ADVERTISEMENT

Gen Z Suka Jajan buat Self-Reward, Memang Redakan Stres tapi Harus Sadar Ancaman Finansial Masa Depan

Jajan makanan favorit jadi self-reward terbaik Gen Z ketimbang beli barang mewah. Tapi tetap bisa jadi ancaman finansial MOJOK.CO

Alih-alih belanja barang mewah, jajan makanan favorit lah yang menjadi self-reward terbaik bagi sebagian banyak Gen Z di Indonesia. Namun, dorongan konsumsi yang tidak terkendali dengan dalih apresiasi diri justru bisa menjadi ancaman finansial di masa depan. 

***

Self-reward (menghadiahi diri sendiri) memang menjadi kebiasaan yang dekat dengan Gen Z. Biasanya untuk meredakan rasa lelah, tekanan pekerjaan, stres, kejenuhan. Selain itu, self-reward juga menjadi ekspresi kebahagiaan usai mencapai sesuatu. 

Begitulah temuan dalam riset yang dilakukan oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) UGM, yang terdiri dari Rodiyyah Nurul Adawiyyah, Anggita Rasya Ananta, Ardhia Revalina Asyifa, Kadja Elyoenai Kale Lado, dan Zahrotuz Zakiyah. 

“Dari temuan kualitatif, kami melihat bahwa keputusan self-reward bisa muncul sebagai respons terhadap perasaan yang sedang dialami, sehingga konteks emosional menjadi hal yang penting untuk dipahami ketika membicarakan perilaku konsumsi,” ungkap Anggita dalam keterangan tertulis resmi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (8/9/2026). 

Jajan makanan favorit jadi self-reward terbaik Gen Z ketimbang belanja barang mahal

Bentuk self-reward di kalangan Gen Z memang beragam: dari membeli makanan favorit, mencoba minuman yang sedang tren, berbelanja pakaian, hingga membeli produk yang sudah lama diinginkan. 

Dalam riset Tim PKM-RSH UGM yang melibatkan  384 responden Gen Z, ditemukan fakta bahwa ternyata makanan favorit menjadi bentuk self-reward yang paling banyak dipilih. 

Tercatat, sebanyak 42 persen responden menggunakan makanan sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri, disusul pembelian barang sebesar 33,5 persen, dan bentuk self-reward yang tidak melibatkan pembelian barang sebesar 24,5 persen. 

Konten komersial dan kemudahan transaksi digital jadi pengaruh besar

Anggit menjelaskan, riset tim menemukan pola bahwa secara umum dorongan self-reward di kalangan Gen Z juga dipengaruhi oleh dua hal: kemudahan transaksi digital dan konten komersial.

Di era mobile banking dan QRIS seperti sekarang, seseorang menjadi lebih mudah untuk membeli sesuatu.​​ Sementara konten rekomendasi produk, tren, promosi, dan berbagai bentuk konten komersial lain yang bertebaran di media sosial maupun platform digital tidak pelak membuat Gen Z lapar mata. Kondisi tersebut dinilai membuat dorongan membeli sesuatu untuk self-reward menjadi lebih besar dan bisa sewaktu-waktu. 

Saking kuatnya, hasil riset menunjukkan bahwa memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan saja belum tentu membuat seseorang terbebas dari pembelian impulsif. Seseorang dapat memahami pentingnya menyusun anggaran, menabung, serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Tetapi keputusan konsumsi tetap dapat dipengaruhi oleh dorongan untuk memperoleh kepuasan secara cepat. 

“Literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung,” ucap Anggita. Di titik inilah kemampuan mengendalikan dorongan menjadi bagian penting dalam mengelola self-reward

Self-reward Gen Z bisa jadi ancaman finansial

Atas temuan tersebut, Anggita dkk kemudian melihat bagaimana self-reward bisa berubah dari bentuk menghadiahi/mengapresiasi diri sendiri menjadi ancaman finansial

Pasalnya, jika pembelian terjadi berulang kali dengan alasan meredakan lelah atau stres, self-reward bisa berpotensi berkembang menjadi kebiasaan konsumtif karena kepuasan sesaat terus dicari melalui transaksi. Oleh karena itu, Anggita dkk memandang batas antara apresiasi diri dan perilaku konsumtif perlu dilihat dari kemampuan seseorang mempertimbangkan kondisi finansial serta kebutuhan di masa depan.

Toh bentuk self-reward pada dasarnya tidak hanya berhenti pada aktivitas transaksi. Busa juga dilakukan dengan beristirahat, menjalankan hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat. 

Dengan memahami pola self-reward, Gen Z bisa terbantu untuk melihat kembali hubungan antara kondisi emosional, keputusan konsumsi, dan perencanaan keuangan. Apresiasi terhadap diri sendiri tetap dapat dilakukan, tetapi keputusan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks kebutuhan yang lebih panjang. Sebab, kemampuan menikmati hasil usaha sekaligus menjaga kondisi finansial juga merupakan bagian dari cara menghargai diri sendiri secara lebih berkelanjutan. 

Self-reward tetap boleh dilakukan, tetapi bentuknya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Menghargai diri sendiri juga berarti memastikan keputusan hari ini tidak menjadi beban bagi diri kita di masa depan,” tegas Anggita. 

Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)

BACA JUGA: Selalu Pelit ke Diri Sendiri demi Hidupi Keluarga, Tiap Mau Self Reward Pasti Merasa Berdosa padahal Tak Seberapa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.