Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

ilustrasi - Philip Avianto, dokter muda yang beralih profesi jadi penasihat petani di Klaten. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Segala penyakit yang muncul dari pasien saya itu ternyata sangat dipengaruhi dari tanahnya dulu. Tanah pertanian kita, tanah di mana tempat kita tinggal,” jelas Philip Avianto yang dulu berprofesi sebagai dokter dan kini beralih ke ‘penasihat’ para petani di Klaten.

Pengalaman ‘mati suri’ yang mengantarkan saya jadi dokter

Sejak duduk di bangku SMP, Philip Avianto (29) punya keinginan besar menjadi dokter. Mimpi itu pun terwujud setelah 6 tahun lamanya. Namun, Avi, sapaan akrabnya, kini dikenal bukan sebagai dokter umum biasa melainkan “dokter petani”. 

Pemuda asal Klaten, Jawa Tengah itu berujar ketertarikannya menjadi dokter muncul dari pengalaman hidupnya yang sering dihabiskan di bangsal rumah sakit. Bahkan hingga remaja, Avi rutin memeriksakan diri karena sering sakit-sakitan. 

Sampai kemudian, Avi memahami arti dari rekam medisnya selama ini, bahwa dia pernah ‘mati suri’ tepat ketika dilahirkan ke dunia. 

“Ternyata jantung saya pernah bocor saat dilahirkan. Detak jantung saya tipis banget pada saat itu, bahkan sudah dikira meninggal karena saya cuma diam. Namun, setelah 15 menit, saya akhirnya menangis,” ucap Avi saat ditemui Mojok di Pabrik Beras Komsah miliknya di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten pada Kamis (2/7/2026).

Dokter Philip Avianto di Klaten. MOJOK.CO
Philip Avianto, pemuda asal Klaten yang mengabdikan diri sebagai ‘dokter petani’. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Waktu bayi saya memang nggak ingat persis kejadiannya seperti apa, tapi ada memori waktu kecil di otak saya, ketika mata saya rasanya seperti diblok dan pandangan saya seperti layar TV yang bersemut,” lanjut Avi. 

Kejadian itu pun membuat Avi bersyukur atas kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuhan. Avi yang sebelumnya enggan ke rumah sakit untuk periksa, kini lebih legawa. Sejak saat itu pula, dia berkontemplasi.

“Saya sadar bahwa ternyata di rumah sakit itu semua orang diperlakukan setara. Baik yang kaya maupun prasejahtera bisa saja ditimpa sakit. Semuanya pun dilayani dengan harapan dia bisa sembuh,” jelas Avi. Kesadaran inilah yang memantapkan niatnya menjadi dokter.

Tugas preventif dokter yang selama ini diabaikan

Cita-cita Avi menjadi dokter akhirnya terwujud setelah lulus kuliah tahun 2019, menjalani koas selama 2 tahun, hingga mengambil sumpah dokter pada tahun 2021. Selanjutnya, dia mulai bertugas jaga di Puskesmas Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Cuma permasalahannya setelah saya praktik sebagai dokter, saya nggak pernah merasa puas dengan apa yang saya lakukan. Maksudnya gini, apa yang saya lakukan kok rasanya belum menyelesaikan akar dari masalah kesehatannya ya?” ujar alumnus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta tersebut.

Avi membina kelompok tani di Klaten. (Dok.istimewa)

Avi yang mayoritas pasiennya adalah petani berujar, keluhan mereka saat ke puskesmas hanya dua. Kalau tidak mumet, kata dia, ya mumet banget. Setelah diberi resep obat dan nasihat macam-macam, mereka akan kembali lagi dengan keluhan serupa.

Sebagaimana tugas dokter yang tak hanya menyembuhkan tapi juga mencegah, Avi pun mulai mencari akar masalahnya dengan bercengkerama lebih dalam bersama petani di luar jam kerja. Dia pun tak segan untuk terjun langsung ke sawah-sawah dan mendengarkan langsung keluhan para petani.

“Sampai akhirnya saya menemukan korelasi antara lahan pertanian mereka yang kurang bagus dan berdampak pada kesehatan petani,” kata Avi.

Banting setir dari dokter ke penasihat petani

Temuan Avi bukan sekadar klaim tak berdasar. Pagi sampai siang, dia menjalani rutinitas dokter seperti biasa. Sorenya dia lanjut ke sawah, lalu malamnya dia melakukan riset dari jurnal maupun buku. Berbulan-bulan lamanya, rasa penasaran Avi soal dunia pertanian pun kian tak terbendung.

“Petani itu sebetulnya punya empat prioritas. Dalam bahasa Jawa itu ada Siti (tanah), Wiji (benih), Wanci (musim), dan Pangrukti (perawatan). Setelah saya dalami, sumber masalahnya ada di kualitas tanah yang sudah rusak. Ketika tanah rusak, ya manusianya juga sakit-sakitan. Ini yang perlu dimitigasi,” jelas Avi.

Beras Komsah dari Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Tentu pelajaran ini tak didapat saat Avi duduk di bangku kuliah, melainkan obrolan ringan bersama petani, ahli tanaman, ahli pupuk, hingga ayahnya yang merupakan peneliti aktif di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widyatmoko yang juga berfokus pada penelitian pupuk Kompos dan Sampah Organik (Komsah).

Pupuk itu dipercaya bagus untuk beras karena mampu mengembalikan pH tanah, menekan penggunaan pupuk kimia, dan membuat bulir padi lebih mentes atau padat, sehingga hasil panen pun jauh lebih berkualitas. 

Informasi itulah yang kemudian Avi bagikan kepada pasiennya yang rata-rata adalah petani. Dengan bahasa yang lebih membumi, Avi berharap para petani bisa lebih teredukasi dan tidak sakit-sakitan lagi.

“Setelah uji coba yang kami lakukan selama 1 tahun, hasilnya ternyata bagus. Sejak saat itu, saya mulai mendirikan Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) untuk melakukan edukasi serta pendampingan kepada petani,” kata Avi.

Sukses bikin Puskestan untuk membina para petani

Dengan pola yang tidak menggurui dan niat yang tulus, dokter Avi pun mulai dikenal oleh para petani bahkan di luar pasiennya. Seiring berjalannya waktu, Puskestan pun semakin berkembang dan diundang di berbagai acara.

“Saya sempat membina 400 kelompok tani sendirian pada saat itu dan saya juga belum meninggalkan profesi utama saya sebagai dokter. Akhirnya saya merekrut beberapa anak muda dan berencana mendirikan PT sendiri,” ucap Avi.

Avi bersama anggota Puskestan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Tentu saja keputusan tersebut tak bisa langsung diterima oleh orang tua Avi. Orang tuanya takut jika Avi hanya terbawa suasana. Sampai kemudian Avi berhasil membuktikan diri dan menjawab tantangan dari ayahnya.

“Saya mulai merekrut puluhan anak muda, mencari-cari petani yang mau dibina sampai akhirnya terkumpul ribuan kelompok tani, bahkan saya punya kesempatan untuk berani mendirikan pabrik beras di Klaten,” kata Avi.

“Selanjutnya, saya buat model closed loop ecosystem agar petani tidak kebingungan harus menjual gabah ke mana atau kalah sama tengkulak,” lanjutnya.

Ketika petani sudah tidak stres, di situlah mereka kembali sehat. Pada akhirnya, Avi pun menyadari terdapat kesinambungan antara kesehatan tanah dan manusia. Dalam 4 pilar yang diutamakan oleh petani tadi, Avi menyadari bahwa tanah adalah fondasi utama yang saling berhubungan dengan cuaca, kualitas benih, hingga proses pemeliharaan tanaman.

“Dari situlah kira-kira saya dapat jawaban tentang keresahan saya di awal tadi. Ternyata benar, kita sebagai dokter itu hanya menyelesaikan sedikit dan hanya mampu menyembuhkan sedikit faktor dari apa yang sudah ada di meja kita,” kata Avi yang kini sudah membina 3 ribu kelompok tani di Klaten.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version