Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi - dihajar realitas Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Kekerasan di Matraman adalah masalah struktural dari tersingkirnya masyarakat urban dari kontestasi ruang kota, dan premanisme yang dipelihara negara.

***

Minggu pagi di Jalan Tambak, kawasan perbatasan Menteng dan Matraman, seharusnya berjalan dengan tenang. Namun, pada 26 Juli 2026 kemarin, suasana damai pecah oleh raungan mesin sepeda motor.

Sebuah kelompok pemuda melintas sambil menggeber knalpot bising, tepat di samping gerobak nasi uduk. Teguran warga sekitar yang merasa terganggu tak disambut permintaan maaf. Mereka justru kembali beberapa saat kemudian bersama rombongan yang lebih besar, lalu mengamuk dan menghancurkan gerobak pedagang UMKM tersebut.

Aksi perusakan itu dengan cepat menyulut amarah warga lokal. Situasi memanas tanpa terkendali saat batu dan kayu mulai melayang di udara, kendaraan bermotor dibakar, dan kekerasan fisik tak lagi terhindarkan. 

Ketika asap mereda, dua orang dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Pemuda berinisial K (23) akhirnya mengembuskan napas terakhir. Polisi pun bergerak dan menetapkan tujuh orang tersangka. Empat pendatang dijerat pasal perusakan gerobak, sementara tiga warga setempat berstatus tersangka atas kasus pengeroyokan fatal. 

Desas-desus berbau etnis yang sempat liar di media sosial pun dipastikan hoaks oleh polisi dan perwakilan warga.

Kini, garis polisi sudah dilepas, dan situasi diklaim kembali kondusif. Namun, di balik peristiwa di Matraman ini, ada pertanyaan lama yang penting untuk dijawab: Mengapa gesekan antar-warga di akar rumput begitu gampang meledak menjadi tragedi berdarah antar-sesama kelas pekerja?

“Senjata wong kalahan” di balik kekerasan di Matraman

Melihat fenomena kekerasan ini, dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSDK) Universitas Gadjah Mada, Pinurba Parama Pratiyudha, mengajak kita melihat jauh ke balik riwayat bentrokan di tingkat tapak. 

Bagi Pinurba, pertikaian warga bukan cuma perkara watak temperamental, atau sekadar solidaritas kelompok. Ada persoalan struktur sosial yang jauh lebih dalam.

“Soal solidaritas, iya. Tapi yang lebih penting dicermati, di setiap konflik horizontal, ada persoalan struktural yang tak bisa dilepaskan darinya,” kata Pinurba, saat dihubungi Mojok, Senin (27/7/2026).

Pinurba teringat pada gagasan James C. Scott, ilmuwan politik dan antropolog legendaris, tentang weapons of the weak, atau “senjata orang-orang kalah”. Scott menggambarkan bagaimana masyarakat terpinggirkan yang tidak punya aset, modal, maupun akses kekuasaan, menciptakan cara-cara tersendiri untuk melawan dan mempertahankan eksistensi diri.

Di ruang sempit perkotaan, anak-anak muda dan warga miskin kota menghadapi dinding tebal yang sama. Ketika pintu lapangan kerja formal tertutup, pendidikan berkualitas tak terjangkau, dan fasilitas publik makin terbatas, aksi kekerasan dan rasa keberanian menjadi satu-satunya hal yang tersisa. 

“Di situlah penguasaan wilayah, simbol-simbol ketangguhan, serta solidaritas kelompok dijadikan modal untuk merasa berdaya dan diakui,” jelas Pinurba, meminjam penjelasan Scott, untuk membaca realitas di Matraman.

Namun, Pinurba menggarisbawahi adanya belokan yang ironis dalam konteks Indonesia. Jika dalam analisis Scott senjata kaum kalah diarahkan secara vertikal melawan tuan tanah dan pemilik modal, di jalanan perkotaan kita senjata itu justru berbelok menghantam sesama orang kalah di seberang jalan.

Mengapa warga lebih suka memukul ke samping, bukan ke atas?

Mengapa perlawanan itu bisa salah sasaran? Mengapa amarah orang miskin justru meletus ke samping, bukan ke atas?

Jawabannya bisa dilacak dari ruang remang kejiwaan masyarakat yang tertindas, sebagaimana pernah dibedah oleh Frantz Fanon dalam karya klasiknya, The Wretched of the Earth, yang mengurai bagaimana kekerasan struktural bekerja. Fanon mengamati bahwa orang-orang yang terus-menerus dihimpit tekanan ekonomi dan sosial menyimpan tensi otot serta ketegangan emosional yang tak pernah benar-benar mengendur.

Dalam keseharian warga miskin kota, rasa frustrasi dan harga diri yang terkikis menumpuk setiap hari. Mereka tahu ada yang salah dengan hidup mereka, tetapi sistem yang memiskinkan mereka sifatnya abstrak, berjarak, dan dibentengi oleh hukum serta aparat. 

Alhasil, menyerang ke atas jelas sangat membahayakan dan hampir mustahil dilakukan.

Namun, agresi yang menumpuk di dalam dada, seperti warga Matraman itu, butuh saluran keluar. Karena tidak bisa menembus benteng di atas, energi amarah itu memantul dan meleset ke samping.

Fanon menyebut gejala ini sebagai fratricidal fights, sebuah dorongan untuk bertengkar dan melukai saudara sendiri. Saat berhadapan dengan kekuasaan makro mereka tak berdaya, tetapi giliran bergesekan dengan sesama orang terpinggirkan, gesekan kecil bisa memicu kekerasan.

Inilah yang disebut kekerasan lateral. Rasa tidak berdaya akibat ketimpangan sosial akhirnya meletus pada tubuh orang yang paling mudah dijangkau dan paling rapuh untuk dilawan, yaitu tetangga mereka sendiri.

Impak sejarah premanisme yang dipelihara

Tentu saja, tensi otot dan amarah yang salah sasaran itu tidak meledak di ruang hampa. Di jalanan perkotaan Indonesia, kekerasan lateral bertumpu pada ekosistem premanisme dan politik ruang yang sangat nyata.

Ian Douglas Wilson, dalam buku Politik Jatah Preman, merekam bagaimana kontrol atas batas wilayah dan ekonomi informal bukanlah sekadar ruang kosong. Sebidang trotoar, area parkir, lapak pedagang, hingga jalur pengamanan lokal adalah sarana bertahan hidup. 

Di tengah absennya jaminan sosial dari negara, teritori adalah satu-satunya aset riil yang bisa diklaim, dijaga, dan diperebutkan oleh warga di tingkat tapak.

Menurut Wilson, di sinilah mekanisme kuasa lokal mengambil peran. Elit informal, patron politik, atau aktor-aktor yang memetik keuntungan dari ekonomi teritori kerap memelihara ketakutan akan kelangkaan. Narasi dibingkai dengan halus tapi mematikan, bahwa kelompok sebelah adalah ancaman langsung bagi piring nasi mereka.

Gesekan antar-individu di lapangan pun dengan mudah dibakar menjadi siklus kekerasan dan perang eksistensi kelompok. Warga diprovokasi untuk merasa bahwa satu-satunya cara bertahan hidup adalah dengan menundukkan kelompok lain.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Merantau di Manggarai Jakarta Selatan Artinya Hidup Sambil Memelihara Ketakutan, Hidup Susah, dan Terancam Tawuran yang Bisa Terjadi Kapan Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version