Bagi mahasiswa perantau di Jogja, memilih kos-kosan bukan cuma soal mencari tempat tidur. Di Jogja, lokasi kos seringkali menentukan bagaimana caramu menghabiskan malam, dengan siapa kamu bergaul, dan seberapa tenang hidupmu sebagai mahasiswa.
Lian (22), misalnya, seorang mahasiswa UNY angkatan 2022, punya pengalaman yang cukup kontras soal ini. Dalam tiga setengah tahun masa kuliahnya, ia sudah mencicipi dua kutub kehidupan kos yang sangat berbeda: kemewahan yang bebas di Babarsari dan kesederhanaan yang tenang di Pogung.
Tergiur label “bebas” di Babarsari
Cerita dimulai pada tahun 2022. Sebagai mahasiswa baru yang sedang semangat-semangatnya mengeksplorasi dunia kampus, Lian tergiur dengan cerita kakak tingkatnya tentang kawasan Babarsari. Di sana, ada sebuah kos berlabel “LV” alias free atau bebas.
Bagi Lian yang saat itu ingin merasakan hidup mandiri tanpa aturan yang mengekang, kos ini terdengar seperti surga. Ia pun menyewa satu kamar dengan harga Rp1,2 juta per bulan. Fasilitasnya tergolong mewah untuk ukuran kantong mahasiswa: kamar mandi dalam, kasur empuk, lemari besar, dan AC yang membuat udara Jogja yang panas jadi tak terasa.
“Dulu alasannya sederhana, pengin bebas saja. Katanya di situ nggak ada jam malam, nggak ada bapak kos yang tinggal bareng, dan bisa bawa teman siapa saja tanpa dipelototi tetangga,” kenang Lian, Rabu (11/2/2026).
Namun, bayangan indah itu cuma bertahan enam bulan. Lian, yang dasarnya mengaku “anak baik-baik saja” dan cukup taat beribadah, mulai merasa ada yang salah dengan pilihannya. Kebebasan di Babarsari ternyata punya sisi gelap yang tidak ia bayangkan sebelumnya.
Sisi lain kos di “Gotham City”
Babarsari memang punya julukan “Gotham City” di kalangan mahasiswa Jogja. Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal “keras” dengan tingkat kriminalitas dan keributan yang cukup tinggi. Bagi Lian, masalahnya bukan pada keributan di jalan raya, tapi justru di dalam lingkungan kosnya sendiri.
Karena sifatnya yang bebas, tetangga kos Lian sering membawa teman-teman mereka untuk berpesta.
“Masalahnya bukan mereka mabuk secara diam-diam. Tapi sering banget mereka teriak-teriak sampai jam tiga pagi. Saya yang butuh istirahat buat kuliah jam tujuh pagi jadi sering begadang karena terganggu,” kata Lian.
Kekacauan itu tidak berhenti di suara bising. Lian bercerita betapa risihnya dia ketika menemukan bekas alat kontrasepsi dibuang sembarangan di tempat sampah depan kamarnya.
Belum lagi urusan jemuran. Karena jemuran digunakan bersama, Lian sering merasa canggung ketika harus menjemur baju di samping pakaian dalam perempuan milik tamu-tamu penghuni kos yang menginap berhari-hari.
Puncaknya adalah saat orang tua Lian datang menjenguk. Tanpa sengaja, orang tuanya melihat pemandangan yang dianggap tak pantas di lingkungan kos tersebut.
“Waktu itu orang tua langsung menganggap saya sudah ikut pergaulan bebas. Padahal saya cuma tinggal di sana, nggak ikut-ikutan. Semua penjelasan saya nggak mempan, dan hari itu juga saya disuruh cari kos lain,” akunya.
Memutuskan pindah ke kawasan “labirin” Pogung
Tahun 2023, atas rekomendasi teman di UKM, Lian pindah ke kawasan Pogung. Pogung adalah wilayah yang sangat unik. Terletak di dekat kampus UGM, daerah ini terkenal sebagai “labirin” karena jalannya yang bercabang-cabang dan banyak portal yang ditutup saat malam hari.
Mahasiswa baru atau ojek online sering kali nyasar di sini jika tidak teliti melihat maps.
Namun, di balik kerumitan jalannya, Pogung menawarkan atmosfer yang jauh berbeda dengan Babarsari. Lian menemukan sebuah kos sederhana dengan harga hanya Rp500 ribu per bulan. Kalau dibayar tahunan, harganya cuma Rp5 juta. Sangat murah, tapi fasilitasnya tentu jauh di bawah kos lamanya.
Kamar Lian sekarang hanya berukuran 2×3 meter. Isinya kosong melompong saat pertama ia datang. Tak ada AC, hanya ada satu lubang ventilasi kecil dan kipas angin yang ia beli sendiri. Kamar mandinya pun harus berbagi dengan penghuni lain.
Menemukan ketenangan di kos 2×3 meter di Pogung
Anehnya, di kamar yang sempit dan sederhana ini, Lian justru merasa jauh lebih bahagia. “Di sini saya bisa tidur nyenyak. Nggak ada suara orang mabuk, nggak ada keributan nggak jelas,” tuturnya.
Meski kamarnya kecil, Lian merasa lingkungannya jauh lebih sehat bagi kesehatan mentalnya. Karakteristik Pogung yang dihuni banyak mahasiswa “alim” membuat Lian merasa menemukan dunianya.
Di sini, nilai-nilai kesopanan masih dijaga. Tidak ada lagi pemandangan jemuran yang membuat risih, dan tidak ada lagi sampah-sampah yang mengganggu pemandangan.
Interaksi dengan sesama penghuni kos pun terasa lebih hangat. Karena sering bertemu di kamar mandi umum atau saat menjemur baju, mereka jadi saling kenal.
“Kami sering ngobrol soal tugas, umumnya mahasiswa lah. Bukan melakukan hal-hal toksik,” tambah Lian.
Baginya, misalnya ada kejadian nyasar di “labirin” Pogung, ya itu hanyalah bumbu kehidupan. Setelah beberapa bulan, ia mulai hafal jalan mana yang harus diambil dan kapan portal akan ditutup. Rasa pusing mencari jalan tertutupi oleh rasa aman yang ia dapatkan setiap kali sampai di kamar.
***
Cerita Lian menjadi gambaran bahwa kenyamanan tidak selalu berbanding lurus dengan harga dan fasilitas mewah. Bagi sebagian orang, kebebasan tanpa batas mungkin terdengar menarik, tapi bagi mereka yang mencari ketenangan dan lingkungan yang teratur, tempat seperti Pogung adalah jawabannya.
Lian tidak menyesal pernah tinggal di Babarsari, karena dari sana ia belajar bahwa ia bukan tipe orang yang cocok dengan gaya hidup bebas. Namun, ia juga sangat bersyukur bisa pindah ke Pogung.
“Dulu saya pikir kos Rp1,2 juta itu murah karena fasilitasnya lengkap. Sekarang saya sadar, kos Rp500 ribu ini jauh lebih berharga karena yang saya bayar bukan cuma kamar, tapi juga rasa tenang,” tutupnya sambil tersenyum.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Susahnya Jadi Ibu Kos: Tak Ingin Ada Kumpul Kebo, Tapi Ada Saja Anak Kos Ngaku-ngaku Nikah Siri demi Inapkan Pacar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
