Gen Z Ajarkan Perusahaan Arti Sukses yang Sebenarnya: Tolak Jabatan demi Sistem Kerja yang Manusiawi

Pakar IPB soroti fenomena gen Z pilih work life balance dan budaya kerja kekeluargaan. MOJOK.CO

Alih-alih menuding gen Z kurang ambisius karena pilih jadi staf biasa daripada naik jabatan demi work-life balance, pakar IPB mengingatkan perusahaan agar membenahi budaya kerja “kekeluargaan” mereka.

Gen Z berhak pilih work-life balance daripada naik jabatan

Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Rahmi Damayanti, berujar gen Z yang menolak promosi jabatan bukan berarti tidak punya ambisi atau menolak untuk berkembang. Namun, mereka kini punya pandangan berbeda dalam memaknai keberhasilan pada pekerjaan.

“Bagi sebagian gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural, tetapi juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri,” jelas Rahmi dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis (3/8/2026).

Rahmi tak menampik, banyak orang menganggap bahwa pekerjaan adalah bagian penting dalam kehidupan individu dan keluarga. Namun, pekerjaan juga bisa menjadi faktor rusaknya kesejahteraan. Ada konsekuensi tak terhindarkan. 

Misalnya begini, tuntutan kerja yang semakin besar dapat mengurangi waktu dan energi seseorang, baik di kehidupan personal maupun waktu kumpul bersama keluarga. Oleh karena itu, menurut Rahmi, seseorang berhak mempertimbangkan kembali pilihan kariernya. Salah satunya, keputusan untuk menolak promosi jabatan.

Apalagi, kata Rahmi, gen Z kini mengalami tantangan pekerjaan yang kompleks dibandingkan dulu. Mereka dituntut kerja cepat dan fleksibel di tengah arus digitalisasi, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.

“Karena itu, menurut saya, keputusan menolak promosi dapat menjadi bentuk prioritas terhadap kualitas hidup, bukan semata-mata menunjukkan keengganan untuk menerima tanggung jawab atau berkembang dalam karier,” ujarnya.

Arti sebenarnya dari sistem “kekeluargaan” yang diinginkan gen Z

Meski demikian, Rahmi mengingatkan agar fenomena tersebut tidak digeneralisasi. Banyak gen Z tetap memiliki aspirasi untuk memimpin, tetapi menginginkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi atau keluarga.

Salah satunya melalui penerapan pekerjaan ramah keluarga (family-friendly workplace), sebuah desain pekerjaan dengan posisi kepemimpinan yang lebih sehat dan berkelanjutan. 

Budaya kerja kekeluargaan yang dimaksud Rahmi berbeda dengan konotasi negatif yang sering diartikan oleh karyawan, seperti tuntutan kerja lembur tanpa kompensasi karena hubungan antar karyawan sudah seperti keluarga. 

Begitupun dengan penilaian yang kurang objektif dari atasan terhadap kinerja karyawan, gaji, atau promosi yang didasarkan pada kedekatan emosional. Bukan karena pencapaian atau kompetensi murni, melainkan karena ‘menjilat atasan‘.

Berdasarkan hasil penelitian Rahmi bersama Euis Sunarti dan Istiqlaliyah Muflikhati mengenai family-friendly policies, family-friendly workplace dapat diwujudkan melalui beberapa faktor.

Family-friendly workplace dapat diwujudkan melalui fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, cuti, dan waktu kerja yang lebih adaptif, serta budaya organisasi yang tidak menjadikan bekerja berlebihan sebagai ukuran loyalitas,” jelas Rahmi.

Dengan begitu, sistem budaya kerja kekeluargaan tetap mendorong seseorang untuk produktif dan berkembang dalam karier, tanpa mengabaikan fungsi dan tanggung jawabnya kepada keluarga.

Merombak keberhasilan dunia kerja

Rahmi menegaskan dunia kerja kini menyediakan jalur karier yang beragam, tidak hanya jalur manajerial, tetapi juga jalur keahlian profesional atau individual contributor. Oleh karena itu, regenerasi kepemimpinan dapat dipersiapkan melalui mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, dan pengalaman memimpin secara bertahap.

“Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup,” ucap Rahmi.

Menurut Rahmi, fenomena ini dapat menjadi momentum bagi dunia kerja untuk mendefinisikan kembali keberhasilan secara lebih multidimensional. Karier tetap penting, tetapi keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, waktu personal, dan kesejahteraan juga merupakan bagian dari kualitas hidup.

“Bagi gen Z, work-life balance juga perlu dimaknai secara tepat. Keseimbangan bukan berarti mengurangi tanggung jawab atau membatasi pengembangan diri, tetapi mampu mengelola pekerjaan dan kehidupan secara sehat, tetap bertanggung jawab, dan terus bertumbuh,” jelas dosen IPB tersebut.

“Yang perlu kita bangun bukan generasi muda yang ‘dipaksa mengejar jabatan’, tetapi generasi muda yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk memimpin karena mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebagai pengorbanan terhadap kehidupan mereka.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Dilema Kerja di Kantor Toksik: Mental dan Jam Tidur Rusak, Tapi Tak Bisa Resign Gitu Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version