Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

budidaya kenari

ilustrasi-budidaya kenari (Ega Fansuri/Mojok.co)

Dari merawat dan budidaya kenari, seorang bapak dapat menghantarkan anaknya lulus menjadi sarjana Manajemen dengan predikat Cumlaude di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

***

Della Deswita, mahasiswa UNY baru saja resmi menyandang gelar Sarjana Manajemen (S.M) usai menjalani prosesi wisuda pada Minggu (23/08/2026) lalu.

Bagi Della, momen wisuda tersebut bukan hanya momen seremoni kelulusan saja. Momen itu menjadi salah satu bukti bahwa ia bisa menjadi sarjana pertama di keluarganya yang berlatar belakang budidaya kenari. 

“Bangga sekali bisa menjadi sarjana pertama di keluarga saya. Keluarga saya memang hidup sederhana, dari keluarga bapak maupun ibu saya, kebetulan saya yang menjadi sarjana pertama.” ujarnya ketika ditemui Mojok Minggu lalu.

Bapak hobi kicau mania jadi jalan rejeki anaknya

Perjuangan Della tentu tidak lepas dari peran serta orang tuanya. Bagi Marno (44), warga Mlati, Sleman, hobi itu berubah menjadi salah satu cara untuk membiayai keluarganya. 

Dari sebuah ruangan berukuran sekitar 3×4 meter, Marno merintis budidaya kenari. Burung-burung itu ia rawat, dikembangbiakkan, lalu dijual. Uangnya tidak berhenti sebagai tambahan penghasilan. Sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah, membiayai sekolah anak, sampai mengantarkan Della menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana. 

“Awalnya ya cuma hobi, namun ternyata banyak yang minat buat saya ternak,” katanya ketika ditemui Mojok saat wisuda Della pada Minggu (23/08/2026).

Della yang duduk di sampingnya kemudian bercerita tentang bagaimana perjalanan kuliahnya tidak bisa dilepaskan dari burung-burung yang setiap hari dirawat bapaknya.

“Bapak yang banyak membiayai kuliah saya dari kenari,” ujar Della.

Dari budidaya kenari menjadi pintu gelar sarjana

Marno menjelaskan, budidaya kenari di rumah itu mudah. Ia tidak membutuhkan lahan yang luas. Yang penting adalah ketelatenan merawat, menjaga kondisi burung, memilih indukan, serta memahami karakter dan jenis kenari yang diternakkan.

Ruangan 3×4 meter miliknya pun menjadi semacam tempat kerja kecil. Sangkar-sangkar kenari berjajar di sana. Ukurannya memang tidak seberapa, tetapi dari ruangan itulah Marno memutar uang untuk kebutuhan keluarganya.

Kenari juga bukan sekadar burung kecil dengan suara merdu. Harganya bisa berbeda jauh tergantung jenis, kualitas, karakter suara, hingga spek burung.

Bagi orang awam seperti saya, burung kenari mungkin terlihat hampir sama.

Ia menjelaskan bahwa penghobi biasanya memperhatikan jenis dan kualitas burung sebelum membeli. Ada kenari yang dibeli untuk dipelihara, ada pula yang dicari karena dianggap punya kualitas tertentu untuk diternakkan kembali.

Pasar burung kenari pun ikut berubah seiring ramainya dunia kicau mania

Demam kicau mania yang semakin populer, termasuk setelah lagu-lagu bertema kicau mania seperti milik Ndarboy Genk ikut ramai, membuat burung kicauan semakin akrab dengan percakapan sehari-hari. 

Namun Marno tidak menjadikan tren sebagai satu-satunya alasan bertahan.

Sebab budidaya kenari juga membutuhkan kesabaran. Burung tidak bisa dipaksa menghasilkan uang setiap hari.

“Kalau ditanya gampang atau tidak, ya tidak gampang,” kata Marno.

Della paham betul soal itu. Ia tahu gelar sarjana yang akhirnya ia kenakan tidak muncul begitu saja. Ada uang dari hasil penjualan kenari yang ikut membayar biaya kuliah, ada kebutuhan rumah yang harus tetap berjalan, dan ada adiknya yang juga membutuhkan biaya sekolah.

Bukan hanya sekadar perjuangan orang tua, namun ada doa yang dititipkan dari kicau burung kenari

Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif, gelar sarjana juga bukan tiket otomatis menuju pekerjaan. Lowongan kerja terbatas, persyaratan semakin beragam, sementara lulusan perguruan tinggi terus bertambah. Setelah lulus, Della masih harus menghadapi persoalan berikutnya yakni mencari pekerjaan.

Di titik ini, cerita Marno terasa lebih luas daripada sekadar kisah bapak yang sukses beternak kenari.

Banyak orang tua masih memandang pendidikan tinggi sebagai salah satu jalan untuk memperbesar kesempatan hidup anak. Mereka bekerja, berdagang, bertani, menjadi buruh, atau menjalankan usaha kecil-kecilan sambil memutar otak agar anaknya bisa sekolah setinggi mungkin.

Kini tugas itu berganti tangan.

Marno sudah mengantarkan Della sampai gerbang kelulusan. Setelah ini, Della yang harus mencari jalan sendiri di dunia kerja.

Saya kemudian bertanya kepada Della, apakah setelah menjadi sarjana ia punya target tertentu?

Ia tersenyum dan menjawab bahwa ia ingin segera bekerja dan membuktikan bahwa perjuangan bapaknya tidak sia-sia.

Karena dari burung yang digemari para kicau mania tersebut, gelar sarjana itu benar-benar Della dapatkan. Dan bagi Marno, budidaya kenari tersebut yang menghantarkan anak pertamanya masuk ke dunia yang sesungguhnya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard” Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version