Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

Ilustrasi - Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Gabriëlle merilis EP bertajuk Animals. Mengkritik dunia yang mulai kehilangan kemanusiaannya melalui alegori hewan.

***

Ada alasan kuat mengapa para musisi kerap meminjam wujud binatang ketika kemarahan mereka terhadap kelakuan manusia sudah berada di ujung tanduk. Bagi saya, strategi ini adalah cara paling efektif untuk menyindir keburukan sebuah zaman, tanpa harus terkesan menceramahi atau menggunakan bahasa politik yang membosankan.

Hampir setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1977, band rock legendaris Pink Floyd merilis album ikonik berjudul Animals untuk menggugat ketimpangan sosial dan keserakahan kapitalisme di Inggris. 

Terinspirasi dari novel satir Animal Farm karya George Orwell yang terbit tahun 1945, mereka membagi manusia ke dalam beberapa kelompok. Ada babi sebagai penguasa yang korup, anjing sebagai kaki tangan yang kejam, dan domba sebagai warga yang penurut. Pink Floyd membungkus keputusasaan zaman itu lewat musik progressive rock yang panjang, gelap, dan melankolis.

Ketika mendengarkan album itu, saya bisa merasakan bagaimana Pink Floyd mengajak pendengarnya berselancar melewati keputusasaan sebuah zaman yang mulai kehilangan kemanusiaannya.

Lima dekade kemudian, tahun 2026, di sebuah sudut di Kota Jogja, amarah yang serupa kembali mendidih. Saya melihat bagaimana “kritik ala Roger Waters” itu hidup lagi melalui seorang mahasiswi berusia 21 tahun bernama Gabriëlle. 

Gabriëlle.MOJOK.CO
Gabriëlle, mahasiswi berbasis di Jogja, merilis EP yang berjudul serupa album Pink Floyd, Animals (2026). Judul dan muatan memang serupa, tapi dalam versi yang lebih cadas. (dok. Bangghul)

Melalui EP debutnya yang secara sadar juga diberi judul Animals, ia merekam keresahan personalnya terhadap rentetan tragedi kemanusiaan global saat ini. Mulai dari kekejaman militer di Gaza, “kemandulan” lembaga internasional seperti PBB, hingga kekejaman sistem ekonomi yang memeras kelas pekerja bawah.

Karya ini resmi dilepas ke publik pada tanggal 22 Mei 2026 di bawah bendera Repertoart Records.

Namun, pergeseran zaman ini melahirkan kontras yang bagi saya sangat menarik. Gabriëlle tidak lagi merespons dunia yang rusak ini dengan nada-nada rock yang megah, tapi lambat. Ia tampaknya menyadari bahwa realitas abad ke-21 yang serba cepat, bising, dan brutal harus dibalas dengan bahasa musik yang sama brutalnya. 

Animals dalam versi yang lebih cadas

Bagi saya, di sinilah letak keunikannya. Cetak biru distopia dunia binatang milik Pink Floyd, kalau kata Jacques Derrida, “dihancurkan dan dirakit ulang” oleh Gabriëlle ke dalam ledakan aransemen metalcore yang sangat agresif.

Instrumen yang dirancang oleh sang produser, Sambung Penumbra, langsung terasa sangat padat, istilah kekiniannya “nggak mungkin kalau nggak headbang”.

Kedengarannya, musik dalam EP ini didominasi oleh setelan gitar gaya drop B yang sangat tebal dan rendah. Karakter suaranya berat, sehingga langsung mengingatkan saya pada gelombang band modern metal bahkan deathcore seperti Architects, Asking Alexandria, Parkway Drive, hingga masa awal Bring Me The Horizon saat merilis album Count Your Blessings.

Menariknya lagi, di balik pengaruh sound modern yang kental tersebut, saya juga menangkap adanya denyut nadi musik lokal yang kuat. Riff-riff gitarnya yang kasar membawa memori saya pada gaya permainan gitar khas mendiang Ricky Siahaan dari Seringai. Musiknya dibuat sederhana tanpa banyak basa-basi teknis yang rumit, sehingga fokus pendengar bisa langsung tertuju pada energi amarah yang disampaikan secara instan.

Di tengah kepungan instrumen yang pekat itulah, suara scream Gabriëlle terdengar sangar. Karakter vokalnya yang tajam seketika melempar ingatan saya pada kegarangan Nervosa, kuartet thrash metal perempuan asal Sao Paulo, Brazil, yang dua tahun lalu sempat menghentak panggung festival Hammersonic. Warna vokal scream Gabriëlle terasa sangat identik dengan sang vokalis, Prika Amaral, yang parau, tajam, tapi artikulasinya tetap terdengar jelas. 

Sangat sulit dipercaya bahwa vokal seganas ini dihasilkan oleh seorang solois yang mengaku baru mengenal musik metal empat tahun lalu, dan baru mempelajari teknik vokal ekstrem selama dua tahun terakhir. Edan!

I. Babi, penguasa yang menjadi penindas

Bagi saya, agresi sonik yang masif ini bukanlah sekadar pajangan agar terdengar keren. Kebisingan ini ibarat sebuah proyektil peluru. Ketika kita mulai mengurai bait-bait liriknya, kita akan tahu ke mana arah peluru itu ditembakkan. 

Di sinilah kejeniusan bertutur Gabriëlle terlihat. Ia merancang keempat lagu di dalam EP ini seperti sebuah ekosistem pembusukan sistem dunia yang saling mengunci dari atas hingga ke bawah.

Siklus kehancuran ini dimulai tepat di puncak piramida kekuasaan melalui lagu pertama, “Carved in Mud”. Menggunakan analogi babi yang mewakili para pemimpin dunia, lagu ini adalah gugatan terhadap siklus kekuasaan yang selalu korup. 

Gabriëlle memotret realitas pahit di mana para tokoh yang awalnya menggaungkan janji perubahan demi rakyat, justru berbalik menjadi penindas baru yang serakah begitu berhasil mencicipi takhta kekuasaan. 

Janji manis dikencingi begitu saja demi melanggengkan takhta pribadi, sebuah kemarahan yang tertuang konkret melalui penggalan lirik: “Carved in mud / Rewritten by swine / Piss on the promise / Line by line”

Hukum dan aturan ditekuk sesuka hati demi kenyamanan para penguasa, seperti yang ia jeritkan pada baris berikutnya: “Commandments rule all life / Yet you bend them at will / New meanings / To freedom you redefine all laws” .

Lewat lagu “Carved in Mud”, Gabriëlle memotret realitas para tokoh yang awalnya menggaungkan janji perubahan demi rakyat, justru berbalik menjadi penindas baru yang serakah begitu berhasil mencicipi takhta kekuasaan. (dok. Bangghul)

II. Anjing, pelindung yang cuma angguk-angguk ke penguasa

Ketika babi-babi di puncak kekuasaan ini mulai sibuk memanipulasi aturan hukum, mereka tentu membutuhkan barisan pelindung untuk memastikan tidak ada rakyat bawah yang berani melawan. Di sinilah insting purba seekor anjing bekerja melalui lagu kedua berjudul “Heel”. 

Terinspirasi dari kemarahan personalnya melihat kekerasan militer di Gaza, lagu ini berfungsi sebagai kritik tajam terhadap militerisme dan kepatuhan buta aparat keamanan.

Gabriëlle menyindir bagaimana pasukan bersenjata rela mematikan akal sehat dan hati nurani mereka hanya untuk mematuhi perintah kekerasan dari atasan, layaknya anjing peliharaan yang tunduk demi mendapat pujian dari majikannya. 

Hubungan yang mengerikan ini digambarkan benderang lewat bait lirik: “Lost in Command / Crave the sound of / Boots on neck, crushing of bones”

Untuk melipatgandakan kesan satir yang menyakitkan, Gabriëlle menyelingi lagu ini dengan aba-aba kepatuhan hewan peliharaan: “Heel / Good boy / Heel / You bitch!” .

III. Domba, kawanan yang cuma bisa menurut

Di tengah lingkaran setan antara pemimpin yang korup dan aparat yang galak, masyarakat sipil kita justru memilih menjadi kawanan domba yang penurut melalui lagu ketiga, “Kill Their Static”. 

Di sini, ego saya sebagai bagian dari masyarakat langsung ditampar keras. Domba adalah simbol dari massa yang mudah dikendalikan dan dialihkan fokusnya oleh para elite global. Gabriëlle mengkritik bagaimana masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk mengubah keadaan, tetapi memilih untuk membiarkan diri mereka dikontrol. 

Elite penguasa sengaja melemparkan isu-isu pengalihan perhatian secara berkala, entah itu fluktuasi harga kebutuhan pokok domestik hingga skandal figur publik internasional seperti kasus dokumen Epstein, agar massa langsung hening dan melupakan tragedi kemanusiaan nyata seperti genosida di Palestina. 

Kita dibiarkan sibuk bertengkar sendiri di dunia maya mengenai hal-hal tidak esensial, sementara para penguasa terus menarik tali kendali di balik layar tanpa gangguan. 

“Turn your phones off and wake the fuck up / Kill their static and wake the fuck up” .

Begitulah kira-kira, melalui scream yang cadas, Gabriëlle mengajak kita untuk mematikan HP dan mulai melawan penindas

Melalui “Kill Their Static”, Gabriëlle mengkritik bagaimana masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk mengubah keadaan, tetapi memilih untuk membiarkan diri mereka dikontrol. (dok. Bangghul)

IV. Tikus, mereka yang rela memakan kawanannya sendiri

Ketika masyarakat berhasil dibuat mati rasa dan sibuk bertengkar sendiri di dalam pagar, maka bagian terbawah dari ekosistem ini mulai bekerja mengeksploitasi sisa kemanusiaan kita.

Lagu penutup berjudul “Anthropophagous”, yang berarti pemakan manusia, menggunakan karakter tikus untuk membongkar kekejaman sistem kapitalisme modern. 

Gabriëlle memanfaatkan fakta biologis bahwa dalam kondisi penuh tekanan atau stres yang ekstrem, tikus akan saling memangsa sesamanya atau melakukan kanibalisme. Bagi saya, ini adalah penjelasan yang sangat akurat tentang bagaimana sistem ekonomi kita hari ini beroperasi. 

Kapitalisme memaksa kelas pekerja bekerja sangat keras di bawah tekanan tinggi demi mengejar target pasar. Hingga, pada akhir eksploitasi tersebut, fisik, waktu, dan jiwa mereka habis diisap oleh para pemilik modal. 

“We’re worlds apart, / so you cannibalize us” .

Mendengarkan seluruh materi dalam EP Animals ini membawa saya pada sebuah kesimpulan mengenai adanya sebuah paradoks besar yang sedang terjadi di dunia modern kita hari ini. Kita sedang hidup di dalam dunia yang terbalik. 

Media sosial kita setiap hari dipenuhi oleh kebisingan orang-orang yang sibuk memamerkan kepedulian sosial mereka demi sebuah konten, tetapi dunia justru mendadak hening ketika tragedi kemanusiaan yang sesungguhnya terjadi di depan mata. 

Di tengah keheningan itulah, kritik yang paling jujur, berani, dan tajam tentang kemanusiaan justru datang dari seorang mahasiswi introvert berusia 21 tahun yang memilih menarik diri dari sorotan kamera Instagram, lalu berteriak sekuat tenaga di dalam studio rekaman.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saya Percaya, Album “Kalatidha” Down for Life adalah Soundtrack Terbaik untuk Kehidupan yang Buruk atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version