Setelah merasakan kerja penuh tekanan hingga 24 jam di Jakarta, kepulangan Dian Maul (24) ke Jogja usai lay-off kemudian memang membuatnya bisa merasakan slow living. Namun, jika diminta memilih, ia dengan mantap menjawab: lebih baik hidup dan bekerja di Ibu Kota, ia tetap ingin kembali ke sana.
***
Bangun jam 6 pagi di sebuah kosan murah di Depok, Jawa Barat, tidak ada waktu bagi Dian untuk sekadar menjelajah media sosial atau bermalas-malasan. Ia harus bergegas mandi, sarapan, dan kemudian berangkat ke Stasiun Depok Lama untuk berebut tempat di KRL.
Begitulah rutinitas repetitif Dian selama enam bulan di tahun 2025 lalu, saat masih bekerja di sebuah platform bimbingan belajar daring di Jakarta Barat (Jakbar). Hanya enam bulan, tapi memang sering membuat Dian kepayahan secara fisik dan mental. “Burnout” kalau meminjam istilah populer yang digunakan pekerja Gen Z sekarang.
Dari KRL ke KRL karena “buta” kos murah di Jakarta Barat (Jakbar)
“Aku nggak punya kenalan waktu awal di Jakarta. Waktu cari kos di Jakbar, opsinya mahal-mahal. Di atas Rp1,5 jutaan. Nemu lah aku di Depok. Jauh memang, tapi namanya juga buta Ibu Kota,” ungkap Dian menceritakan kok bisa ia malah ngekos di Depok padahal kerjanya di Jakbar.
Karena itulah ia harus sepagi mungkin berangkat kerja. Sebab, untuk mencapai Jakbar, ia harus transit dulu dari stasiun ke stasiun.
Dian akan memulai perjalanan KRL dari Stasiun Depok Lama. Lalu transit di Stasiun Manggarai, kemudian nyambung KRL di Stasiun Duri, sebelum akhirnya tiba di tujuan akhirnya: Stasiun Kalideres.
Belum satu bulan, rutinitas itu sebenarnya sudah cukup melelahkan bagi Dian. Apalagi, sebagaimana sudah menjadi rahasia umum, naik KRL di jam-jam berangkat dan pulang kerja tidak pernah sederhana. Harus berebut dan berdesak-desakan dengan para penumpang lain.
Masalahnya, ia mengaku agak kesulitan mencari kos murah di area Jakbar. Walhasil—dengan mengakui ketidaktahuannya—pemuda asal Kota Jogja tersebut akhirnya menjalani enam bulan dengan pola seperti itu.
Gaji Rp4,5 juta untuk standby kerja pagu-tengah malam
Meski begitu, bagi Dian, kehidupan dari KRL ke KRL sebenarnya tidak pelik-pelik amat. Tidak terlalu mengguncang mentalnya. Kalau capek fisik, wajar lah.
Yang menguras energi dan mental Dian adalah pada pola pekerjaan yang ia jalani, yang menurutnya jauh dari definisi umum slow living. Dian menerima gaji Rp4,5 juta perbulan. Di atas kertas, jam kerjanya sebenarnya nine to five. Akan tetapi, praktiknya, ia lebih sering overtime.
“Pulang tapi tetap membawa pekerjaan di kosan. Itu yang terjadi,” kata Dian.
Gambarannya kira-kira begini: Sepulang kerja, setelah bersih-bersih, makan malam, dan sejenak merebahkan badan, di jam-jam 9 malam ke atas kerap kali Dian menerima instruksi dari atasan. Ada deadline yang harus diselesaikan malam itu juga. Tentu saja Dian tidak bisa menolak.
“Pekerjaanku desain dan layout. Dihubungi jam berapapun pokoknya aku on call. Karena aku nggak punya siapa-siapa di Jakarta. Aku harus pertahankan performaku karena aku butuh pekerjaan ini,” beber Dian yang memang baru pertama kali itu merantau ke Ibu Kota.
Tak pelak jika Dian beberapa kali merasa stres berat dan burnout. Saat ada instruksi kerja masuk di jam-jam 9 malam, hatinya dongkol luar biasa. Tapi sedongkol-dongkolnya, tetap ia kerjakan dengan sungguh-sungguh karena ia tidak mau dinilai sebagai karyawan yang tidak perform.
Pulang dan rasakan slow living di Jogja
Sialnya, meski sudah mati-matian menjaga performa, penghujung 2025 lalu Dian menjadi salah satu karyawan yang kena lay-off. Pulang lah ia ke Jogja.
“Untungnya langsung dapat kerja, masih di bidangku (desain), dengan gaji sedikit di atas UMR. Makanya aku bisa merasakan, oh ini yang disebut slow living itu,” ucap Dian.
Bagaimana tidak slow living, rutinitas yang ia jalani di Jakbar berbeda sama sekali dengan di Jogja. Tidak ada keterburu-buruan. Tidak ada perjalanan sumpek di KRL.
Selama di Jogja, ia bisa bangun pada jam 7. Itu pun tidak dengan geragapan untuk lekas berangkat ke kantor. Ia masih bisa bermalas-malasan, lalu baru berangkat kerja di jam 8 atau setengah 9 pagi.
“Nggak perlu naik KRL, karena dari rumah aku naik motor. Berkendara juga lebih santai. Tiba di kantor pun ternyata juga sama santainya,” ungkap Dian.
“Pekerjaanku di kantor Jogja itu nggak ada apa-apanya kalau dibanding dengan pekerjaan di Jakarta Barat. Kayak, loh cuma segini doang?” Sambungnya. Definisi pulang kantor pun benar-benar pulang, tidak membawa-bawa pekerjaan atau harus standby on call hingga tengah malam. Bago Dian, itu sudah cukup untuk slow living dan work-life balance.
Tapi tetap ingin kembali ke Jakarta: bisa berbagi dengan orang tua, kompetensi lebih ditempa
Kendati begitu, belakangan ini Dian merasa ada hasrat kuat untuk kembali ke Ibu Kota. Kata Dian, di situasi ekonomi dan persaingan dunia kerja seperti sekarang, slow living ternyata bukan menjadi tujuan utama Dian.
“Di aspek pendapatan, pas aku kerja di Jakbar, aku masih bisa bagi uang ke orang tua. Nggak setiap bulan, tapi rutin. Di Jogja malah nggak bisa serutin itu,” jelas Dian.
Selain itu Dian merasa, setidaknya dalam iklim kantornya, tidak terlalu kompetitif. Bahayanya, itu membuat Dian terbawa arus: mudah merasa puas dan tidak terlalu tertantang untuk terus upgrade performa.
Menurut Dian situasi itu berbahaya bagi dirinya. Mengingat, kompetensi yang kompetitif saat ini menjadi modal penting jika ingin melangkah jauh di dunia kerja. Oleh karena itu, kalau setelah ini ada kesempatan lagi kerja di Ibu Kota, ia dengan mantap akan kembali merantau ke sana.
“Selama enam bulan di Jakarta dulu, aku merasa bisa upgrade banyak hal, karena didorong oleh lingkungan yang kompetitif, satu sama lain nggak mau kalah,” tutur Dian.
“Jadi aku merasa ditempa menjadi versi diriku yang lebih unggul. Di Jogja, dengan narasi slow living, aku malah terlena,” pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Melamun di Rooftop Kosan: Jorok Tak Masalah, karena Sudah Muak Menjadi Workaholic di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan