Tahun 2026 membawa tantangan yang tidak mudah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tak terkecuali warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berbagai rentetan bencana alam, fase kelesuan ekonomi, hingga meluasnya isu kesehatan mental yang membayangi generasi muda membuat ruang publik untuk sekadar mengambil jeda semakin dibutuhkan.
Merespons rentetan kondisi tersebut, YAYAYA FEST 2026 hadir pada Minggu (25/10/2026) di Stadion Kridosono, Yogyakarta, sebagai sebuah oase dan ruang aman untuk sejenak bersenang-senang.
“Ruang pelarian” buat merayakan suka, duka, dan luka
Inisiator YAYAYA FEST sekaligus anggota DPD DIY, R. A. Yashinta Sekarwangi Mega, mengungkapkan bahwa festival ini pada dasarnya merupakan wujud pemenuhan janji kampanyenya pada pemilu 2024 lalu.
Namun, seiring berjalannya waktu, niat tersebut justru menemukan urgensi yang jauh lebih mendalam setelah ia melihat langsung realitas pahit di lapangan belakangan ini.
“Di tengah kondisi yang buruk ini, orang-orang membutuhkan ruang untuk bersenang-senang. Melepaskan segala masalah sejenak. Oleh karena itu, acara ini hadir,” ungkap Yashinta.
Ia mendesain festival yang 100 persen dikelola secara nirlaba ini untuk mewadahi kebutuhan emosional masyarakat luas yang sedang kelelahan.
“Oleh karena itu, melalui YAYAYA FEST, mari kita merayakan suka, duka, dan luka bersama,” tambahnya.
Kurasi line up YAYAYA FEST berdasarkan keinginan publik
Karena diniatkan sebagai ruang bersama, deretan pengisi acara pun dikurasi langsung berdasarkan suara publik. Creative Director YAYAYA FEST, Obed Kresna, menjelaskan bahwa proses kurasi line up lintas genre dilakukan secara cermat agar benar-benar mengakomodasi keinginan pendengar.
Untuk memutuskannya, pihak panitia bahkan telah menyurvei sekitar 1.000 siswa dari puluhan SMA di DIY untuk memetakan musisi siapa saja yang paling mereka butuhkan kehadirannya.
Dari hasil penjaringan aspirasi tersebut, YAYAYA FEST akhirnya menghadirkan nama besar seperti MALIQ & D’Essentials dan Lomba Sihir, yang bersanding dengan jajaran talenta kebanggaan lokal DIY yakni Rebellion Rose, Guyon Waton, dan Jumat Gombrong.
“Tentu ada beberapa musisi yang tak bisa kami hadirkan. Namun, line up multigenre, yang kurang lebih mewakili masing-masing kabupaten di DIY, kami hadirkan berdasarkan keinginan mereka,” jelas Obed.

JBI hingga relawan bagi difabel di area konser
Lebih lanjut, visi untuk merayakan suka dan duka bersama ini tentu tidak akan terwujud secara utuh bila masih ada kelompok rentan yang tertinggal. Obed menyoroti banyaknya keluhan yang selama ini disuarakan teman-teman difabel terkait minimnya aksesibilitas saat menonton konser musik reguler.
Oleh karena itu, YAYAYA FEST tidak membangun fasilitas secara asal-asalan. Seluruh tata letak dan layanan dibangun berdasarkan hasil diskusi mendalam bersama lembaga, aktivis, dan komunitas yang fokus pada isu difabel untuk mengetahui kebutuhan riil di lapangan.
Hasil perumusan bersama tersebut diwujudkan dalam penyediaan empat fasilitas aksesibilitas utama di area Stadion Kridosono. Salah satunya, panitia menyiagakan Pusat Layanan Difabel di area gerbang masuk yang didukung oleh 15 relawan khusus untuk membantu mobilitas difabel.
Selanjutnya, terdapat 4 hingga 5 Juru Bahasa Isyarat (JBI) di panggung yang telah dibekali protokol khusus untuk menerjemahkan pertunjukan bagi penonton Tuli.
“Mereka sudah ada workshop khusus. Jadi sebelumnya, para musisi sudah kami minta mengirim setlist lagu yang akan mereka bawakan. Tujuannya agar para JBI ini bisa mempelajari isi lagu dan men-translate maknanya ke penonton difabel nantinya.”
Ada juga elevated platform, seperti panggung penonton yang ditinggikan (viewing deck). Fasilitas ini sangat krusial dalam sebuah konser inklusif agar penonton difabel–khususnya pengguna kursi roda, tuna daksa, atau penyandang disabilitas dwarfism–dapat melihat penampilan musisi di panggung dengan sangat jelas tanpa terhalang oleh lautan penonton lain yang berdiri.
YAYAYA FEST juga menyediakan toilet khusus difabel dengan standar ruang gerak yang memadai. “Sebab, toilet difabel dan non-difabel itu secara bentuk memang beda,” jelasnya.
View this post on Instagram
YAYAYA FEST, ruang saling menguatkan di tengah kondisi yang serba sulit
Praktik inklusivitas ini juga diperluas jangkauannya melalui mekanisme pendanaan acara. Pengunjung dapat mengakses tiket melalui situs yayayafest.id dengan sistem donasi minimal Rp20.000. Uang tersebut dijamin utuh dan tidak dipotong untuk biaya operasional konser.
Donasi yang terkumpul akan disalurkan 100 persen kepada empat komunitas. Salah satunya diberikan kepada Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) guna membiayai pembuatan toilet portabel difabel. Selebihnya disalurkan untuk program pendidikan Sadar Belajar, pemeriksaan kanker serviks oleh PKBI, dan penanaman mangrove bersama KOPHI.
Menghadapi paruh akhir tahun yang berat ini, YAYAYA FEST menempatkan diri sebagai lebih dari sekadar perhelatan musik lintas genre.
“Saya mau acara ini menjadi ruang untuk saling menguatkan dan mendoakan satu sama lain di tengah situasi yang serba sulit ini,” tutur Yashinta.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Membayar Lunas Jejak Karbon di YAYAYA FEST, Konser Murmer dan Ramah Lingkungan di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan