ADVERTISEMENT

Kabupaten Batang Memang Jadi Kawasan Industri, Tapi Bertahan di Sana Tak Bisa Sejahterakan Keluarga

Kabupaten Batang memang jadi kawasan industri, tapi bertahan di sana tidak bisa sejahterakan keluarga MOJOK.CO

Kabupaten Batang memang menjadi salah satu kawasan industri di Jawa Tengah. Namun, bagi kalangan anak muda setempat, bertahan di sana bukan menjadi pilihan karena tidak akan menemukan kesejahteraan. 

***

Sejak 2020 hampir 4.300 hektare lahan di Kabupaten Batang diproyeksikan sebagai kawasan industri PT Kawasan Industri Terpadu Batang (PT KITB). Sekitar setengahnya sudah beroperasi dan pembangunan pabrik-pabrik investor asing lainnya akan segera dibangun.

Merujuk laman resminya, PT KITB merupakan pengelola Grand Batang City. Kawasan ini dirancang untuk pengembangan industri, ritel, dan komersial, serta disebut menjanjikan iklim investasi yang kompetitif dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia.

Pada 20 Maret 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2025 yang menetapkan KIT Batang sebagai KEK Industropolis Batang, mencakup sekitar 2.886,7 hektare dari total lahan pengembangan. 

KEK ini disebut mengintegrasikan tiga fungsi utama, yaitu Industri & Pengolahan, Logistik & Distribusi, serta Pariwisata, menjadikannya satu-satunya KEK di Indonesia dengan ketiga sektor tersebut secara terpadu.

Keunggulan KITB terletak pada posisinya sebagai Proyek Strategis Nasional Indonesia, yang dikembangkan untuk menangkap peluang dari pemimpin industri manufaktur global, termasuk dalam mendukung rantai pasok dunia dan ekosistem kendaraan listrik (EV ecosystem).

Tidak ayal jika pemerintah setempat selalu membanggakan kawasan industri ini karena diharapkan akan meningkatkan roda perekonomian sekitar.  Namun, di balik narasi besar tersebut, masih banyak anak muda yang justru harus bertaruh nasib jauh dari rumah, meninggalkan Batang untuk mengejar kesejahteraan. 

Upah Kabupaten Batang menyiksa di tengah tuntutan menopang ekonomi keluarga

Dalam standar kabupaten, UMR Kabupaten Batang sebenarnya terbilang lumayan: ada di angka Rp2,7 jutaan. Namun, angka tersebut adalah angka di atas kertas yang tercatat di BPS Jawa Tengah. Sebab, kenyataannya, sejumlah anak muda di Kabupaten Batang yang saya ajak berbincang mengaku: sering kali gaji yang mereka dapat jauh dari angka minimum itu. 

Selain itu, meski punya kawasan industri, mencari pekerjaan di Kabupaten Batang juga tidak serta-merta menjadi serba mudah. Misalnya yang diungkapkan oleh Darul, pemuda 22 tahun yang memikul tuntutan meningkatkan ekonomi keluarga.

“Awal lulus SMA aku bener-bener ngerasa stuck. Teman-teman banyak yang daftar kuliah, sedangkan aku gini-gini aja. Bukannya nggak mau (kuliah), tapi aku sadar (untuk kuliah) nggak bisa (karena biaya dan harus mikir kondisi ekonomi keluarga,” ucap Darul sambil sesekali menyeruput kopi dan menyesap sebat dalam sambungan panggilan video, Senin (7/9/2026) malam. 

“Pilihannya waktu itu cuma dua, aku kerja di Jepang atau selamanya aku jadi beban,” sambungnya dengan senyum sumir. 

Tidak ada pilihan untuk kerja di Batang sendiri. Sebab, tidak hanya perkara susahnya mencari pekerjaan di sana, tapi sekali dapat pekerjaan pun upahnya kecil. Upah kecil tentu berat untuk menopang ekonomi keluarga, apalagi untuk mewujudkan mimpi-mimpi Darul sendiri. Pada masa-masa itu, keluarga Darul sampai harus utang sana-sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Tak terciprat narasi besar kawasan industri, bisnis tetap sulit berkembang 

Cerita lain saya dapat dari Riko, pemuda 23 tahun yang pernah menjajal merintis bisnis tidak jauh dari titik pusat kawasan industri di Kabupaten Batang. 

Riko mengaku bisnis rotinya sulit berkembang. Selama satu tahun buka—pada 2024 lalu—untuk sekadar mendapatkan income setara UMR di Batang saja rasanya sangat berat. Riko kemudian merenung, jika terus bertahan, jelas tidak akan cukup untuk menyokong ekonomi keluarganya. Maka dari itu, Jakarta menjadi pilihannya untuk mencari nafkah.

“Aku kerja di Jakarta udah 2 tahun ini dan memang secara pendapatan jauh (lebih besar) lah sama upah standar di Batang,” akunya. 

Selama dua tahun merantau di Jakarta itu pula Riko bisa sedikit-sedikit menabung. Tidak seperti di Batang yang untuk mencari untung dari bisnisnya saja susahnya minta ampun.  

“Setelah merantau ke Jakarta, dengan porsi kerja yang sama (di KITB), aku jadi mensyukuri pilihanku. Ya tahu sendiri kalau di Batang upahnya gimana,” tutur Riko. Gaji Riko sebagai pekerja di sebuah pabrikan otomotif di Jakarta jauh lebih baik ketimbang upah yang ditawarkan di kawasan industri di Batang. 

Lari ke Jepang yang lebih jelas menjanjikan

Pemuda Batang lain, Egy (20), bahkan sampai harus mengadu nasib di Hiroshima, Jepang. Ia bekerja sebagai pengecat kapal batu bara. Baginya, jika tidak nekat kerja di Jepang, maka impian hidup sejahtera di Batang akan selalu jauh dari radar. 

“Lulus sekolah aku emang langsung masuk ke LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) pada 2024. Niatnya jelas kerja di Jepang dengan harapan punya gaji yang layak,” tutur Egy yang tersambung dengan saya melalui panggilan video.

Ada momen “menggelitik” tidak lama setelah LPK selesai. Usai LPK selama tiga bulan, Egy tidak lantas langsung berangkat ke Jepang. Ia masih harus menunggu panggilan pekerjaan. Egy menunggu setidaknya selama satu tahun sampai akhirnya benar-benar berangkat ke Jepang. Selama satu tahun itu ia menganggur. 

“Waktu nganggur itu, aku ditawari sama orang tua buat dibelikan motor, diminta kerja di KITB saja (kalau ada lowongan),” ungkap Egy. 

Akan tetapi, Egy menolak permintaan orang tuanya itu. Meski tertekan dan merasa dilema, keyakinannya kerja di Jepang jauh lebih kuat. Dalam benaknya, kerja di Jepang bakal membawa perubahan materi yang lebih baik bagi keluarganya. Dan memang itulah yang Egy rasakan setelah akhirnya berangkat ke Jepang pada 2025. 

Alhamdulillah setahun kerja di Jepang aku bisa kirim uang buat keluarga dan bisa renovasi rumah,” ucap Egy. 

Meski baru satu tahun, Egy tidak menampik kalau ia kerap merasa rindu dengan kampung halaman. Namun, dilemanya, kalau pulang ke Batang situasinya saat ini sebagaimana yang sudah dibeberkan di atas: kawasan industri, tapi tidak menjamin banyak hal. 

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.

Penulis: Al Afnan Mahatta

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta. Mahasiswa magang departemen liputan Mojok.co asal Batang. Sedang menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Menaruh perhatian pada isu sosial, alam, dan dinamika sepak bola nasional. Di luar rutinitas liputan, saya mengisi waktu dengan menjelajah ke tempat-tempat baru yang unik.

Exit mobile version