3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

Gen Z dapat THR saat Lebaran

Ilustrasi - Gen Z dapat THR saat Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Tunjangan Hari Raya (THR) jadi salah satu hal yang ditunggu-tunggu saat Lebaran tiba. Namun sayang, seiring bertambahnya usia, nominal THR juga mengecil, bahkan bisa jadi tidak ada. Kalau masih dianggap “layak” menerima THR saat Lebaran, gen Z akan menghabiskannya untuk 3 hal berikut.

#1 Gen Z pilih beli baju baru

Responden pertama, Ifroh (23), mengatakan akan menggunakan THR yang didapatkan saat Lebaran untuk membeli beberapa barang, utamanya baju baru. Baginya, membeli baju baru menggunakan THR masuk skala prioritas pertama sebelum tabungan. 

Diikuti dengan pembelian barang lain yang telah masuk dalam daftar keinginan (wish list).

Personally buat beli baju dan make up dan laci kamar, sama karpet,” kata Ifroh, Rabu (18/3/2026).

Sebagai gen Z yang lahir pada tahun 2002, keputusan Ifroh yang langsung menetapkan baju sebagai daftar pertama penggunaan THR bukan tanpa alasan. Ifroh bahkan bukan satu-satunya gen Z yang berpikiran demikian.

Menurut penelitian, gen Z adalah kelompok usia yang paling mungkin membeli pakaian secara impulsif secara online.

Pembeli berusia 13 hingga 28  tahun lebih rentan terhadap pemasaran fast fashion. Mereka melakukan pembelian secara impulsif karena takut ketinggalan tren. 

Para peneliti dari Glasgow Caledonian University dan University of Glasgow meneliti kebiasaan belanja gen X, Y, dan Z sebagai sebuah perbandingan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pengecer fast fashion sendiri sudah menargetkan gen Z lebih dulu.

Mereka memberikan penawaran dalam waktu terbatas untuk menanamkan rasa urgensi buru-buru membeli dan mencegah gen Z membuat keputusan yang bijak. Maka tak heran, dari penelitian ini, ditemukan narasumber mengakui hal-hal semacam ini:

“Menerima paket baju baru seperti menerima hadiah untuk diri sendiri.”

“Kelompok usia kami tidak boleh terlihat mengenakan pakaian yang sama dua kali. Ada tekanan sosial. Aku perlu membeli pakaian baru untuk setiap acara yang aku datang.”

Dosen bidang Fashion, Marketing, dan Sustainability  di Glasgow Caledonian, Elaine Ritch, menyebut gen Z punya keraguan dalam identitas fashion. Akibatnya, mereka sering mencari solusi dan cara berpakaian di media sosial, yang selanjutnya memaparkan pada impulsivitas belanja. 

Generasi Z hadir dengan identitas fashion yang tidak aman, mencari solusi dari pemasaran fashion media sosial, di mana konsumsi fashion impulsif yang sering mencerminkan urgensi untuk mempertahankan identitas fashion saat ini,” terang Elaine.

#2 Bayar membership gym

Lain dengan Ifroh yang memutuskan untuk menggunakan THR untuk menunjang penampilan, Tata (23) akan menggunakan uang THR yang diperoleh saat Lebaran untuk membayar membership bulanan gym.

“Buat apa ya? Buat membership gym at least,” kata dia saat ditanyai Mojok, Rabu (18/3/2026). 

Bagi Tata, penting untuk menjaga kesehatannya dengan pergi ke gym. Aktivitas ini telah menjadi salah satu dari rutinitasnya. Karena itu, ia ingin menggunakan THR untuk memastikan kegiatan rutinnya ini dapat terus berjalan.

Tidak hanya di Indonesia, gen Z di belahan negara lain, tepatnya Inggris, juga mengalami peningkatan dalam menggunakan fasilitas gym. Sebuah laporan mencatat 11,5 juta orang berusia di atas 16 tahun menjadi anggota gym di Inggris,meningkat 1,6 juta dari tahun 2022. 

Golongan usia dewasa muda disebut sebagai kunci di balik ledakan pendaftaran anggota gym. Pertumbuhan angka ini mencerminkan gen Z sebagai pemilik reputasi generasi yang paling sehat.

“Kami menyaksikan permintaan yang kuat di semua kelompok usia dan peningkatan popularitas di kalangan gen Z, dengan klub kesehatan dan kebugaran mengalami peningkatan permintaan untuk layanan , seperti latihan kelompok, kekuatan, hingga kardio,” kata kepala eksekutif organisasi kesehatan di Inggris, UKActive, Huw Edewards, dilansir dari The Guardian, Rabu (18/3/2026).

“Generasi muda memandang kesehatan dan kebugaran sebagai bagian dari identitas mereka dan hal yang tidak bisa ditawar dalam prioritasnya,” tambah dia.

#3 Tabungan pernikahan

Kedua responden sebelumnya setidaknya mempunyai kesamaan, yakni sama-sama ingin menggunakan THR untuk dibelanjakan. Dalam istilah lain, dihabiskan.

Amanda (24) lebih memilih untuk menyimpan THR sebagai tabungan kalau masih diberi. Hanya 1 dari 3 responden yang memutuskan untuk melakukan hal ini, sebagai gen Z.

Amanda bilang, ia akan memilih untuk tidak menggunakan THR dan mengamankannya langsung sebagai tabungan, tepatnya tabungan pernikahan. “Buat tabungan nikah,” kata dia.

Survei Jakpat menemukan mayoritas gen Z berencana menikah tanpa dukungan finansial dari orang tua. Sebanyak 45 persen merencanakan menggunakan tabungan pribadi, sedangkan 57 persen memilih menggunakan tabungan bersama pasangan.

Lebih lanjut, 41 persen respon menilai anggaran pernikahan ideal berada pada kisaran Rp50-100 juta, sedangkan 32 persen lainnya menilai bisa diselenggarakan dengan biaya di bawah Rp50 juta.

Berapa pun biayanya, keputusan menabung dari THR cukup baik. Meski pertanyaannya, berapa lama dan berapa banyak THR yang harus dikumpulkan sampai bisa memfasilitasi biaya pernikahan?

Inilah sebabnya, Ifroh mengatakan, THR tidak cocok untuk ditabung. Ia menganggap THR lebih cocok untuk membeli kebutuhan. Sementara itu, tabungan bisa dikumpulkan dari gaji bulanan.

“Nggak tahu ya, aku merasa THR emang cocok diperuntukkan untuk membeli serba-serbi kebutuhan aja,” ujar Ifroh.

“Kalau nabung, aku prefer pakai gaji bulanan,” ujarnya menambahkan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version