Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Ilustrasi - Potret kumpul keluarga saat mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Addin (25) adalah salah satu mahasiswa UGM yang akan melakoni mudik menggunakan kereta api dari Jogja ke kota asalnya. Meski baru bisa berangkat pada hari Lebaran, ia tidak masalah demi bisa mengejar momen kumpul keluarga. 

Karena kuliah, kehabisan tiket kereta api

Perebutan (war) tiket kereta api Indonesia (KAI) sudah berlangsung jauh-jauh hari. Sebagian orang telah mengamankan tiket perjalanan, bahkan tiket pulang pergi, untuk mudik.

Namun sebagian lagi, baru bisa membeli tiket setelah memastikan jadwal mereka telah “aman”. 

Itulah yang dialami Addin, mahasiswa UGM, yang terlambat membeli tiket karena belum bisa memastikan jadwal perkuliahannya saat orang-orang telah berebut tiket KAI. Ia belum mendapatkan informasi pasti kapan perkuliahan akan dilakukan secara daring dan diliburkan. Karena itu, Addin merasa was-was.

Mengingat statusnya sebagai mahasiswa yang harus mengutamakan kuliah, Addin tidak bisa menentang jadwal perkuliahan yang mengharuskannya masih berada di Jogja alih-alih mudik ke kota asalnya di Kediri.

“Awalnya mau pulang tanggal 14, tapi takut perkuliahan masih masuk,” kata Addin kepada Mojok, Selasa (10/3/2026) lalu.

“Karena saat itu edaran perkuliahan daring belum ada,” kata Addin menambahkan.

Alhasil, Addin harus memundurkan tanggal mudik. Padahal, ia telah kalah dengan beberapa pejuang KAI yang lebih dulu membeli tiket kereta api untuk mudik, mendahuluinya yang baru membeli tiket pada Februari lalu setelah pertimbangan panjang, seperti harga tiket yang lebih murah saat promo. 

“Karena saat pembelian tiket kereta ekonomi di awal Februari kemarin mayoritas sudah sold, hanya ada di tanggal 14 dan 20 itu saja,” katanya.

Masalahnya, tanggal 14 Maret bisa jadi masih ada kuliah. Sementara itu, tanggal 20 Maret adalah hari Lebaran. Namun mau tidak mau, Addin memutuskan untuk mengambil tanggal mudik tepat pada hari Lebaran.

“Akhirnya ambil tanggal 20 itu,” kata Addin pasrah.

Mudik pada hari Lebaran versi Jogja

Mengambil tanggal yang sama dengan hari Lebaran, Addin sudah tahu kalau risikonya. Ia bisa jadi akan melewatkan hari raya itu sendiri, terutama jikalau hilal sudah terlihat dan Idulfitri diumumkan jatuh bersamaan pada 20 Maret 2025.

“Meskipun mepet Lebaran dan risikonya sudah masuk Lebaran pemerintah kalau ternyata puasa hanya 29 hari dan hilal sudah terlihat,” ujar Addin.

Di Jogja, Addin bilang, mayoritas sudah pasti akan merayakan Lebaran. Ia bisa jadi akan meninggalkan Jogja dalam perayaan tersebut. 

“Aku baru bisa pulang H-1 Lebaran versi pemerintah, yang kalau di Jogja itu mayoritas sudah masuk Lebaran,” katanya.

Jadilah, ironisnya, di pagi hari, saat orang-orang pergi untuk salat Id ke masjid, Addin akan menempuh arah berbeda. Ia akan pergi ke stasiun untuk mudik.

Rela mudik mepet demi kumpul keluarga

Namun demikian, Addin mengaku tidak masalah dengan konsep melawan arus saat mudik Lebaran ini. Perempuan asal Kediri ini mengatakan, perjalanan mudik Lebaran selama 5 jam yang akan ditempuhnya bernilai setara dengan mengejar momen kumpul keluarga yang masih memungkinkan ia rasakan di rumah.

Meski tentu saja, beberapa momen akan terlewatkan.

“Pas sampai rumah sih, pastinya aku melewatkan persiapan Lebaran yang cukup meriah di daerahku,” kata Addin.

“Karena masyarakat di daerahku menyambut Lebaran dengan gotong-royong membersihkan jalan-jalan, menghiasnya dengan bendera-bendera. Bahkan, lampu-lampu cantik. Mereka juga biasa membersihkan dan mempercantik rumah,” kata dia menambahkan.

Akan tetapi, setidaknya, mudik Lebaran kali ini berarti Addin masih bisa menemui orang tua dan keluarga kembali. “Aku memutuskan untuk tetap pulang demi bertemu orang tuaku dan keluarga, meskipun mungkin sudah masuk masa Lebaran,” kata dia.

Menurutnya, merayakan Lebaran bersama keluarga adalah pilihan terbaik. Addin juga tidak menampik kalau dirinya mempunyai opsi lain untuk Lebaran bersama teman-teman di Jogja, akan tetapi keluarga di Kediri masih menjadi tujuannya untuk menyambut Lebaran bersama.

“Jujur, merasakan Lebaran bersama keluarga masih menjadi pilihan, meskipun ada pilihan lain untuk tetap tinggal di Jogja dan berlebaran bersama teman-teman,” tandasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version