Bermodal Ilmu Perpustakaan dari bangku kuliah, Ari Setiawan (30), selaku relawan literasi membuat sebuah klub baca di Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Perempuan Kelas IIA Malang, sebagai sarana merefleksikan hidup.
***
Ari yang gemar membaca sejak usia 7 tahun seolah tumbuh dan berkembang bersama buku. Bahkan usai lulus SMA, ia memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan jurusan Ilmu Perpustakaan.
Setelahnya, pemuda asal Malang tersebut aktif sebagai penanggung jawab perpustakaan independen di Ruang Belajar Aqil sejak tahun 2018. Ruang Belajar Aqil sendiri merupakan lembaga non profit, sehingga upaya mewujudkan literasi ini dilakoninya secara sukarela. Sampai kemudian dia mendapatkan amanah sebagai Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional (Relima Perpustas) RI pada tahun ini.
Dari kegiatan relawan literasi tersebut, Ari berkesempatan untuk ikut layanan perpustakaan mobil keliling. Siapa sangka, mobil itu membawanya ke Perpustakaan Pengayoman yang ada di dalam Lapas Perempuan Kelas IIA Malang.
Melihat petugas mobil keliling yang hanya menyalurkan pinjaman buku ke lapas, Ari merasa tergelitik untuk membuat kegiatan semacam diskusi. Oleh karena itu, dia meminta izin ke petugas untuk membuat komunitas seperti klub baca buku di dalam lapas. Setelah 8 tahun melakukan kegiatan sukarela, Ari akhirnya mendapat insentif sesuai target capaian sekaligus dana pendukung untuk mewujudkan mimpinya.
Merintis klub baca di balik jeruji

Agustus lalu, Ari memulai audiensi dengan petugas Lapas Perempuan Kelas IIA Malang untuk membuat program klub baca, agar kegiatan di perpustakaan lebih hidup. Kegiatan ini sekaligus menjadi program Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional RI untuk merayakan Hari Literasi Internasional pada 8 September.
Rencananya, Ari bakal membuat 6 sesi kegiatan yang bersifat interaktif dengan alat pendukung yang terbatas, mengingat aturan ketat di lapas.
“Karena selama ini mereka cuma pinjam buku dan dibawa ke dalam blok hunian, aku jadi awkward untuk menjelaskan ke mereka soal kegiatan apa saja yang bisa dilakukan di klub baca,” kata Ari kepada Mojok, Selasa (6/10/2026).
Meski begitu, niat baik Ari untuk membuat kegiatan membaca sebagai sarana refleksi diri akhirnya terealisasi pada Oktober ini. Ari pun tak menyangkal ada beberapa tantangan yang harus dia hadapi selain menghadapi rasa groginya.
“Salah satunya, kemampuan membaca dan preferensi bacaan warga binaan yang berbeda-beda. Apalagi usianya juga beragam, mulai dari 23 sampai 60 tahun,” jelas Ari.
Namun, di luar ekspektasi Ari, sebagian warga binaan justru terlihat antusias saat dirinya memberikan donasi buku-buku baru. Ya, walaupun ada saja yang tidak terlalu semangat, tapi itu karena dia lebih suka buku nonfiksi bukan tidak suka membaca.
Upaya menjaga motivasi warga binaan

Jika motivasi dari warga binaan sudah ada, kini konsep kegiatan Ari yang menjadi tantangannya. Selama 6 sesi yang dilakukan hampir seminggu, Ari mengaku harus trial and error untuk menjaga semangat literasi warga binaan tetap menyala.
Di awal sesi misalnya, sebagian warga binaan masih sulit menangkap isi materi yang dijelaskan Ari dari buku novel terjemahan fiksi. Namun, Ari terus berbenah dengan mengulas buku bacaan berbeda, menambah konsep ice breaking, menampilkan video sebagai alat penunjang, bahkan menghimpun makanan yang relate dengan buku yang sedang dibahas.
“Karena di lapas ada kebijakan untuk membatasi kegiatan-kegiatan tertentu. Selain itu, kami tidak boleh membawa barang yang macam-macam. Jadi kegiatan yang memungkinkan adalah membaca, berdiskusi, dan menulis,” jelas Ari.
Siapa sangka, banyak warga binaan yang semangat mengikutinya. Kesan itu tertulis jelas pada note saran di sesi terakhir. Melihat respons tersebut, semangat Ari untuk mewujudkan budaya literasi semakin meningkat.
“Kehadiran perpustakaan dan klub baca buku di dalam lapas ini penting, terutama sebagai sarana rekreasi dan mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” ucapnya.
Pada akhirnya, tugas Ari di klub baca Perpustakaan Pengayoman Lapas Perempuan Kelas IIA Malang adalah mengawasi sesi, sekaligus menjadi jembatan bagi komunitas literasi di Malang yang ingin berkolaborasi atau melakukan giat membaca di lapas.
“Aku harap kegiatan awal ini bisa menjadi pembelajaran bagi pemerintah atau pihak berwenang untuk mengoptimalkan perpustakaan khusus, tidak hanya perpustakaan umum yang ada di luar. Seperti kegiatan yang sudah berlangsung di Perpustakaan Pengayoman Lapas Perempuan Kelas IIA,” tutur Ari.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan