Seorang pemuda, apalagi dengan tiga gelar universitas sekaligus, mestinya punya daya tawar besar—untuk menjadi pekerjaan—di kota. Namun, seorang pemuda berusia 28 tahun ini justru memilih meninggalkan gemerlap kota untuk membangun hidup di perdesaan. Modal pengalaman yang ia miliki ternyata sangat berguna untuk bertahan hidup di desa melalui budidaya jamur.
***
Meninggalkan kota untuk membangun hidup di perdesaan, bagi beberapa orang, adalah pilihan hidup penuh risiko. Apalagi bagi seorang dengan gelar universitas tidak main-main.
Mencari pekerjaan memang semakin susah. Namun, jika bertaruh di kota, setidaknya peluangnya masih terbuka lebar.
Tapi Nguyen Tien Dat punya upaya berbeda. Pemuda asal kota Can Tho, Vietnam. itu justru menemukan kehidupan menjanjikan sejak memutuskan meninggalkan kota untuk membangun hidupnya di perdesaan.
3 gelar universitas, sempat kerja di perusahaan tapi pilih budidaya jamur di perdesaan
Dat, panggilan akrabnya, menyandang tiga gelar perguruan tinggi, yakni: Teknologi Teknik Kontrol dan Otomasi, Pertanian Berteknologi Tinggi, dan Administrasi Bisnis.
Gelar-gelar yang terbilang bergengsi. Tak ayal jika dengan gelar universitas tersebut Dat pernah bekerja di sebuah perusahaan pestisida di daerah perkotaan.
Di tengah jalan, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menciptakan sistem pertanian yang bersih dengan menggunakan piranti teknologi—bidang yang ia kuasai. Dorongan itu semakin hari semakin kuat, hingga membuatnya mantap memutuskan pulang ke perdesaan untuk mengembangkan bisnisnya sendiri: budidaya jamur.
“Saya ingin mempraktikkan pertanian dengan cara yang bisa mengurangi tenaga kerja, meningkatkan produktivitas dan kualitas. Nah, jamur rayap hitam cocok karena mudah dikendalikan lingkungannya, kurang rentan terhadap hama dan penyakit, memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan kurang terpengaruh oleh perubahan iklim,” ujar Dat sebagaimana dalam wawancara bersama Vietnam.vn.
Awal tidak sempurna saat pemuda denga 3 gelar universitas kembali ke perdesaan
Upaya budidaya jamur rayap hitam itu mulai ditekuni Dat sejak awal 2024. Pemuda dengan tiga gelar universitas itu mengembangkan model berteknologi tinggi untuk budidaya jamur rayap hitam.
Dat bereksperimen dengan menumbuhkan jamur rayap hitam menggunakan 500 substrat. Hanya saja, karena teknik yang belum sempurna, setiap substrat menghasilkan kurang dari 100 gram, lebih rendah dari standar 150-200 gram per substrat.
Dat tidak mau putus asa. Ia lantas mencoba menyesuaikan proses teknis, mulai dari pengendalian lingkungan hingga perawatan.
Hasilnya, waktu panen dipersingkat dari enam bulan menjadi empat bulan untuk mengurangi biaya produksi. Embrio yang menunjukkan jamur hijau pun dihilangkan lebih awal untuk mencegah penyebaran penyakit.
Sukses budidaya jamur hingga punya area seluas 100 meter
Seiring waktu, budidaya jamur rayap hitam sarjana tiga gelar tersebut menunjukkan tanda-tanda kesuksesan. Dat bahkan memperluas area budidaya jamurnya dan meningkatkan teknologinya.
Area budidaya jamur berteknologi tinggi milik Dat awalnya hanya beberapa puluh meter persegi. Tapi kemudian diperluas menjadi 100 meter persegi dengan dua bagian terpisah.

Ia pun menyisihkan sebagian besar untuk melengkapi are budidayanya dengan sistem irigasi otomatis dan peralatan pemantauan lingkungan menggunakan sensor IoT (sensor pintar). Sensor itu memungkinkan pemantauan dan penyesuaian suhu, kelembaban, cahaya, dan konsentrasi CO₂ dari jarak jauh yang bisa dikontrol melalui ponsel pintar.
Budidaya jamur rayap hitam milik Dat pun menghasilkan produktivitas tinggi dengan penghasilan stabil.
“Penggunaan teknologi membuat hasil panen jamur meningkat sekitar 30-40% dibandingkan dengan metode tradisional. Secara signifikan mengurangi biaya tenaga kerja dan risiko penyakit. Jamur dapat dipanen setelah 20-25 hari, dengan periode panen stabil selama 3-4 bulan,” terang Dat.
Dat kini bisa memanen 8-10 kg jamur segar setiap hari. Jamu itu kemudian bisa dijual di harga 300.000-350.000 VND/kg (setara Rp195.000/Rp225.000/kg). Dengan kata lain, dalam beberapa hari, ia bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam beberapa hari dengan hanya tinggal di perdesaan.
Kalau orang kota mau meniru
Dat kemudian memperluas sektor bisnisnya, tidak hanya pada budidaya jamur segar, tapi juga jamur kering. Dari hasil budidaya jamur segarnya, Dat kemudian membeli mesin pengering untuk pengolahan jamur kering.
Jamur-jamur itu pun tidak hanya didistribusikan ke pasar atau restoran. Tapi juga sudah dipasarkan melalui platform daring.
“Dalam waktu dekat, saya akan membuka lebih banyak pertanian jamur, berinvestasi dalam lini produksi bibit jamur, dan mentransfer teknologi kepada rumah tangga yang membutuhkan. Saya berharap model ini tidak hanya membawa manfaat ekonomi tetapi juga menyebarkan semangat kewirausahaan pertanian modern,” tuturnya.
Menurut Dat, budidaya jamur rayap hitam ternyata tidak hanya bisa dilakukan di desa, loh. Sarjana tiga gelar yang sukses di perdesaan itu dengan murah hati berbagi ilmu:
Katanya jamur rayap hitam tidak membutuhkan lahan yang luas, perawatannya mudah, dan dapat dilakukan baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Bahkan dengan memanfaatkan atap, lantai dasar, atau ruangan tertutup.
Yang jelas, jamur rayap hitam bisa tumbuh subur pada suhu 26-28°C dan kelembaban di atas 85%. Itulah kenapa sistem penyemprotan otomatis dan kipas pendingin udara sangat penting pemakaiannya, sebab bisa membantu menjaga kondisi ideal bagi jamur sepanjang tahun.
“Pertanian modern tidak harus selalu di ladang. Dengan teknologi yang tepat, Anda benar-benar dapat melakukan pertanian di rumah Anda sendiri,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
Sumber: Vietnam.vn
BACA JUGA: Gagal Membangun Karier di Sidoarjo, Putuskan Pindah ke Tuban untuk Buka Usaha Sendiri hingga Raup Gaji Melimpah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan