Seorang anak yang dianggap paling gagal, justru yang paling tulus merawat orang tua dan bahkan tidak terlalu menuntut warisan. Sedihnya, ia kerap direndahkan hanya karena tidak bisa mengikuti standar sukses ala kapital.
***
Hidup di tengah-tengah saudara kandung yang telah “menjadi orang”, membuat sosok Tri seperti anak gagal dan tidak berguna. Ia hanya seorang penjual bensin eceran.
Ia tidak mampu membeli mobil, mendapat gelar birokratik (PNS), atau membangun rumah besar seperti saudara-saudaranya. Tapi ia menjadi satu-satunya anak yang tampak sangat tulus merawat ibunya hingga menjelang tutup usia.
Bahkan saat pembagian warisan, saudara-saudara Tri memandang warisan sang ibu sebagai sesuatu yang tidak bernilai: hanya seonggok lemari. Sementara Tri, memperlakukan lemari tersebut layaknya rahim ibu: tempat hangat untuk meringkuk sebagaimana rahim ibunya.
Itu adalah gambaran ringkas film pendek Lemantun (2014) garapan Wregas Bhanuteja. Menyajikan secara telanjang realitas sosial di masyarakat kita. Karena tidak sulit menemui sosok Tri di dunia nyata.
Tinggalkan standar sukses di usia muda, mengalah demi jaga ibu agar tak kesepian
Memang situasi semacam itu tidak hanya dialami oleh anak terakhir. Namun, kebanyakan anak bungsu lah yang harus mengalah. Seperti Syahidi (32) yang awalnya berbagi cerita singkatnya melalui sebuah grup Facebook, sebelum membagi cerita versi lengkapnya melalui messenger kepada Mojok.
Syahidi mengaku tak cukup beruntung karena tidak pernah merasakan masa kejayaan yang bapak. Dua kakaknya beda soal.
Kakak keduanya (laki-laki) sempat mencicipi bangku kuliah dan berhasil menjadi penghulu. Sementara kakak keduanya (perempuan), memang tidak kuliah. Tapi menikah dengan lelaki mapan.
Mereka hidup dalam gelimang materi yang menjadi standar sukses di desanya di Jawa Timur: (masing-masing punya mobil, motor lebih dari satu, dan rumah luas). Sementara Syahidi berbeda sama sekali.
“Sejak bapak wafat, saya yo menemani ibu, to. Saya umur menjelang 20-an sepertinya. Itu nggak lama setelah lulus sekolah (SMK) kok,” ucap Syahidi.
Syahidi sebenarnya ingin merantau ke kota besar. Tapi situasi itu membuatnya mengurungkan niat. Demi menjaga ibu agar tidak kesepian. Apalagi, kakak-kakaknya tersebut sudah berpesan: “Yang bisa jaga ibu penuh ya kamu. Kakak-kakakmu ini kan sudah berkeluarga. Sibuk juga.” Tidak ada opsi membawa dan merawat ibu di rumah salah satu dari mereka.
Dicap gagal karena pekerjaan dan belum cicipi pernikahan
Seiring waktu, tudingan-tudingan tidak menyenangkan dialamatkan orang-orang sekitar pada Syahidi. Hidupnya tampak suram dibanding kedua kakaknya: hanya sebagai montir bengkel milik temannya. Semata agar ia tidak jauh-jauh dari rumah.
Terlebih, ketika usianya menjelang 30-an dan belum menikah, cibiran juga dialamatkan pada dirinya. Dianggap perjaka tua hingga tidak laku.
Padahal alasannya tidak kunjung menikah adalah: kalau ia menikah, otomatis harus membagi uang dengan sang istri. Ia takut kebutuhan hidup tidak terpenuhi secara semestinya. Sementara kakak-kakaknya juga sangat jarang membagi uang untuk kebutuhan ibu—khususnya kebutuhan berobat.
Yang katanya penuhi standar sukses, paling sibuk rebutan warisan
Ini bagian paling menyebalkan bagi Syahidi. Ibu Syahidi memang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Oke, ajalnya barangkali sudah dekat. Namun, ia merasa tidak sepatutnya saja anak-anaknya sudah berebut warisan.
Itu terjadi belum lama ini. Dua kakaknya, membawa anak dan pasangannya, beberapa kali mengajak berembuk soal warisan.
Saat bapak mereka wafat, memang belum ada urusan bagi-bagi warisan. Kakak-kakak Syahidi sengaja menunggu sampai orang tua mereka sudah tiada keduanya.
“Ya gontok-gontokan, Mas. Satu bilang, butuh buat anak. Satunya bilang, penting buat usaha jadi harus dapat jatah lebih besar,” jelas Syahidi.
“Ada apa ya, paling beberapa ekor kambing, sepetak tanah, sama rumah. Rumah ibu juga jadi rebutan. Artinya, kalau rumah buat mereka, aku harus pergi, to,” sambungnya.
Syahidi merasa sedih sendiri. Sebab, orang yang katanya sudah memenuhi standar sukses secara materi, nyatanya justru yang menggonggong paling kencang soal warisan. Taek!
Sementara Syahidi menegaskan, ia sama sekali tidak peduli dengan warisan. Kalau mau, biar kedua kakaknya saja yang seperti anjing berebut tulang. Kalau toh ia nantinya terusir dari rumah, juga tidak masalah. Yang penting baginya adalah merawat ibu sebaik-baiknya sebagai bentuk baktinya pada orang tua.
Setelah urusan merawat orang tua itu selesai, mau seperti apa hidupnya sudah tidak penting lagi. Itu prinsip yang dipegang Syahidi.
Beda cara memaknai warisan orang tua
Tri dan Syahidi hanya sedikit contoh kasus saja. Di luar sana, masih banyak orang-orang dengan kondisi serupa: dicap gagal karena tidak mampu memenuhi standar sukses tertentu, tapi justru menjadi yang paling tulus dan telaten dalam merawat orang tua.
Ekonom dan Sosiolog Amerika terkemuka, Gary S Becker punya teori yang cukup relevan untuk menggambarkannya (dalam buku A Treatise on the Family). Sialnya memang, di dunia ini, ada orang-orang yang memperhitungkan opportunity cost untuk urusan merawat orang tua.
Orang-orang yang telah yang dalam posisi sukses materi—berdasarkan standar kapital—punya kecenderungan cara berpikir: waktu yang dikorbankan sepadan tidak dengan materi yang didapat.
Fokus merawat orang tua dinilai tidak produktif. Buang waktu banyak, tapi tidak menguntungkan karena tidak ada upah yang masuk. Berbeda dengan kesibukan kerja mereka yang setiap harinya bernilai rupiah.
Ikatan dengan orang tuanya pun menjadi ikatan transaksional. Tidak mau rugi. Itulah kenapa mereka menjadi yang paling berisik jika sudah menyoal warisan.
Berbeda dengan ia yang memang dengan tulus merawat orang tua sebagai bentuk bakti anak. Ikatannya dengan orang tua adalah ikatan relasional, seperti teori social exchange Sosiolog Amerika lain, George Homans.
Bagi orang seperti Tri atau Syahidi, warisan materi tidak lagi penting dan jadi target yang harus direbut. Bagi mereka, cukup kelegaan batin telah menjadi anak berbakti. Memori-memori baik dari hari-hari bersama orang tua yang ditemani menjadi warisan paling berarti.
Seperti Tri, memang warisan ibu hanya berupa lemari. Namun, lemari itu menyimpan kenangan bersama sang ibu: membuat Tri merasa hangat tiap kali meringkuk di dalamnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













