Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Februari 2026
A A
Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan MOJOK.CO

Ilustrasi - Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang anak yang dianggap paling gagal, justru yang paling tulus merawat orang tua dan bahkan tidak terlalu menuntut warisan. Sedihnya, ia kerap direndahkan hanya karena tidak bisa mengikuti standar sukses ala kapital. 

***

Hidup di tengah-tengah saudara kandung yang telah “menjadi orang”, membuat sosok Tri seperti anak gagal dan tidak berguna. Ia hanya seorang penjual bensin eceran. 

Ia tidak mampu membeli mobil, mendapat gelar birokratik (PNS), atau membangun rumah besar seperti saudara-saudaranya. Tapi ia menjadi satu-satunya anak yang tampak sangat tulus merawat ibunya hingga menjelang tutup usia. 

Bahkan saat pembagian warisan, saudara-saudara Tri memandang warisan sang ibu sebagai sesuatu yang tidak bernilai: hanya seonggok lemari. Sementara Tri, memperlakukan lemari tersebut layaknya rahim ibu: tempat hangat untuk meringkuk sebagaimana rahim ibunya. 

Itu adalah gambaran ringkas film pendek Lemantun (2014) garapan Wregas Bhanuteja. Menyajikan secara telanjang realitas sosial di masyarakat kita. Karena tidak sulit menemui sosok Tri di dunia nyata. 

Tinggalkan standar sukses di usia muda, mengalah demi jaga ibu agar tak kesepian

Memang situasi semacam itu tidak hanya dialami oleh anak terakhir. Namun, kebanyakan anak bungsu lah yang harus mengalah. Seperti Syahidi (32) yang awalnya berbagi cerita singkatnya melalui sebuah grup Facebook, sebelum membagi cerita versi lengkapnya melalui messenger kepada Mojok. 

Syahidi mengaku tak cukup beruntung karena tidak pernah merasakan masa kejayaan yang bapak. Dua kakaknya beda soal.

Kakak keduanya (laki-laki) sempat mencicipi bangku kuliah dan berhasil menjadi penghulu. Sementara kakak keduanya (perempuan), memang tidak kuliah. Tapi menikah dengan lelaki mapan. 

Mereka hidup dalam gelimang materi yang menjadi standar sukses di desanya di Jawa Timur: (masing-masing punya mobil, motor lebih dari satu, dan rumah luas). Sementara Syahidi berbeda sama sekali. 

“Sejak bapak wafat, saya yo menemani ibu, to. Saya umur menjelang 20-an sepertinya. Itu nggak lama setelah lulus sekolah (SMK) kok,” ucap Syahidi. 

Syahidi sebenarnya ingin merantau ke kota besar. Tapi situasi itu membuatnya mengurungkan niat. Demi menjaga ibu agar tidak kesepian. Apalagi, kakak-kakaknya tersebut sudah berpesan: “Yang bisa jaga ibu penuh ya kamu. Kakak-kakakmu ini kan sudah berkeluarga. Sibuk juga.” Tidak ada opsi membawa dan merawat ibu di rumah salah satu dari mereka. 

Dicap gagal karena pekerjaan dan belum cicipi pernikahan

Seiring waktu, tudingan-tudingan tidak menyenangkan dialamatkan orang-orang sekitar pada Syahidi. Hidupnya tampak suram dibanding kedua kakaknya: hanya sebagai montir bengkel milik temannya. Semata agar ia tidak jauh-jauh dari rumah. 

Iklan

Terlebih, ketika usianya menjelang 30-an dan belum menikah, cibiran juga dialamatkan pada dirinya. Dianggap perjaka tua hingga tidak laku. 

Padahal alasannya tidak kunjung menikah adalah: kalau ia menikah, otomatis harus membagi uang dengan sang istri. Ia takut kebutuhan hidup tidak terpenuhi secara semestinya. Sementara kakak-kakaknya juga sangat jarang membagi uang untuk kebutuhan ibu—khususnya kebutuhan berobat. 

Baca halaman selanjutnya…

Yang katanya anak sukses secara materi nyatanya menggonggong paling berisik soal warisan 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2026 oleh

Tags: merawat orang tuapembagian warisanrebutan warisanstandar kesuksesanstandar suksesWarisan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO
Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026
Pertamax Turbo Naik, Curiga Pertamax dan Pertalite Langka Stres

Kata Siapa Pemakai Pertamax Turbo Nggak Ngamuk Melihat Kenaikan Harga? Saya Juga Stres karena Curiga Pertamax dan Pertalite Akan Jadi Barang Langka

19 April 2026
Gagal daftar CPNS usai lulus Unair, pilih slow living di Bali. MOJOK.CO

Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.