Kapal Doulos Hope menawarkan daya tarik unik bagi wisatawan di Jakarta Utara, tak terkecuali bagi dua sahabat pensiunan pabrik yang ingin berburu ribuan buku di atas goyangan ombak, sembari bercengkerama menikmati senja.
***
Setelah 38 tahun berlalu, kapal Doulos Hope (dulu ‘Lady Sarah’) akhirnya kembali bersandar di kawasan Pelabuhan Kalibaru, Jakarta Utara. Namun pemberhentiannya hanya berlangsung selama hampir 4 pekan, yakni dari Rabu (16/9/2026) hingga Minggu (11/10/2026).
Kapal yang dulunya terkenal sebagai pesiar mewah ini, kini beralih fungsi menjadi perpustakaan maupun toko buku terapung sejak organisasi nirlaba GBA Ships membelinya.
Kapten Doulos Hope, Eymard Calibjo berujar kehadiran kapal bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap buku berkualitas, seiring dengan nama kapal tersebut yang berarti hamba pengharapan.
Melansir dari laman resmi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara, ia berharap masyarakat dapat menikmati buku, belajar hal baru bersama, dan membangun persahabatan melalui buku, percakapan, pertukaran budaya, serta kerja sama.
Begitu pula yang dialami dua lansia, Ani dan Sani, saat menikmati masa pensiunnya di atas kapal Doulos Hope. Menurut mereka, kehadiran kapal ini memberikan pengalaman baru bagi pengunjung untuk berburu buku internasional dan menikmati senja di atas kapal bergoyang.
Menjelajah buku di Doulos Hope bersama besti
Ani tampak sabar mengantre tiket Kapal Doulos Hope di Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU) dari pukul 13.00 WIB, meski pintu masuk baru akan dibuka pukul 13.30 WIB pada Jumat (9/10/2026). Sesekali ia duduk di trotoar dan bergantian dengan sahabatnya untuk mengantre.

Bagi Ani, perjuangan itu belum seberapa mengingat perjalanannya dari Bekasi menggunakan commuter line dan Transjakarta sejak pukul 11.00 WIB. Ia pun tak merasa bosan sebab ada sahabatnya, Sani, yang menemani.
“Awalnya aku lihat di TikTok terus lihat tiketnya murah banget, Rp15 ribu per orang. Waktu aku posting di medsos, si Sani tertarik dan minta diantar. Jadilah kami ke sini,” jelas Ani yang mengantre tiket bersama Sani tepat di belakang saya, Jumat (9/10/2026).
Padahal sehari sebelumnya, Ani sudah naik Kapal Doulos Hope sendirian. Namun, mumpung Sani tertarik dan ingin mengunjungi kapal buku tersebut, Ani pun bersedia menemani sahabatnya itu jalan-jalan.
“Aku mau lihat-lihat bukunya, kan ada banyak buku sama suvenir juga. Kayak di toko buku persis lah,” kata Sani.
Menurut Ani, suasana antrean untuk naik shuttle bus menuju Doulos Hope kemarin tidak seramai seperti sekarang. Bahkan dirinya bisa jalan-jalan ke sekeliling kapal tanpa harus berdesak-desakan.
“Ini mah penuh banget, mungkin hari terakhir anak sekolah juga ya. Kan besok libur, jadi penuh,” ujar Ani.

Meski begitu, keduanya tetap senang sebab selama 30 tahun kerja di pabrik, mereka jarang untuk menghabiskan waktu bersama. Oleh karena itu, kehadiran keduanya pun tak didampingi keluarga melainkan dua sahabat yang memang ingin nongkrong berdua.
“Kemarin-kemarin mah kagak menikmati, karena ya itu kerja satu minggu. Makanya setelah pensiun, hari Jumat saya estimasikan waktu untuk jalan-jalan bareng besti. Kadang-kadang jalan-jalan kalau pengen jalan,” tutur Sani.
Bercengkerama dan menikmati senja di atas kapal
Kapal Doulos Hope sebenarnya bukan destinasi wisata yang lumrah bagi Ani dan Sani. Sebagai warga Bekasi, keduanya lebih sering mengunjungi Kota Tua Jakarta hingga Ecopark Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 yang menyajikan miniatur kebudayaan serta landmark keagamaan dari berbagai negara di penjuru dunia.
“Kami ini suka makin ke tempat-tempat yang unik dan yang jelas tetap murah meriah,” kata Ani.
Unik bagi Ani, sebab dia jarang mengikuti pameran buku di atas kapal. Ada keseruan tersendiri bagi dia saat menyusuri rak-rak buku yang mana matanya harus fokus menyisir lebih dari 2 ribu buku internasional dengan berbagai genre, mulai dari sains, bisnis, agama, fiksi, hingga non-fiksi.
Sementara itu, tangannya bergantian mengambil dan membuka buku yang menarik perhatian dan kakinya harus seimbang menahan tekanan kapal yang bergoyang sesekali karena gelombang air. Setelah lelah melihat-lihat, keduanya memilih duduk di kafe sembari menikmati senja.
Selain itu, kapal yang dikelola oleh organisasi nirlaba GBA Ships ini juga memberikan pengalaman baru bagi Ani dan Sani untuk bercengkerama sekilas dengan kru kapal yang berasal dari luar negeri. Meski tak sepenuhnya bisa Bahasa Inggris, Ani dan Sani tetap percaya diri. Toh, momen utama yang mereka cari adalah menghabiskan waktu bersama.
Di atas gelombang air Pelabuhan Kalibaru tersebut, Doulos Hope berhasil menjadi tempat hangat untuk membangun persahabatan dan merayakan momen bersama.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan