ADVERTISEMENT

Alasan Saya Lebih Nyaman PP Satu Jam Solo-Jogja daripada Ngekos, karena Bikin Mental Lebih Sehat

Ilustrasi penumpang KRL Jogja Solo.MOJOK.CO

Kebanyakan orang bakal memilih ngekos daripada PP sejam perjalanan Solo ke Jogja yang cuma bikin capek di jalan. Namun, Andini memilih sebaliknya: ia memilih ngelaju saja karena merasa bikin mental jauh lebih sehat.

***

Semasa kuliah, Andini (27) sebenarnya adalah penganut gaya hidup anak kos pada umumnya. Selama empat tahun kuliah di salah satu PTN Jogja, ia menyewa sebuah kos di dekat kampusnya.

Andini cuma pulang ke Solo pada akhir pekan dengan menempuh perjalanan motor sekitar satu setengah jam. 

“Waktu itu harus aku akui, belum ngerti susahnya cari duit. Sebab, segala kebutuhan hidup udah disuplai sama ortu,” kisahnya, Sabtu (12/9/2026).

Setiap bulan, saat itu, orang tuanya mentransfer Rp750 ribu untuk biaya sewa kos. Belum lagi uang saku mingguan sebesar Rp500 ribu untuk ongkos makan dan bensin. 

Praktis, dalam sebulan pengeluarannya bisa dengan mudah menembus angka jutaan rupiah tanpa ia harus pusing memikirkan dari mana uang itu berasal. Semua terasa mudah dan tanpa beban waktu itu.

Mindset berubah setelah tahu susahnya cari uang

Situasi berbalik seratus delapan puluh derajat ketika Andini lulus pada 2024 lalu dan mulai memasuki dunia kerja. Saat harus membiayai hidupnya sendiri dan menanggung tanggung jawab penuh atas dompetnya, cara berpikirnya berubah.

Andini bercerita, ketika keringat sendiri yang dipertaruhkan, mengeluarkan uang Rp50 ribu sehari saja mendadak terasa sangat berat dan amat disayangkan. Apalagi, bukan rahasia lagi jika standard upah pekerja di Jogja bisa dibilang pas-pasan.

“Dulu mau jajan jorjoran banget, soalnya nggak mikir gimana ortu nyari duitnya,” ungkap Andini.

Setelah melalui berbagai pertimbangan matematis, ia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menyewa kamar kos. Ia memilih ngelaju dari Solo ke Jogja. 

Pada minggu-minggu awal, ia sempat memaksakan diri mengendarai motor. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan ritme yang lebih nyaman dengan mengandalkan transportasi umum, yakni KRL, terutama setelah ia mendapatkan kepastian jam kerja dari pukul sembilan pagi hingga lima sore.

“Alhamdulillah, ya, sekarang jam kerja udah pasti banget, absen pagi jam 9 pulang jam 5, jadi semua bisa diperhitungkan.”

Kini, rutinitasnya bisa lebih terukur. Paginya, dari Solo, ia naik KRL dan turun di Stasiun Maguwo. Dari sana, ia menyambung perjalanan menggunakan bus TransJogja yang memiliki rute pemberhentian tepat di halte depan kantornya di kawasan Babarsari

Jika waktunya sedang mepet, ia cukup memesan ojek online dari stasiun dengan tarif yang tak sampai Rp10 ribu. Dengan pola komuter ini, ia rata-rata hanya menghabiskan Rp50 ribu per hari, dan itu sudah mencakup biaya transportasi sekaligus makan siangnya. 

Baginya, angka ini jauh lebih masuk akal ketimbang harus membayar sewa kos bulanan dan menanggung biaya hidup mandiri selama 24 jam di kota orang.

Prinsip jadi “Teng-Go” bikin mental lebih sehat

Selain urusan dompet yang lebih aman, ada hal lain yang membuat Andini sangat menikmati rutinitas ngelaju, yakni kesehatan mental. Statusnya sebagai penglaju antarkota memberinya privilese mutlak untuk melakukan teng-go, begitu jam menunjukkan pukul lima sore, ia bisa langsung buru-buru pulang.

Ia memiliki alasan yang sah untuk menghindari segala macam drama kantor atau ajakan nongkrong sepulang kerja. 

Semasa kuliah, Andini bilang kalau dirinya sangat kuat begadang nongkrong di kafe hingga pagi buta. Namun, setelah bekerja, ia sadar bahwa hal semacam itu sangat menguras energi. 

“Apalagi obrolan di tongkrongan sepulang kerja itu kadang hanya berisi gosip yang nggak ada ujungnya,” kata Andini.

Kini, ia jauh lebih menghargai waktunya. Pulang kerja adalah waktunya untuk benar-benar beristirahat dan melepaskan diri dari urusan pekerjaan. Ia tak perlu merasa tidak enak hati menolak ajakan rekan kerjanya, karena semua orang memaklumi bahwa ia harus mengejar jadwal kereta. 

Toh, sahabat-sahabat terdekatnya sejak lama memang semuanya berada di Solo.

Waktu lebih berkualitas bersama keluarga dan anabul di Solo

Andini juga cerita, ujung dari segala rutinitas perjalanan ini bermuara pada satu hal yang tak bisa dibeli oleh anak kos, yakni kualitas waktu di rumah. 

Menjadi penglaju memberinya ruang yang luas untuk menemani ayahnya yang kini semakin menua. Ia bisa melihat keluarganya setiap hari, yang baginya, adalah kemewahan yang sering kali terenggut dari para pekerja rantau.

“Apalagi bapak juga udah pensiun, lebih sering di rumah. Jadinya sebagai anak kalau bisa ya aku juga hadir.”

Tak hanya itu, keputusan ini juga menyelamatkan tiga ekor kucing peliharaannya. Bagi Andini, merawat anabul di rumah jauh lebih masuk akal dan terurus ketimbang harus membawanya ke kamar kos yang sempit. 

Ia tak pernah khawatir memikirkan nasib kucing-kucingnya saat ia sedang bekerja di Jogja, sebab masih ada ayah dan ibunya di rumah yang dengan senang hati membantu memberi makan dan merawat mereka.

“Kalau ngerawat mereka di kos malah repot sendiri kan,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pengalaman Pertama Orang Klaten Naik KRL Jogja-Solo, Sok-sokan Berujung Malu karena Tak Paham Kursi Prioritas dan Salah Turun Stasiun atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 13 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version