Membuka bisnis cleaning service mulanya tak terpikirkan oleh Nova Purnama Putra (36) setelah lulus SMK di Jogja. Nova yang merasa bosan dengan pekerjaannya sebagai teknisi mesin, akhirnya memilih jalan lain untuk berbisnis, hingga mampu mengirim sejumlah pegawainya sampai ke Turki.
Lulusan SMK bukan berarti tak mampu menganalisis pasar
Tahun 2023, ketika gonjang-ganjing pandemi mulai mereda, muncul secercah harapan bagi Nova untuk membuka usaha cleaning service. Tepatnya, ketika kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tak lagi berlaku.
“Saya pernah kerja di Go-Clean dan dibayar Rp20 ribu per jam, tapi tahun 2020 usaha itu bangkrut,” ujar Nova kepada Mojok, Selasa (28/7/2026).
“Setelah saya pelajari kebutuhan pasar lebih lanjut, justru banyak orang yang mulai sadar akan pentingnya kebersihan pasca pandemi,” lanjutnya.
Selain itu, jelas Nova, masih banyak sumber daya manusia di Jogja yang mau melamar sebagai petugas cleaning service. Beberapa bisnis serupa pun mulai bermunculan, setelah Go-Clean sebagai pencetus usaha tersebut tutup dan meninggalkan pasar yang cukup bagus.
Sebagai lulusan SMK, Nova masih mampu menganalisa bahwa faktor dari kegagalan tersebut salah satunya karena ketidakselarasan waktu yang mengubah perilaku konsumen.
Oleh karena itu, meski pernah mencoba membangun bisnis serupa dan gagal di tahun 2019, Nova tetap memilih membangun “Ready Clean Jogja” miliknya. Bahkan dia berani mengklaim, layanan jasa kebersihan panggilan miliknya itu merupakan yang pertama di Jogja.
Buka jasa kebersihan panggilan setelah lulus SMK
Analisis dari lulusan SMK itu terbukti benar. Pada bulan-bulan pertama, Nova hampir tak pernah sepi pelanggan. Setidaknya, selalu ada sekitar 20 pesanan yang masuk tiap bulan.
Nova yang mulanya mematok harga Rp39 ribu per jam untuk jasa cleaning service-nya, kini punya standar harga yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan pelayanan dan paket yang dia berikan.
Untuk paket kost, mulai dari pembersihan kamar, kamar mandi, vakum, hingga kasur, Nova mematok harga Rp50 ribu per jam. Sementara paket rumah dia patok harga Rp78 ribu, dan paket bulanan untuk 4 kali kunjungan dipatok harga Rp300 ribu.
“Untuk omzetnya sedikit kok, hindari pajak hehehe. Kira-kira Rp50 juta sampai Rp70 juta per bulan,” ungkap lulusan SMK tersebut.
Pengalaman bersihkan rumah pelanggan hoarding disorder
Tak hanya sukses menghasilkan cuan, Nova berujar pengalamannya selama 3 tahun sebagai pemilik Ready Cleaning telah menghasilkan banyak pembelajaran dari cerita para pelanggan dan karyawannya.
Misalnya, dia pernah mendapatkan pelanggan yang mengalami hoarding disorder, suatu gangguan mental yang membuat seseorang merasa sulit membuang atau berpisah dari barang-barangnya. Alhasil, barang di dalam ruangannya menumpuk secara tidak teratur.
“Pelanggan ini cewek, dia benar-benar tidur di antara sampah makanan. Bahkan mohon maaf, dia tidur di antara sejumlah bekas pembalut yang sudah kering. Belatung itu sampai mati kering di kamarnya. Saya sampai harus menyediakan 7 trash bag besar,” tutur Nova.
Tak berhenti sampai di situ, setelah menyelesaikan tugasnya, perempuan tersebut justru menuduh Nova mencuri emas dan tas merk Louis Vuitton. Sebagai lulusan SMK, Nova tidak akan mudah tertipu.
“Pagi-pagi, sekitar subuh, aku minta kami bertemu di Polsek tapi dia nggak berani. Singkatnya, dia sudah kasih bintang satu ke aplikasiku,” kata Nova.
Memanfaatkan relasi dengan sarjana muda, walau lulusan SMK
Nova pun belajar bahwa skill utama yang seharusnya dimiliki petugas cleaning service tidak sekadar jago bersih-bersih, melainkan public speaking dan jago dalam membangun kepercayaan terhadap pelanggan, agar tidak dituduh maling seperti kasus pelanggan hoarding disorder tadi.
Selain membantu mengatasi permasalahan, skill tersebut rupanya juga membawa peluang yang tidak diduga. Lewat relasi dengan pelanggannya dulu, Nova mendapatkan tawaran kerja sama dengan Edrea Global.
“Sebelumnya aku memang kenal dengan pemilik Edrea Global ini waktu dia kuliah di Jogja. Dia pernah jadi pelangganku sejak aku kerja di Go-Clean dan rasanya sudah seperti saudara sendiri,” ucap Nova.
Sebagai informasi, Edrea Global merupakan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang membantu menyalurkan tenaga kerja ke luar negeri khususnya Turki.
Lewat kerja sama tersebut, Nova bisa memberangkatkan pegawainya sebagai pekerja perhotelan di Turki. Syaratnya pun sederhana, boleh dari lulusan SMK tapi mereka harus menjalani pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) maupun agensi terkait.
“Pendapatannya dipotong Rp1 juta per bulan untuk biaya sekolah di LPK, pengurusan visa, dan lain-lain,” kata Nova.
Tak hanya membangkitkan semangat lulusan SMK, Nova berharap peluang ini dapat mengubah stigma Sarjana muda. Di usia yang masih produktif, kata Nova, cobalah segala peluang yang ada karena kesempatan dapat datang dari berbagai cara, bahkan di waktu yang tidak kita sangka.
“Banyak pelamar kerja di Ready Clean Jogja, terutama yang masih muda dan berlabel ijazah kuliah merasa kecewa (hopeless dengan jenjang kariernya). Saya justru berharap, dengan adanya kesempatan kerja di luar negeri ini, mereka tidak berhenti bertugas di lapangan karena tentu ada kenaikan pangkat. Misalnya, bisa bekerja di perhotelan luar negeri,” tutur lulusan SMK tersebut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Lulusan SMK “Hanya” Jadi Karyawan Alfamart dan Indomaret: Sekolah Harus Tetap Bangga, Karena Sukses Tak Dilihat dari Status atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














