Di Surabaya raya sampai ada guyonan begini: Kalau dari Surabaya ke Krian Sidoarjo itu jauh. Tapi kalau dari Krian ke Surabaya itu dekat. Untuk menggambarkan betapa sering kali orang Surabaya ogah betul kalau harus ke Krian—untuk sekadar nongkrong, COD, atau urusan-urusan lain.
Keogahan itu beralasan. Jalanan Krian dikenal bak jalanan dalam film Mad Max: Jalur utama truk-truk tronton dengan muatan besar berlalu-lalang, bus-bus jalur selatan yang dikenal ugal-ugalan, berdebu, macet, dan jelas panasnya menyengat sekali. Truk-truk besar itu juga memicu kerusakan jalan. Sehingga agak effort memang untuk mobilitas sehari-hari.
Belum lagi, mirip dengan Surabaya, daerah ini juga masih rawan kasus curanmor. Walaupun Polresta Sidoarjo memang sudah melakukan upaya memperketat keamanan.
Dan kalau curah hujan tinggi, ada sejumlah titik di Krian yang kerap terendam banjir. Membuat Krian makin hilang dari radar “rekomendasi daerah yang enak ditinggali”.
Namun, bagi narasumber Mojok, Krian Sidoarjo bukan hanya tentang cap “bobrok”. Daerah ini memiliki sisi-sisi yang sebenarnya membuatnya tetap enak untuk ditinggali.
Desa di Krian Sidoarjo: saling peduli tapi tak saling langgar privasi
Sayangnya, banyak orang hanya melihat Krian dari luarnya saja: jalur utama penuh truk yang panas dan berdebu. Padahal, situasi di dalam desanya berbeda. Begitu kata Karima (27), perempuan asli Krian Sidoarjo.
Pertama, masih banyak desa dengan nuansa hijau. Tentu memberi kesejukan tersendiri di tengah panas abnormal Surabaya Raya.
Kedua, ada perpaduan unik dalam kehidupan sosial desa di Krian. Tidak seperti desa-desa di pelosok kabupaten: terlalu banyak pajak sosial dan sering kali antarwarga saling menggunjing satu sama lain. Tapi juga tidak terlalu “kekota-kotaan”.
“Jadi antarwarga tetap saling ramah. Saling berinteraksi sosial. Tapi nggak yang sampai mengusik urusan orang lain,” ungkap Karima, Rabu (4/1/2026).
“Misalnya, kalau ada tetangga beli motor baru. Sesederhana itu kalau di desa kabupaten, kata beberapa teman, pasti jadi bahan gosip. Di desa Krian, beli motor ya beli motor aja,” sambungnya.
Contoh lagi yang paling dekat dengan Karima: rumahnya kerap menjadi titik kumpul teman-temannya. Entah untuk reuni atau sekadar main. Tidak hanya perempuan, tapi banyak juga laki-laki. Itupun sering kali ngumpul di malam hari.
Kalau di desa kabupaten, sudah pasti si pemilik rumah mendapat cap “urakan”. Masa anak perempuan ngumpulnya sama laki-laki. Malam-malam pula. Tapi kalau di desa Karima, orang tidak akan sejauh itu mencampuri, sepanjang tidak berbuat menyimpang.
Jalanan padat, tapi aksesibel ke banyak fasilitas
Jalanan Krian Sidoarjo memang padat. Tapi sejak kecil tinggal di sana membuat Karima berpikir sekian kali untuk pindah ke daerah lain. Itu karena akses ke sejumlah fasilitas yang amat mudah.
Keluar dari desa dikit, Karima sudah bisa menemukan aneka pertokoan (dari konvensional hingga modern), pasar, sentra kuliner, hingga fasilitas vital seperti rumah sakit.
“Tinggal di desa tapi tetap bisa merasakan fasilitas memadai di kecamatan. Nggak kayak desa-desa di kabupaten kecil lain: mana ada kecamatan dengan fasilitas lengkap dan sememadai itu,” tutur Karima.
Krian juga menjadi jalur perlintasan kereta api. Kian memudahkan untuk bepergian.
Titik tengah yang menguntungkan
Bagi Karima, Krian ibarat titik tengah dan penghubung. Kalau mau healing, hanya berjarak satu jam sudah bisa ke Pacet, Mojokerto.
Kalau mau menikmati nuansa kota dan mengakses pendidikan tinggi, jarak ke Surabaya tidak terlalu jauh. Ke Gresik dekat, ke Jombang juga dekat. Rasanya tidak jauh dari mana-mana.
“Memang, air sungai di Krian itu keruh. Itu juga membuat orang ogah tinggal di sini sekalipun aksesnya gampang. Tapi, sumber air tanah di sini melimpah. Seperti rumahku, aku pakai sumur sendiri. Jadi nggak harus bergantung pada PDAM,” tutur Karima.
Ijazah SMA/SMK cukup bernilai di Krian Sidoarjo
Sementara Argo (24) mengajak melihat Krian Sidoarjo dari sisi pragmatis-ekonomisnya. Baginya, tidak terlalu susah mencari pekerjaan di sana, terutama bagi lulusan SMK sepertinya. Sebab, ijazah SMA/SMK masih sangat bernilai di sini.
“Aku dan sejumlah teman lulusan SMK atau SMA, pakai modal ijazah itu bisa gampang kok cari kerja. Ya pabrik lah rata-rata. Tapi kan lumayan dapat gaji UMK kurang dikit,” ucap Argo. Kalau UMK tahun 2026 adalah Rp5 juta sekian, ya Rp4 jutaan masih bisa Argo dapat lah.
Ini bisa dikonfirmasi. Berdasarkan catatan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sidoarjo, Krian memang masuk dalam Ring 1 Kawasan Industri Utama, didominasi industri manufaktur (padat karya). Data BPS Kabupaten Sidoarjo dalam laporan Kecamatan Krian Dalam Angka, bahkan menyebut sektor industri tersebut merupakan penyumbang lapangan kerja terbesar bagi penduduk lokal.
Salah satu bukti keterserapan kerja itu bisa dilihat dari aktifnya Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah-sekolah menengah kejuruan (SMK) di Krian Sidoarjo. Kalau merujuk Laporan tahunan dari SMK Negeri 1 Krian dan sejumlah sekolah kejuruan lainnya, tercatat 80% lulusan mereka bisa langsung terserap di industri setempat.
Sebanyak 60% penduduk usia produktif memang terserap di pabrik-pabrik besar. Sementara 40% sisanya terserap di sektor perdagangan dan jasa.
“Makanya banyak orang luar daerah, yang cuma modal ijazah SMA/SMK, larinya (cari kerja) di sini,” tutur Argo.
Biaya hidup: debatable!
Argo, sebagai warlok, mengaku agak bias kalau berbicara soal biaya hidup. Sebab, paling tidak ia tidak punya beban untuk menyewa kos.
Namun, ia bisa memastikan kalau banyak kos di dekat-dekat pabrik yang agak masuk desa-desa masih menyediakan harga sewa murah. “Aku punya kenalan dari Jawa Tengah, dapat kos Rp350 ribu udah bagus kok,” ungkap Argo.
Selain itu, kalau mau mencari makanan murah di Krian Sidoarjo juga masih melimpah. Ngopi pun paling cukup mengeluarkan Rp4 ribu sampai Rp5 ribu di warung-warung kopi girasan.
“Budaya sini kan emang bukan ngafe. Tapi warkop,” ujar Argo.
Untuk urusan perut, menurut Argo, relatif tidak terlalu menguras isi dompet. Tapi kalau lain-lain, memang harus pintar-pintaran memilih. Misalnya, biaya servis motor di Krian Sidoarjo mirip-mirip dengan Surabaya: agak nggak ngotak jika dibandingkan dengan Mojokerto atau Jombang atau bengkel di kabupaten-kabupaten kecil lain.
Religiusitas masih kuat
Bagi orang yang lebih nyaman tinggal di lingkungan agamis, bagi Argo, Krian Sidoarjo sangat cocok untuk ditinggali. Sebab, sekeras apapun gambaran tentang Krian, tapi masih banyak orang yang memegang erat-erat aspek religiusitasnya.
“Misalnya di desaku, pengajian, salawatan, ibu-ibu Muslimat berseragam hijau-hijau, gampang banget ditemui. Musala ada di mana-mana, pesantren juga lumayan,” kata Argo.
Berdasarkan data dari Kemenag Kabupaten Sidoarjo dan profil kecamatan, terdapat sekitar 12 hingga 15 pondok pesantren yang terdaftar secara resmi dan aktif di wilayah Kecamatan Krian. Nuansa adem ala “Kota Santri” bisa menjadi oase tersendiri bagi orang-orang yang ingin hidup berdampingan dengan kultur keislaman.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, Tipuan Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
