dari tarif awal.”

Puncak keuntungannya terjadi saat konser The Weeknd beberapa waktu lalu. Dalam dua hari beroperasi, Firman berhasil meraup total pendapatan hampir Rp2 juta. Artinya, ia mengantongi uang bersih kira-kira sejuta per hari. 

Menjelang konser Avenged Sevenfold terdekat, Firman mengaku sudah mendapat pesanan dari 20 orang pelanggan, meskipun belum semuanya memberikan titik jemput pasti.

Ojek konser jadi “musuh bersama” di jalanan

Meski keuntungannya sangat menggiurkan, ia mengaku profesi ini punya risiko tinggi di lapangan. Firman memang hanya beroperasi saat ada konser. Itu pun tidak semua konser ia datangi karena sekarang ia sudah memiliki pekerjaan utama. 

Namun, setiap kali turun menjemput pelanggan, ia sering mendapat intimidasi dari oknum ojek online maupun ojek pengkolan setempat.

“Saya pernah diajak kelahi. Saya coba ladeni tapi dipisahkan sama satpam. Meski tetap merasa nggak enak sama penumpang sih,” kata dia.

Menurut Firman, ia sering dicap sebagai penyusup yang menyerobot jatah rezeki mereka. Padahal Firman sendiri sering kebingungan. Saat beroperasi ia tidak pernah memakai atribut khusus. Pakaiannya biasa saja seperti warga pada umumnya. 

“Tapi entah bagaimana, para oknum pengemudi itu tetap saja bisa mengenali saya,” katanya.

Sekarang, Firman melihat mulai banyak orang yang meniru jejaknya menawarkan jasa ojek konser secara daring. Alih-alih merasa tersaingi, ia malah santai saja. Toh, pekerjaan ini cuma buat tambahan sampingan. 

Menurut Firman, semakin banyak ojek konser dengan harga transparan justru semakin bagus. Dengan begitu, penonton yang sudah capek dan ingin segera pulang akhirnya dipermudah, bukan malah dipersulit dan diperas di jalanan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Magisnya Festival Musik di Jogja sekaligus Ujian bagi Penyelenggara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.