Tidak semua anak muda memiliki warisan rumah, tanah, atau tabungan yang bisa digunakan untuk memulai kehidupan. Sebagian lainnya justru harus menghabiskan masa produktif untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar kontrakan, dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk memiliki tempat tinggal sendiri di Jogja.
***
Aditya (29) pemuda asli Jogja ini mengaku menjadi dewasa bukan perkara menunggu pekerjaan mapan atau mempersiapkan pernikahan. Selepas lulus SMK, ia justru harus segera bekerja karena ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, tanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga beralih ke pundaknya.
Ketika saya menghubunginya melalui WhatsApp pada Senin (2/11/2026), Aditya sedang sibuk bekerja sebagai waitress di sebuah restoran. Ia bercerita bahwa saat ini tinggal bersama ibu dan adiknya di rumah peninggalan sang ayah.
“Rumah milik orang tua, mas. Di situ ada saya, ibu, dan adik saya,” ujarnya.
Rumah tersebut memang menjadi tempat berteduh bagi keluarganya. Namun, keberadaan rumah peninggalan ayah bukan berarti Aditya memiliki keleluasaan ekonomi untuk membangun kehidupan sendiri. Sang ayah dahulu bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Setelah ayahnya meninggal, Aditya praktis menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi, adiknya masih duduk di kelas XII SMK.
Lulus SMK langsung bekerja demi menghidupi keluarga karena tidak ditopang warisan keluarga
Aditya mengaku sudah menyadari bahwa dirinya harus bekerja sejak masih sekolah. Karena itulah, ia tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus SMK. Keputusan tersebut bukan semata-mata karena tidak memiliki keinginan kuliah, melainkan ada kebutuhan keluarga yang lebih mendesak untuk dipenuhi.
“Semenjak lulus SMK saya langsung kerja mas, makanya kan saya tidak kuliah, buat nutup kebutuhan rumah, mas,” ceritanya.
Sekarang, dengan penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan, sebagian besar uang Aditya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia hanya mampu menyisihkan sekitar Rp200 ribu untuk tabungan atau dana darurat. Beruntung, adiknya mendapatkan beasiswa sehingga biaya pendidikan tidak terlalu membebani pengeluaran keluarga.
Dengan kondisi seperti itu, keinginan memiliki rumah sendiri belum menjadi prioritas yang bisa segera diwujudkan. Bahkan, ketika ditanya apakah sudah memikirkan membeli rumah, Aditya justru tertawa kecil. Baginya, mengumpulkan uang untuk membeli rumah masih terasa jauh dari jangkauan.
“Jujur kalau membeli rumah belum kepikiran mas, hidup tanpa warisan begini masih bertahan hidup saja sudah syukur hehehe,” jawabnya.
Aditya juga tidak menampik pernah merasa iri ketika melihat teman-teman seusianya sudah menikah atau mampu membeli rumah. Menurutnya, sebagian orang seperti sudah mendapatkan sumber daya dari keluarga, sedangkan dirinya masih harus merintis segalanya sendiri.
“Iri sih mas, kok enak ya hidup mereka ditinggali warisan entah rumah atau tanah begitu,” katanya.
Ia bahkan punya perumpamaan sendiri untuk menggambarkan perbedaan titik awal kehidupan tersebut.
“Ibarat orang lain sudah disediakan resource-nya tinggal jalan, yang di sini masih harus babat alas buat hidup,” imbuhnya.
Sepuluh tahun merantau, lima tahun hidup nomaden di Jogja karena tak punya warisan ortu
Pengalaman berbeda dialami Budi (35-an) dan Arum (30-an), pasangan suami istri asal Pacitan yang sudah sekitar sepuluh tahun tinggal di Jogja. Keduanya telah berpindah-pindah kontrakan sebelum akhirnya menetap di sebuah rumah kontrakan dekat tempat tinggal saya selama lima tahun terakhir.
Melalui pesan WhatsApp pada Senin (2/11/2026), Budi bercerita bahwa keputusan merantau juga berkaitan dengan kondisi rumah keluarganya di Pacitan. Rumah orang tuanya masih ditempati bapak, ibu, dan kedua adiknya. Karena tidak memiliki sokongan rumah atau tanah warisan untuk membangun rumah tangga sendiri, ia memilih mengalah dan membangun kehidupan bersama istrinya di Jogja.
“Sejak dulu saya dan istri memang tidak mendapat warisan dari ortu kami, makanya memilih tinggal dan menetap di Jogja karena di sana rumahnya sudah penuh dipakai bapak ibu dan kedua adik saya,” ceritanya.
Selama sepuluh tahun tinggal di Jogja, mereka harus beberapa kali berpindah kontrakan. Kini, keduanya mulai memikirkan kehidupan yang lebih panjang karena berencana memiliki momongan tahun ini. Artinya, kebutuhan rumah tangga kemungkinan bertambah, sementara persoalan kepemilikan tempat tinggal sendiri belum menemukan jalan keluar.
Penghasilan gabungan Budi dan Arum sekitar Rp6 juta per bulan. Sekitar Rp3 juta digunakan untuk kebutuhan hidup pokok. Sisanya harus dibagi untuk berbagai keperluan, termasuk membayar kontrakan dan kebutuhan lain yang tidak selalu bisa diprediksi.
Budi mengaku bersyukur karena kontrakan yang ditempatinya sekarang tidak terlalu mahal, terlebih lokasinya cukup dekat dengan aktivitas perkotaan. Meski demikian, keinginan membeli rumah sendiri tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
“Beruntungnya harga kontrakan di daerah sini masih belum terlalu sadis, mas. Jadi tidak terlalu terbebani, pemilik kontrakannya juga baik hati, tidak masalah ketika pembayaran kontrakan kadang telat beberapa minggu,” jelasnya.
Penghasilan habis untuk bertahan hidup, beli rumah masih jadi angan-angan
Bagi Budi dan Arum, membeli rumah bukan sekadar persoalan mengumpulkan uang muka. Mereka pernah mencoba menghitung bersama berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memiliki rumah sendiri secara tunai. Hasil perhitungan tersebut justru membuat keinginan itu terasa semakin jauh.
“Hidup tanpa warisan di Jogja itu ya cukup berat mas. Kami ngontrak berdua sudah lima tahun. Kalau cita-cita beli rumah pasti ada, cuma ya itu harga tanah dan rumah di Jogja kan ya tahu sendiri harganya,” ungkap Budi.
Persoalan yang dialami keduanya bukan kasus yang berdiri sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Perumahan Daerah Istimewa Yogyakarta 2021 memperlihatkan bahwa hanya 42,79 persen rumah tangga di Kota Yogyakarta yang menempati rumah milik sendiri. Sementara itu, 31,59 persen tinggal di rumah kontrak atau sewa dan 25,62 persen lainnya menempati rumah dengan status penguasaan berbeda.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa kepemilikan rumah di pusat perkotaan Jogja bukan perkara sederhana. Meski data itu tidak secara khusus mengukur penerimaan warisan, status tempat tinggal tersebut bisa menjadi salah satu gambaran tantangan yang dihadapi rumah tangga untuk memiliki hunian sendiri.
Penelitian Rahma Yuninda berjudul “Pemaknaan Subjektif Pemuda Kota Yogyakarta mengenai Kepemilikan Rumah” yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Pemuda UGM Volume 13 Nomor 1 Tahun 2024 juga membahas persoalan serupa. Penelitian kualitatif tersebut menemukan bahwa kepemilikan rumah masih menjadi salah satu penanda kedewasaan bagi anak muda. Namun, transformasi ruang perkotaan, gentrifikasi pariwisata, kelangkaan lahan, dan tingginya harga tanah membuat proses memiliki rumah tidak bisa dilalui semua anak muda dengan mudah.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kelas sosial dan gender turut memengaruhi pengalaman anak muda dalam memaknai kepemilikan rumah. Dengan kata lain, tidak semua orang memiliki sumber daya dan kesempatan yang sama ketika berusaha mencapai kemandirian tempat tinggal.
Tidak semua anak memulai kehidupan dari garis yang sama
Cerita Aditya, Budi, dan Arum memperlihatkan bahwa warisan bukan sekadar persoalan menerima harta peninggalan orang tua. Kepemilikan aset keluarga juga bisa menentukan seberapa ringan seseorang memulai kehidupan setelah memasuki usia dewasa.
Aditya memang masih memiliki rumah peninggalan ayahnya sebagai tempat tinggal bersama ibu dan adiknya. Namun, tanggung jawab keluarga membuatnya belum leluasa memikirkan masa depan sendiri. Sementara Budi dan Arum harus mengalokasikan sebagian penghasilan untuk membayar kontrakan setelah bertahun-tahun tinggal di Jogja.
Keduanya memperlihatkan persoalan yang berbeda, tetapi sama-sama berhadapan dengan keterbatasan sumber daya keluarga. Ada yang harus mengorbankan kesempatan melanjutkan pendidikan demi menghidupi keluarga, ada pula yang harus menghabiskan sebagian penghasilan untuk memastikan rumah tangganya tetap memiliki tempat tinggal.
Pada akhirnya, Aditya masih ingin memiliki rumah sendiri. Begitu pula Budi dan Arum yang berharap suatu hari bisa berhenti berpindah kontrakan. Mereka mungkin tidak memiliki banyak aset keluarga untuk dijadikan pijakan, tetapi bukan berarti tidak memiliki harapan untuk meninggalkan sesuatu bagi generasi berikutnya.
Sebab, bagi sebagian orang, perjuangan hidup bukan dimulai ketika berhasil membeli rumah. Perjuangan itu justru dimulai jauh sebelumnya: ketika harus memastikan dapur keluarga tetap mengepul, sementara keinginan memiliki rumah sendiri masih harus menunggu giliran.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan