Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

ilustrasi - Arga dan keluarganya dalam film "Tunggu Aku Sukses Nanti". (Mojok.co/Ega Fansuri)

“Jangan takut ketinggalan kereta. Di mana ada kemauan, di situ hidup akan berikan tempat untukmu,” ucap nenek Arga dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang menjadi kutipan favorit Gen Z.

***

Di tengah maraknya film bertema keluarga, “Tunggu Aku Sukses Nanti” berhasil meraih rating 9,7/10 di aplikasi TIX ID. Selain itu, jumlah penontonnya menembus satu juta orang lebih di pekan ke-2 penayangannya pada Rabu (18/3/2026). 

Penasaran dengan hal tersebut, saya memutuskan nonton film yang disutradarai oleh Naya Anindita ini pada Kamis (26/3/2026). Sebelum menonton, saya sudah membaca ulasannya di sini. Beberapa konten soal testimoni dari penonton juga berseliweran di beranda media sosial saya.

Namun, saya masih tidak menyangka kalau kursi penonton di XXI, Sleman bakal penuh oleh penonton yang mayoritas adalah anak muda alias Gen Z. Padahal, saat saya memesan tiket secara online pada H-1 sebelumnya, penontonnya hampir tidak ada. Setelah mendengar POV dari beberapa Gen Z, saya akhirnya paham kenapa film ini begitu menarik bagi mereka.

“Tunggu Aku Sukses Nanti” sedih tapi lawak

Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” sendiri mengisahkan tentang perjuangan anak pertama laki-laki di keluarganya yang awalnya nganggur hingga dapat kerja. Ia pun dituntut untuk memenuhi ekspektasi keluarga besarnya. Serta tak luput dari sindiran tante dan sepupunya yang menganggap anak-anaknya lebih “sukses” dibanding Arga.

Pemuda itu ialah Arga yang diperankan oleh Ardit Erwandha, seorang komika yang pernah menjuarai Stand Up Comedy Indonesia season 6 (2016) dan kini menjadi aktor sekaligus penulis skenario maupun sutradara.

Ardit Erwandha. MOJOK.CO
Ardit Erwandha memerankan tokoh Arga dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti”. (Sumber: Youtube/Rapi Films)

Selain Ardit, ada beberapa komika yang ikut bermain dalam film ini yakni Soleh Solihun, Yono Bakrie, dan Arie Kriting. Bahkan ada almarhum Vidi Aldiano yang tampil sebagai cameo. Melihat dari latar belakang pemainnya saja, kita sudah bisa menebak genre film ini.

Iya, drama komedi dan keluarga. Meski begitu, film “Tunggu Aku Sukses Nanti” tidak gagal dalam menguras emosi penonton. Terutama Gen Z yang mengaku relate dengan beberapa adegan di film.

Realitas anak pertama di film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

“Ternyata aku beneran dibikin nangis setelah nonton film ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’,” kata Ayu Novita (25) saat dihubungi Mojok, Kamis (26/3/2026).

Ayu, sapaan akrabnya, merupakan pekerja di Jakarta yang mengalami sendiri kerasnya kehidupan di ibu kota. Mulai dari mencari kerja, bahkan setelah mendapat pekerjaan yang ia impikan. Meski harus gedebak-gedubuk seperti Arga yang dicurangi oleh teman kantornya sendiri, in this economy, kata Ayu, ia merasa tidak punya pilihan selain bertahan. 

Arga tampak kelelahan di dalam KRL Jakarta.(Sumber: Youtube/Rapi Films)

“Mau cari kerjaan lain pun ekonomi sekarang lagi susah, apa-apa mahal. Jadi saran aku buat kalian yang mau kerja di Jakarta, harus benar-benar punya nyali dan tekad kuat. Karena flow-nya memang secepat dan seseram itu,” ucap perempuan yang besar di Bogor ini.

“Kalau memang udah diterima kerja, pastikan kalau perusahaannya jelas karena udah banyak banget lowongan kerja bodong,” lanjutnya.

Keluarga miskin yang diperlakukan seperti pesuruh

Tak hanya relate dengan pekerja ibu kota, beberapa adegan di film “Tunggu Aku Sukses Nanti” juga terasa nyata bagi Nanda Syaira (23). Perempuan asal Bandung ini sengaja menyempatkan waktu bersama adik bungsunya untuk menonton film “Tunggu Aku Sukses Nanti”, di tengah keriuhan momen kumpul keluarga saat Lebaran. Siapa sangka, adik laki-lakinya itu menangis di pertengahan film.

“Awalnya aku penasaran dengan isi filmnya, karena sudah banyak yang mengulas dan katanya mereka relate. Makanya, aku sengaja mengajak adik bungsuku untuk memberi bayangan ke dia soal kehidupan dewasa terutama saat memasuki dunia kerja,” kata Nanda yang saat ini bekerja sebagai guru SD. 

Momen Lebaran yang menjadi ajang adu pencapaian. (Sumber: Youtube/Rapi Films)

Dan benar saja, Nanda dan adiknya mengaku relate dengan gambaran kehidupan Arga dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti”. Khususnya di beberapa adegan saat Arga dan keluarga besarnya berkumpul di momen Lebaran. Bukannya bermaaf-maafan, acara itu justru menjadi ajang adu pencapaian.

Dalam film yang diproduksi perusahaan Rapi Films tersebut, Arga yang berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah selalu diperlakukan tidak adil oleh saudara-saudaranya. Tak hanya dia, tapi juga ibu, ayah, dan adiknya. Misalnya, sang ibu yang selalu sibuk menyiapkan makanan di meja dan mencuci piring bersama adiknya Alma, sementara tante-tantenya bisa nyaman berfoto hingga bercengkerama. 

Lalu, ayahnya yang selalu disuruh membeli rokok atau kebutuhan lainnya di luar rumah, sementara pamannya bisa mengobrol dengan leluasa. Begitu pula Arga yang memilih tidak nimbrung dengan saudara-saudaranya karena hanya membahas soal pencapaian karier.

“Selalu ada drama membandingkan pencapaian satu sama lain yang mana mereka tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah ada. Dan aku yakin banyak yang relate dengan adegan ini, begitu juga aku,” ujar Nanda yang usianya tergolong Gen Z.

Sadarkan adik dengan nonton film “Tunggu Aku Sukses Nanti” 

Arga menangis saat mengutarakan bebannya sebagai anak pertama. (Sumber: Youtube/Rapi Films)

Pesan lain yang Nanda sorot dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti” adalah sosok Arga yang digambarkan kuat dan penuh tanggung jawab. Di sisi lain, ia juga manusia biasa yang boleh lelah dan mengeluh. 

“Aku ingin menepis stigma di masyarakat kalau cowok nggak boleh cengeng. Padahal menurutku laki-laki itu nggak apa kalau mau menangis maupun mengeluh,” ujar Nanda yang berharap adiknya bakal terbuka untuk menceritakan masalahnya sehingga tidak dipendam sendirian.

Sebab, Nanda sendiri paham betapa susahnya mencari kerja di zaman sekarang. Sebagai anak pertama sekaligus Gen Z, Nanda sudah merasakan bagaimana perjuangannya dulu mencari kerja hingga akhirnya berhasil menjadi guru di salah satu SD di Bandung.

Qodarullah, sebagai anak yatim yang tanggung jawab dan bebannya diberikan di pundakku, aku bisa memendam dan mengusahakan semuanya sendirian,” kata Gen Z tersebut.

Mengetahui beratnya menjalani hari seperti itu, Nanda pun merasa perlu hadir di kehidupan adik-adiknya. Seperti adegan akhir dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti” saat Arga membelikan arum manis untuk anak-anak dan memastikan semuanya dapat di momen Lebaran. Seadil-adilnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: ‘Na Willa’, Merangkul Inner Child, dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version