Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 Februari 2026
A A
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ilustrasi - TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rumah besar di desa demi gengsi pada tetangga

Di beberapa desa di Rembang, terutama di Kecamatan Sluke, tidak susah menemukan rumah besar berdiri gagah. Tapi tanpa penghuni, kosong bertahun-tahun. Seperti rumah kosong. Hanya lampu redup menyala di pelataran. 

Hanya disambangi beberapa kali oleh kerabat si pemilik rumah, untuk sekadar membersihkan debu-debu yang mengotori lantai dan perabotan, juga sarang laba-laba yang blakrah di banyak sudut rumah. 

Iklan

Badar (50-an), seorang mantan TKI asal Rembang berbagi cerita. Ia dulu begitu: kerja di luar negeri (Malaysia) sejak awal 1990-an awal, lalu membeli tanah dan membangun rumah joglo berukuran besar sekaligus. Rumah tersebut sempat mangkrak bertahun-tahun, sebelum akhirnya ia huni sejak menikah pada 1999-an. 

Saat ini, fenomena rumah besar kosong masih banyak dijumpai di desa asalnya itu. Ada yang tidak berpenghuni karena si pemilik lebih “betah” di luar negeri. Ada yang terpaksa ditinggal bertahun-tahun karena sepasang suami istri memutuskan sama-sama jadi TKI dan TKW, sementara si anak hidup bersama simbahnya. 

https://mojok.co/wp-content/uploads/2026/02/Istana_Kosong-2-2.mp4

Generated AI by NotebookLM/Creator: Aly Reza

 

“Masalahnya, orang tua atau kerabat memang nggak mau kalau menghuni. Mereka tetap lebih nyaman tinggal di rumah sendiri walaupun kecil ketimbang rumah orang lain. Walaupun di rumah kerabat atau orang tuanya sendiri. Jadi ya nggak keurus,” jelas Badar. 

Bagi Badar, para TKI dan TKW di Rembang memang seperti dituntut harus bisa bangun rumah besar di desa. Itu adalah simbol kesuksesan. Kalau kerja di luar negeri bertahun-tahun tapi tidak ketahuan wujudnya (entah rumah besar, mobil, dan lain-lain), maka tetangga dan saudara akan memberi cap “gagal”. 

Ini seperti apa yang disebut Thorstein Veblen—dalam bukunya The Theory of the Leisure Class—sebagai Conspicuous Consumption (konsumsi mencolok): barang mewah (rumah besar dalam konteks ini) bukan atas pertimbangan fungsi. Tapi lebih ke gengsi. Sebagai simbol seorang TKI dan TKW telah naik kelas ekonomi.

Rumah besar di desa: dibangun bukan untuk ditinggali

Cerita serupa dituturkan oleh Atini (40), TKW asal Pati yang pernah kerja di Taiwan sejak 2010. Ia memutuskan benar-benar pulang (tidak jadi TKW lagi) setelah akhirnya bisa pulang pada 2022 (pasca pandemi Covid-19). 

Atini bercerita, pada awal Januari 2026 lalu, seorang warga di desanya—juga seorang TKW—meninggal di perantauan, tanpa pernah menikmati rumah besar hasil jerih payahnya selama ini. 

“Tujuh atau sepuluh tahun dia nggak pulang. Bangun rumah gede buat suami dan anaknya di rumah. Eh belum juga dia menikmati rumah besarnya di desa, dia sudah meninggal,” ungkap Atini. 

Dulu, Atini juga berpikir demikian. Ada perasaan nelangsa tiap kali menelepon suami dan anaknya di rumah. Atini hanya bisa memantau perkembangan pembangunan rumahnya, tanpa bisa benar-benar menikmatinya. Karena kalau pulang, waktunya hanya sebentar. 

Sama seperti di desa Badar di Rembang, di desa Atini di Pati pun pola pikir masyarakatnya sama: rumah besar atau aset mahal sejenisnya adalah simbol sukses. 

Iklan

“Wah ada loh, Mas, orang sini (desa Atini) bertahun-tahun merantau tapi nggak punya apa-apa di desa itu jadi olok-olok. Padahal, orang kerja sampai ke luar negeri itu kan biar dapat uang banyak buat mencukupi kebutuhan pokok keluarga. Bayar listrik, belanja sehari-hari, biaya sekolah anak. Belum kalau ada tetangga bikin hajat, kita nyumbang. Macem-macem,” kata Atini. 

Tapi itu tidak akan dilihat. Yang dilihat hanyalah: seberapa besar rumahmu, mobil bisa kebeli atau tidak. Hasil kerja di luar negeri benar-benar harus terkonversi pada sesuatu yang kasat mata: ada wujudnya. 

Kerja di luar negeri hingga tua karena tuntutan yang tak ada akhir

Tuntutan tidak pernah ada akhirnya. Itu yang akhirnya Badar dan Atini pahami, hingga akhirnya mereka memutuskan pulang ke kampung halaman masing-masing. Berhenti menjadi TKI dan TKW, bekerja seadanya. 

Tuntutan hidup tidak ada akhirnya. Tuntutan dari tetangga dan kerabat apalagi. Maka, daripada mengikuti gengsi dengan mengorbankan berjarak dengan keluarga, mending pulang saja. Toh sudah bisa membangun rumah sendiri, tinggal mikir hidup sehari-hari. 

“Berkaca dari orang-orang di sini (desa Badar), mereka bertahan di luar negeri bukan semata karena tuntutan ekonomi. Tapi tuntutan gengsi,” ucap Badar. 

Uang banyak yang mereka terima sebagai pekerja kasar di luar negeri memungkinkan mereka tidak tertinggal dengan apa yang jadi penanda sosial dan ekonomi terbaru. 

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Ilustrasi – TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi. (Data penyumbang PMI terbanyak di Jateng 2024-2025. Generated AI by NotebookLM/Creator: Aly Reza)

Misalnya, oke sudah punya rumah dan motor, tapi kalau standar sukses di desa bergeser ke rumah ber-AC atau berornamen tertentu, atau standar orang mampu adalah dengan memiliki motor keluaran terbaru, maka mau tidak mau harus mengikutinya. 

“Tetanggaku ada, beli motor Ninja yang mahal itu. Itu dianggap sukses. Tapi kan pemiliknya cuma bisa pakai sebentar saja pas di rumah. Habis itu dia balik lagi,” beber Badar. 

Kalau memakai teori Social Capital of Migration dari Douglas Massey, ada ekspektasi sosial di balik langkah imigrasi, seperti yang digambarkan Badar tadi.

Alhasil, terjadi Migrant syndrome. Yakni, kalau kata Joshua S. Reichert dalam jurnalnya The Migrant Syndrome: Seasonal Migration and Enclave Development: para TKI dan TKW akhirnya berlama-lama kerja di luar negeri untuk konsumsi tidak produktif dan non-prioritas. Situasi itu membuat mereka luput menyiapkan jaring pengaman pasca “pensiun” (misalnya mengumpulkan modal untuk ketahanan ekonomi setelah pulang nanti), dan siklus kerja di luar negeri pun terus berlanjut, seperti tanpa akhir. 

“Di desaku, simbah-simbah pun ada yang terpaksa masih di luar negeri. Karena kalau pulang, nggak tahu mau hidup dari mana. Karena kalau di desaku, anak kalau sudah berumah tangga nggak ada tanggung jawab untuk menanggung hidup orang tuanya. Kalau ada, ya itu orang baik atau kaya. Kalau nggak, ya orang tua, walaupun sudah umur 70-an tahun, kalau masih segar ya masih kerja sendiri,” pungkas Badar. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2026 oleh

Tags: daerah dengan tki terbanyak di jatengdaerah dengan tkw terbanyak di jatengkerja di luar negeriPatipilihan redaksirembangrumah di desaTKItki patitki rembangtkwtkw patitkw rembang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.