Senyawa berhasil memberikan pengalaman somatik luar biasa bagi penonton Cherrypop 2026.
***
Perut saya sedang lapar-laparnya ketika alunan dawai ganjil dan teriakan yang memekik itu membelah udara dari arah panggung utama, Cherry Stage. Saat itu, saya masih berada di area food and beverages, baru saja menebus segelas minuman dingin, sementara pesanan makanan belum sempat dibuat.
Aroma daging panggang dari booth burger di sekitar saya seolah memanggil-manggil untuk segera dinikmati. Namun, rasa penasaran di kepala seketika mengalahkan raungan cacing di perut yang sejak siang tadi belum diisi.
Suara dengungan yang “agak mengganggu” itu, tak salah lagi, adalah intro dari Senyawa. Mereka adalah unit musik yang paling saya tunggu penampilannya di hari pertama Cherrypop 2026, Sabtu (22/8/2026) kemarin.
Sebagai penyuka “bunyi-bunyian” aneh, langkah kaki saya pun otomatis terburu-buru, setengah berlari membelah kerumunan pengunjung yang sedang asyik makan. Panggilan bebunyian itu tak ubahnya mantra bising yang menyeret saya dari kejauhan.
Anomali di tengah “pesta pop”
Ada yang unik dari kehadiran Senyawa di susunan pengisi acara malam itu. Cherrypop, secara kultural, sering kali menjadi arena perayaan bagi musik indie pop, rock alternatif, atau band dengan nada-nada catchy yang mengundang penonton untuk sing-along.
Sepanjang sore, telinga kami dimanjakan oleh alunan musik yang relatif riang dan easy listening–kecuali Untu, local-heroes yang memadukan musik death-metal dengan gamelan.
Kehadiran Senyawa di jam krusial ini adalah sebuah anomali. Angin kemarau Agustus yang berhembus kering dan dingin di pelataran Prambanan, seolah menjadi pengantar transisi yang sempurna ini.
Dari penonton yang asyik berdansa santai, setelah sebelumnya panggung dipakai Juicy Luicy dan Daruma Rollin’, kami tiba-tiba ditarik paksa memasuki sebuah ruang kedap bernuansa gelap.

Tepat pukul 19.20 WIB, panggung sepenuhnya dikuasai oleh tata cahaya minimalis. Hanya ada sorotan lampu merah darah yang pekat, menembus kepulan fog machine yang bergerak perlahan tertiup angin malam.
Di balik pendar merah yang mencekam itu, siluet Candi Prambanan dari abad ke-9 menjulang epik. Sebuah visual yang menakjubkan pun tercipta, arsitektur magis peninggalan masa lalu bersanding dengan musik avant-garde eksperimental yang melampaui zamannya.
Bagi mereka yang telah mengikuti jejak grup yang berdiri sejak 2010 ini, Rully Shabara dan Wukir Suryadi telah melangkah jauh menembus dekade kedua sebagai eksportir musik eksperimental metal terbesar dari Indonesia.
Senyawa, yang saya tonton ini, sering disandingkan dengan duo legendaris dunia layaknya Ruins dari Jepang, Lightning Bolt, atau pelopor post-punk Suicide. Bedanya, Senyawa membawa roh mistis Nusantara yang tak tertandingi.
Hantaman somatik dari khotbah di Candi Prambanan
Di sisi kanan panggung, Wukir Suryadi duduk dengan presisi, laiknya seorang empu pembuat keris. Ia sibuk merapal fondasi sonik, tak lagi sekadar memeluk “bambu wukir” lamanya yang ikonik.
Sebagai gantinya, ia membawa seri instrumen bambu baru hasil rakitannya–yang ia perkenalkan penuh sejak era album Alkisah (2021), demi mengeksplorasi nuansa petikan senar yang lebih tajam.
Di tangan Wukir, perkakas pertanian dan bambu bertransformasi menjadi mesin penghasil bebunyian liar. Terdengar dentang logam industrial dan nada unearthly string yang saling bertubrukan.
Suara berisik mirip kawat pegas berpilin itu mengalun layaknya ansambel gamelan. Frekuensi rendah yang dihasilkan dari alat Wukir tidak sekadar mampir di gendang telinga. Distorsi itu merayap naik dari tanah, menjalar ke kaki, dan menghantam rongga dada.
Getarannya terasa meresonansi tulang rusuk, memberikan pengalaman somatik yang membuat tubuh ikut bergetar bersama gelombang suara.
Sementara itu, mimbar Rully Shabara adalah panggung itu sendiri. Ia merespons kegaduhan Wukir dengan jangkauan vokal teatrikal yang ekstrem.
Dengan urat leher yang menegang tajam, memantulkan sisa cahaya panggung, ia menggabungkan teknik throat-singing, gumaman mirip biksu, geraman, hingga lolongan panjang layaknya seorang dukun yang tengah berkomunikasi dengan roh di alam baka.
Dari layar, terlihat keringat membanjiri wajahnya yang berekspresi liar. Elemen langit Rully berpadu sempurna dengan instrumen bumi Wukir, menciptakan ketegangan pekat yang mengikat jiwa pendengar.
Tema apokalips dari Senyawa
Selama kurang lebih 40 menit, Senyawa membawa penonton menyusuri narasi apokaliptik mengenai runtuhnya kewarasan sebuah bangsa akibat kesombongan.
Mereka membawakan nomor wajib, “Kekuasaan”, dilanjutkan dengan “Istana” yang menghunjam dada lewat dengungan bass tebal layaknya raungan band “drone metal”, Sunn O))).
Momen klimaks di lagu ini sukses menenggelamkan semua sisa hiruk-pikuk dari panggung lain, yang menampilkan Ali dan Drizzly.
Namun, di balik tema kiamat, Senyawa tidak lupa menyisipkan kelonggaran. Di tengah aura mistis, Rully membawakan lagu–yang saya sendiri agak lupa dengan judulnya–yang lebih tenang, layaknya balada Metallica yang diaransemen ulang.
Tak lama, mereka kembali mengejutkan para penonton dengan gaya rap-metal antifasis di lagu “Fasih”.
Saya menyempatkan diri menoleh ke sekeliling. Wajah-wajah di kerumunan menceritakan segalanya. Para penonton dengan kaus hitam tampak headbanging tipis-tipis dengan mata terpejam, sementara pengunjung kasual yang mungkin baru pertama kali melihat Senyawa tampak mematung.
Mulut mereka sedikit terbuka, menampilkan raut “kebingungan” yang barangkai, bercampur dengan rasa takjub.
Tepat pukul 20.00 WIB, khotbah bising itu usai. Distorsi mereda secara tiba-tiba, menyisakan panggung yang mendadak gelap. Hanya tersisa derau statis tipis dari amplifier yang segera ditelan oleh tepuk tangan dan sorakan gemuruh dari penonton, memecah keheningan sakral yang sempat menyelimuti Prambanan.
Dedikasi tanpa kompromi dari duo yang pernah merilis album Alkisah melalui 44 label rekaman independen di seluruh dunia ini, terbukti malam itu. Mereka tidak peduli pada kenyamanan konservatif, dan justru melalui keberanian itulah, musik bising ekstrem mereka mampu memberikan kegembiraan yang membebaskan.
Saya menarik napas panjang, menjejakkan kaki kembali ke realitas di atas rumput festival. Seiring berlalunya gema terakhir Senyawa di udara Agustus yang dingin, kesadaran saya pulih. Dan tepat pada detik itu juga, cacing di perut saya kembali meraung memecah lamunan. Mengingatkan bahwa ritual spiritual telah selesai, dan kini saatnya menuntaskan urusan duniawi yang tertunda.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: ‘Wall of Love’, Merayakan Lebaran Metal dengan Berpelukan di Tengah Moshpit Down For Life atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan