Bagi banyak mahasiswa baru (maba), kos dekat kampus menjadi incaran utama tempat tinggal di awal-awal masa merantau. Alasannya sudah banyak diketahui: Akses ke kampus lebih mudah. Selain itu, kos di kawasan dekat kampus umumnya lebih aksesibel pula: mau nyari makan gampang karena banyak warung, minimarket juga mudah dijumpai.
Akan tetapi, kos dekat kampus ternyata juga bisa menjadi awal mula pemicu konflik sosial. Dan itu berasal dari kebiasaan teman sesama mahasiswa yang memfungsikan kos dekat kampus sebagai suaka atau tempat singgah sementara. Misalnya yang dialami oleh Haqi (29), pemuda asal Bojonegoro, Jawa Timur, saat menjalani masa-masa menjadi mahasiswa di sebuah PTN di Surabaya.
Kos dekat kampus dan murah yang membuat bertahan hingga lulus kuliah
Haqi tinggal di sebuah kos seharga Rp200 ribu, di saat banyak kos di dekat kampusnya yang memasang harga Rp300 ribuan ke atas. Haqi selalu menyebut kos murahnya tersebut sebagai salah satu rezeki besar dari Tuhan. Pasalnya, ia menemukannya pun sebenarnya tanpa sengaja.
“Pas awal-awal maba, sebelumnya aku ngekos di kos harga Rp300 ribuan. Terus suatu ketika, aku kan sok-sok akrab dengan mahasiswa lain waktu ospek, dari situlah aku nemu kos Rp200 ribu itu,” ungkap Haqi, Minggu (9/8/2026).
Memang sekadarnya. Pengap dan kumuh. Tapi memang mau berharap apa dari kos dengan harga segitu? Karena kombinasi murah dan dekat kampus itulah Haqi bertahan tinggal di sana hingga lulus kuliah, meski dengan segala drama yang akhirnya harus ia hadapi.
Sebab, meski sekadarnya, kos Haqi nyata-nyata kerap menjadi tempat singgah beberapa teman sekelas: untuk sekadar menunggu jam mata kuliah berikutnya, bahkan ada juga yang sampai menginap berhari-hari karena malas pulang (karena rumah si teman jauh dari kampus).
“Yang mau ngasih tumpangan kos itu cuma aku. Kalau teman yang lain, kosnya kan bagus-bagus dan mahal. Dan karena itu nggak berani bawa teman ke kos. Apalagi antar-penghuni kos nggak membolehkan,” sambungnya. Namun, kebiasaan teman-teman Haqi numpang di kosnya memicu serangkaian konflik sosial yang merepotkan diri sendiri.
Kos dekat kampus pemicu konflik pemakaian barang dengan teman yang numpang
Awalnya sebatas numpang. Tapi lama-lama teman-teman Haqi malah kebablasan. Mereka memposisikan setiap barang yang ada di kosan sebagai kepemilikan bersama.
Misalnya, si teman tanpa permisi bisa langsung ambil sabun cuci muka hingga parfum begitu saja. Dan itu amat sering terjadi. Tapi ya sudahlah. Masa hanya perkara sabun cuci muka dan parfum dipermasalahkan.
Masalahnya, teman-teman yang kerap numpang menginap atau singgah di kos Haqi semakin hari semakin kebablasan karena prinsip “milik bersama” tadi. Terutama seorang teman yang lebih sering menginap.
Bukan sekali-dua kali kemeja, celana, hingga jaket Haqi dicomot begitu saja karena si teman yang menginap tidak membawa pakaian ganti.
Dengan polosnya, Haqi membiarkan saja karena beranggapan bahwa setelah dipakai, pasti akan dicucikan. Sayangnya tidak. Setelah dipakai, langsung digantung begitu saja di dalam kos.
“Awalnya aku biarkan saja, keselnya kusimpan sendiri karena gimana-gimana, aku ini di perantauan, butuh teman,” kata Haqi.
“Tapi pernah juga kutegur kan, ya mbok dicucikan. Bilangnya, kalau dicucikan dibawa ke rumah dia, nanti malah nggak balik karena ada kemungkinan lupa bawa. Lah, maksudku kan, apa susahnya mengembalikan dengan membawanya pas berangkat kuliah?” lanjutnya.
Charger HP pun berkali-kali jadi korban. Saat di kos, teman yang tidak bawa charger meminjam milik Haqi yang selalu tercolok di stop kontak. Namun, beberapa kali charger Haqi terbawa temannya. Dan itu merepotkan sekali bagi Haqi karena bukannya si teman yang mengantarkan ke kos, tapi Haqi yang harus menyusul keberadaan si teman demi mendapatkan kembali charger-nya yang terbawa.
Konflik dengan tetangga kamar karena terlalu bising
Haqi sebenarnya menyadari bahwa suara keras dari beberapa temannya adalah karakter. Hanya saja, menurutnya, seharusnya tahu kondisi lah. Masalahnya, sering kali ketika numpang di kos Haqi yang dekat kampus itu, obrolan dan guyonan bisa dengan suara meledak-ledak.
Tidak ayal jika kemudian tetangga kamar kos Haqi merasa terganggu. Apalagi jika sudah mode main bareng (mabar) Mobile Legends (ML), suasananya malah semakin tidak kondusif dengan teriakan dan makian.
“Aku pernah disindir lah sama tetangga kamar, intinya kalau bawa teman, jangan ramai-ramai, mengganggu,” ujar Haqi.
Haqi pun sudah berkali-kali mengingatkan agar kalau mabar atau guyonan, teman-teman memelankan suaranya. Tapi memang susah sekali. Sementara Haqi saat itu tidak punya keberanian melarang teman-temannya numpang atau menginap lagi karena ia sendiri memang tipikal orang tidak enakan.
Pemicu konflik dengan ibu kos
Tingginya intensitas menginap dan kebisingan yang ditimbulkan teman-temannya, konflik pun pada akhirnya meluas hingga ke ibu kos.
Beberapa kali Haqi dilabrak ibu kos, diperingatkan agar tidak membawa menginap teman lagi. Selain karena dianggap mengganggu tetangga kos, intensitas teman-teman Haqi untuk numpang dinilai membuat si ibu kos boncos.
“Harga kos kan udah murah. Itu ya buat bayar listrik dan PDAM juga. Nah, teman-temanku ini nambah beban biaya itu to, karena kalau mereka numpang, mereka juga menggunakan listrik dan PDAM,” ujar Haqi.
“Jadi ibu kos sering menagih uang charge, aku harus bertanggung jawab karena aku yang bawa teman-teman menginap,” imbuhnya.
Beberapa kali Haqi berkilah sehingga tidak perlu membayar charge. Namun, ada masanya juga Haqi mau tidak mau harus membayar uang charge tersebut karena si ibu kos tampak sangat marah.
“Ibu kos itu nggak masalah ada teman menginap. Asalkan tertib dan tentu aku harus bayar charge itu tadi,” kata Haqi. Kos dekat kampus yang awalnya ia bayangkan memberi banyak kemudahan, malah berubah menjadi serangkaian persoalan yang merepotkan.
Buka aib di luar sirkel jadi puncak kemuakan
Haqi pernah meminta agak serius agar teman-temannya mengurangi intensitas numpang atau menginap mereka. Tapi tidak satu pun yang menganggap permintaan Haqi itu sebagai permintaan serius. Mereka justru menyebut Haqi terlalu penakut dengan ibu kos. Karena di mata teman-temannya, persoalan dengan ibu kos selalu bisa diakali dengan cara kucing-kucingan.
Atas serangkaian persoalan tidak menyenangkan itu dan bagaimana teman-temannya merespons, Haqi akhirnya hanya bisa memendam kegeraman. Tidak bisa berbuat banyak karena terbentur rasa tidak enakan.
Sampai akhirnya ada satu bagian yang menurut Haqi sudah sangat keterlaluan: “Niatnya roasting lah. Jadi pas kebetulan nongkrong dengan mahasiswa di luar sirkel kami, roasting-nya udah mulai merembet ke aib personal,” beber Haqi.
“Misalnya, aku kalau tidur ngorok, ngiler, bahkan beberapa kali sarungku tersingkap dan kelihatan kemaluanku itu mereka foto buat roasting-an. Aku kalau tidur kan memang pakai sarung,” lanjutnya. Di titik itulah kemarahan Haqi meledak.
Imbasnya, beberapa teman memilih memutus pertemanan dengan Haqi. Walaupun masih ada satu-dua orang yang masih berteman dekat dan masih kerap menginap di kos. Hanya saja memang sudah tidak seintens sebelumnya.
“Kos dekat kampus itu dramanya di situ: jadi jujukan teman. Dan yang pasti terjadi pasti melanggar privasi,” tukas Haqi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
