Fenomena lebih dari 1 juta lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran membuat gelar sarjana atau modal ijazah kuliah menjadi seolah tidak berguna. Perguruan tinggi pun menjadi salah satu yang disorot karena dinilai gagal memberikan para lulusannya bekal yang relevan untuk memasuki dunia kerja.
Merespons fenomena tersebut, Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menyebut bahwa fenomena lulusan perguruan tinggi jadi pengangguran tidak semata-mata berkaitan dengan kompetensi atau kesiapan kerja. Tetapi berkaitan dengan ketimpangan modal sosial dan perubahan struktur ekonomi.
Ijazah kuliah itu modal budaya bukan modal ekonomi
Fenomena sarjana pengangguran, menurut Radius, dapat dibaca melalui perspektif sosiolog Pierre Bourdieu. Dalam konsep Bourdieu, ijazah merupakan bentuk modal budaya yang dimiliki seseorang. Namun, modal budaya tidak selalu dapat dikonversikan secara langsung menjadi modal ekonomi berupa pekerjaan dan penghasilan.
“Untuk mendapatkan pekerjaan, seseorang juga membutuhkan modal sosial berupa jaringan, pengalaman, relasi, bahkan dukungan ekonomi,” kata Radius dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/8/26)
Kondisi demikian pun membuat dua orang dengan tingkat pendidikan yang sama belum tentu memiliki peluang kerja yang setara.
“Orang bisa sama-sama sarjana, tetapi kapital yang dimiliki berbeda. Ada yang punya jaringan, pengalaman, kemampuan bahasa, akses teknologi, dan dukungan ekonomi keluarga. Ada yang hanya punya ijazah,” jelas Radius.
“Jadi persoalannya bukan sekadar siapa yang kompeten, tetapi siapa yang memiliki kapital untuk masuk dan bertahan di pasar kerja,” imbuhnya.
Perubahan struktur ekonomi jadi penyebab sarjana jadi pengangguran
Lebih lanjut, Radius menilai perubahan struktur ekonomi Indonesia turut menjadi penyebab banyaknya sarjana pengangguran. Pasalnya, pertumbuhan lapangan kerja berkualitas tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik. Alhasil modal ijazah kuliah pun semakin sulit dikonversikan menjadi pekerjaan dan pendapatan.
“Jadi kita jangan hanya bertanya mengapa sarjana menganggur, tetapi juga mengapa struktur ekonomi kita tidak cukup menyediakan ruang untuk mengonversi pendidikan menjadi pekerjaan,” ujarnya.
Deindustrialisasi juga turut berperan di balik fenomena ini. Pertumbuhan sektor ekonomi yang semakin padat modal berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah yang sebanding.
“Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural. Sarjana semakin banyak, tetapi ruang untuk mengubah modal pendidikan menjadi pendapatan justru terbatas,” katanya.
Ketimpangan kapital
Karena itu, Radius meminta persoalan pengangguran sarjana tidak buru-buru dibebankan kepada individu maupun perguruan tinggi. Menurut dia, pengangguran terdidik juga perlu dilihat sebagai persoalan struktur sosial dan ekonomi.
“Jangan melihat sarjana menganggur semata sebagai kegagalan individu. Ini juga persoalan struktur sosial. Kita perlu melihat siapa yang memiliki kapital untuk mendapatkan pekerjaan dan siapa yang tidak, serta bagaimana struktur ekonomi menciptakan atau justru membatasi kesempatan tersebut,” pungkasnya.
Ketimpangan kapital, lanjut Radius, turut membuat pengalaman generasi muda dalam memasuki dunia kerja berbeda-beda. Tidak semua lulusan perguruan tinggi memulai perjalanan karier dari titik yang sama. Ada yang sejak awal memiliki privilege berupa dukungan ekonomi keluarga, jaringan sosial, pendidikan berkualitas, kemampuan bahasa, hingga akses terhadap teknologi dan pengalaman kerja.
Sementara di sisi lain, ada lulusan yang hanya mengandalkan ijazah kuliah sebagai modal utama untuk memasuki pasar kerja. Kondisi tersebut, kata Radius, menunjukkan bahwa persoalan sarjana pengangguran tidak cukup dilihat dari jumlah lulusan atau tingkat kompetensinya saja.
“Karena itu, ketika kita berbicara tentang pengangguran sarjana, kita juga harus melihat bagaimana ketimpangan privilege menentukan siapa yang lebih mudah mengubah modal pendidikan menjadi pekerjaan dan siapa yang tetap berada dalam antrean pengangguran,” tegasnya.
Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura)
BACA JUGA: 1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan















