Perhelatan YAYAYA FEST 2026 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, pada Minggu (25/10/2026) menerapkan pendekatan terukur terhadap dampak lingkungan dari sebuah acara hiburan.
Konser musik ini akan menghitung dan menyeimbangkan jejak karbon (carbon offsetting) dari seluruh pengunjungnya melalui penanaman mangrove di Pesisir Temon, Kulon Progo.
Jumlah karbon yang dikeluarkan sama dengan mangrove yang ditanam
Untuk merealisasikan perhitungan teknis tersebut, pihak penyelenggara menggandeng Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Yogyakarta.
Ketua KOPHI Yogyakarta, Rifka Agnes, menyatakan bahwa kerja sama menghitung dan menetralkan emisi karbon dalam skala konser ini merupakan pengalaman pertama bagi organisasinya.
“Tahun sebelumnya, KOPHI bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan dalam skem Forestry and Other Land Uses, aksi penanaman pohon keras di area penyangga Gunung Merapi guna menjaga ketersediaan air. Namun, menghitung carbon offset dalam sebuah konser, menjadi pengalaman pertama,” jelas Agnes, Rabu (21/10/2026).

Ia menjelaskan, langkah penetralan karbon ini dilakukan melalui perhitungan kuantitatif. Menurut Rifka, setiap batang mangrove memiliki rata-rata kemampuan serapan sebesar 50 kilogram emisi karbondioksida.
Nantinya, jumlah pohon yang ditanam akan disesuaikan secara presisi untuk menutupi total kalkulasi emisi yang dihasilkan berdasarkan data pendaftaran pengunjung. Oleh karena itu, pengunjung diwajibkan mengisi data seputar kendaraan yang dipakai untuk datang ke konser untuk bisa menghitung perkiraan emisi yang dihasilkan.
“Termasuk emisi karbon dari genset dan alat penunjang konser,” imbuhnya.
Selain itu, KOPHI juga menerapkan kalkulasi pemantauan karbon mangrove berbasis plot guna mengukur tingkat keberhasilan hidup tanaman. Mengingat penyerapan karbon diestimasi mulai optimal setelah enam bulan penanaman, pohon-pohon yang ditanam pada bulan November tersebut akan terus dipantau perkembangannya secara berkala selama setengah tahun ke depan.
Inisiatif yang lahir dari pengalaman di lapangan
Penerapan konsep ekologis dalam festival ini diinisiasi oleh anggota DPD DIY, R. A. Yashinta Sekarwangi Mega. Keputusan ini diambil berdasarkan data dan pengamatan langsung terhadap krisis iklim di wilayah Yogyakarta.
“Keinginan saya untuk menjadikan YAYAYA FEST sebagai konser yang ramah lingkungan berawal dari pengalaman saya selama ini dalam melayani masyarakat,” ungkap Yashinta.
“Di lapangan, saya melihat langsung bagaimana jumlah permohonan Bantuan Air Bersih Mbak Yashinta pada tahun 2026 ini menjadi yang paling tinggi selama dua tahun program berjalan,” imbuhnya.

Alumni Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada tersebut meyakini lonjakan permintaan air bersih itu berkaitan erat dengan perubahan cuaca ekstrem.
“Saya yakin bahwa lonjakan ini tidak terlepas dari kombinasi antara fenomena Super El Nino terparah dalam satu abad terakhir dan pemanasan global yang berdampak pada kekeringan panjang dan peningkatan suhu ekstrem di Indonesia, khususnya di DIY,” tambahnya.
YAYAYA FEST ramah lingkungan sejak tiket dibeli
Mitigasi lingkungan juga diterapkan di lokasi acara melalui kebijakan tanpa sampah ke tempat pembuangan akhir (zero waste to landfill). Sampah organik yang dikumpulkan dari area konser akan dimanfaatkan sebagai pakan maggot untuk kemudian diolah menjadi kompos.
Sementara untuk penanganan sampah anorganik, panitia berkolaborasi dengan Komunitas Sibhumiasri guna memastikan proses daur ulang berjalan semestinya.
View this post on Instagram
Konsep keberlanjutan ini turut sejalan dengan mekanisme pembiayaan acara. Tiket masuk didistribusikan melalui situs yayayafest.id dengan sistem donasi minimal Rp20.000. Seluruh uang tiket tersebut disalurkan 100 persen untuk komunitas di DIY tanpa dipotong biaya operasional, karena penyelenggaraan acara telah didukung oleh sponsor seperti PT Pertamina dan PT Semen Indonesia Tbk (SIG).
Dana urun penonton tersebut akan membiayai penanaman mangrove oleh KOPHI, pembuatan toilet portabel difabel oleh SIGAB, aktivasi program pendidikan keliling Sadar Belajar, serta skrining IVA dan kanker serviks di lima kabupaten/kota oleh PKBI.
Sesuai dengan komitmen tersebut, fasilitas bagi kelompok difabel seperti pemandu mobilitas, elevated platform, toilet khusus, dan Juru Bahasa Isyarat (JBI) akan tersedia di lokasi.
Di atas panggung, acara ini mengakomodasi lintas genre musik melalui penampilan MALIQ & D’Essentials, Lomba Sihir, Rebellion Rose, Guyon Waton, dan Jumat Gombrong.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Cherrypop 2026: 5 Tahun Lebaran Skena, Jeda, dan Cerita-cerita di Balik Panggung yang Ubah Jalan Hidup Banyak Orang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan