Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

Ilustrasi - Pelari kalcer (Mojok.co/Ega Fansuri)

Lari dulunya hanyalah aktivitas olahraga biasa. Kini, lari dianggap olahraga “culture” dengan adanya fenomena pelari kalcer. Olahraga lari beralih dari tujuan kesehatan menjadi gaya hidup dan gengsi. 

***

Menurut aplikasi ekosistem perangkat Garmin, Garmin Connect, jumlah pelaku aktivitas lari meningkat sekitar 3 sampai 4 kali pada tahun 2024 hingga 2025 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Peningkatan ini tidak hanya menunjukkan banyaknya orang yang berolahraga lari, melainkan juga mencerminkan olahraga lari yang kembali dipopulerkan. 

Di balik popularitas itu, fenomena yang disebut dengan pelari kalcer memegang peranan penting. Pelari kalcer merujuk pada fenomena gaya hidup yang tidak hanya melakukan aktivitas lari untuk kesehatan, tetapi difokuskan pada penampilan, outfit  yang bernilai mahal atau branded, dan eksistensi di media sosial.

Berbeda dengan olahraga lari biasa yang boleh pakai apa saja, pelari kalcer memiliki standar dan pakemnya tersendiri. Sebab yang utama bukan lari, melainkan gayanya.

Yang penting gaya, performa lari nomor dua

Salah satu pelari kalcer, Raufan (24) mengatakan, pelari kalcer merupakan sekumpulan orang-orang yang tidak hanya gemar berlari.

Mahasiswa di salah satu PTN di Jogja ini mengatakan, pelari kalcer menyukai aktivitas lari, tetapi tidak mau mengesampingkan kebutuhan gaya. Berkaca dari klub lari yang diikutinya di Jogja, ia menyebut, mereka lebih mengutamakan penampilan dibandingkan dengan performa lari.

“Definisi pelari kalcer menurut aku tuh ya orang-orang yang gemar berlari, tapi lebih ke memperhatikan outfit dibanding performa larinya,” kata dia kepada Mojok, Jumat (24/4/2026).

Menjelaskan lebih rinci, Raufan mengatakan, performa merujuk pada latihan rutin atau kebutuhan penunjang lari yang dilakukan oleh pelari umumnya. Dari sudut pandang pelari kalcer sepertinya, performa ini tidak lebih penting dari penampilan.

Ibaratnya, tampil dulu, hasil lari kemudian.

“Performa yang kumaksud itu tuh kayak seperti latihan rutin atau minum suplemen penunjang aktivitas lari, yang hal ini kan biasanya dilakukan dan dikonsumsi oleh orang-orang yang ahli di bidang itu,” kata dia.

“Mungkin lebih gampang dalam memahaminya tuh, pelari kalcer adalah orang yang berlari, namun memperhatikan estetika penampilan dan eksistensi di ruang digital,” tambahnya.

Salah satu contohnya, Strava menjadi aplikasi yang marak digunakan untuk mempertegas identitas pelari kalcer. Aplikasi berbasis GPS ini melacak, menganalisis, dan membagikan aktivitas lari. 

Berdasarkan laporan Strava 2025, klub lari mengalami peningkatan hingga 3,5 kali lipat pada 2025. Laporan Strava juga menunjukkan peningkatan jumlah klub lari di Indonesia sebanyak 6 kali lipat pada tahun 2025. Pertumbuhan ini diikuti dengan jumlah pelari setiap bulannya.

Tren kalcer menarik lebih banyak pelari di Indonesia

Pertumbuhan jumlah pelari di Indonesia
Pertumbuhan jumlah pelari di Indonesia (Sumber: GoodStats)

Berdasarkan data, jumlah pelari di Indonesia mengalami tren kenaikan signifikan, meski fluktuatif. Dibandingkan enam bulan sebelumnya, pada Januari 2024, olahraga ini setidaknya mengalami 330 persen kenaikan. Totalnya, terdapat 242 ribu jumlah pelari per Mei 2025.

Peningkatan ini terjadi bersamaan dengan peningkatan partisipasi pada ajang lari, serta penyelenggaraan ajang itu sendiri. Asosiasi Lari Indonesia mencatat keikutsertaan dalam ajang lari meningkat hingga 30 persen pada 2025.

Jumlah ajang lari di Indonesia (Sumber: GoodStats)

Ajang lari di Indonesia mencapai total yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebanyak 558 acara yang tersebar di berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, Jogja, Riau, Makassar, Palembang, dan kota-kota besar lainnya.

Jumlah ajang lari diperkirakan naik sebanyak 100 event pada tahun 2025, dibandingkan tahun 2024 sebanyak 458 acara terselenggara. Ajang lari seolah-olah menjadi salah satu kesempatan pelari kalcer untuk tampil. 

Tidak hanya berpartisipasi, ajang lari memungkinkan mereka untuk berjejaring dengan sesama pelari kalcer. Melacak performa melalui Strava untuk diunggah ke Instagram, dengan tidak luput menyertakan postingan outfit yang dikenakan.

Harga mahal yang harus dibayar untuk disebut pelari kalcer

Kesempatan memamerkan lari menjadi penting apabila menggunakan sudut pandang pelari kalcer. Raufan mengatakan, pelari kalcer mengutamakan gengsi, utamanya dalam komunitas lari.

Ketika tergabung dalam komunitas pelari kalcer, kata dia, penampilan lari diperhatikan. Salah satunya, sepatu lari haruslah yang bernilai mahal dan “culture”.

“Menjadi penting itu karena gengsinya tinggi. Apalagi tergabung dalam komunitas dengan teman-teman yang menggunakan sepatu mahal dan bagus, kalcer,” kata Raufan.

Dia merincikan, rata-rata outfit yang digunakan oleh pelari  kalcer antara lain brand Asics, Adidas, dan New Balance untuk sepatu. Manta Liberta, SUVS, Duraking, Aspro, dan Asics untuk baju. Oakley dan Goodr untuk kacamata.

Namun demikian, outfit yang disebutkan tidak bersifat mutlak. Merek ini bersumber dari pengamatan Raufan dalam komunitas pelari kalcer. Pemuda asal Sumatra ini juga mengatakan, standar tersebut tidak diwajibkan dalam klub lari.

Hanya saja, pembahasan seputar itu tentu ada.

“Sebenarnya nggak ada peraturan kayak gitu yang tertulis. Cuma ketika ngumpul after lari, obrolan nggak jauh-jauh dari pembahasan outfit lari,” kata dia.

Akibatnya, mau tidak mau, pelari kalcer menjaga penampilan yang sama dengan titelnya. Ini juga berpengaruh dalam rasa percaya diri, meski terkesan mengikuti tuntutan tren yang berkembang.

“Semisal kita nggak pakai outfit kalcer, kita jadi minder mau ngumpul bareng komunitas. Kayak mau nggak mau dituntut oleh tren yang sedang viral,” tambahnya.

Dosen Antropologi FISIP Universitas Airlangga (Unair), Rizky Sugianto Putri, menilai tren ini positif. Meskipun memunculkan kesan fear of missing out atau FOMO di kalangan generasi muda, dosen muda yang dipanggil Kiki ini menyorotinya sebagai FOMO yang berpengaruh baik.

“Jadi aku membuat istilah ‘FOMO positivity’ yang mana generasi muda menilai FOMO dalam konteks membawa pengaruh baik bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. FOMO dalam hal olahraga, tentu saja, adalah hal positif,” kata dia, dikutip dari laman Unair. 

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sempat “Ngangong” Saat Pertama Kali Nonton Olahraga Panahan, Ternyata Punya Teropong Sepenting Itu dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version