Setiap musim masa orientasi mahasiswa baru (maba), ada satu narasi yang kerap diulang dan selalu memicu kemuakan warganet. Yakni tentang abang-abangan kampus yang dianggap “tebar pesona” di hadapan dedek-dedek maba.
Abang-abangan kampus diidentikkan dengan mahasiswa semester tua dengan rambut gondrong, mata sayu kurang tidur, celana jeans sedikit sobek, wajah digalak-galakin, dan terutama sekali selalu terselip kata “rakyat”, “melawan”, “pergerakan”, “kapitalisme”, dan sejenisnya setiap kali berbicara.
Bahkan sejumlah teman saya menyebut mereka—abang-abangan kampus—sebagai orang-orang yang lebih gemar membual daripada menyelesaikan perkuliahan dengan benar. Ada pula yang merasa malu kalau mengingat masa-masa menjadi mahasiswa baru karena menyimpan kekaguman tersendiri kepada abang-abangan kampus.
Itulah kenapa, di masa-masa masuknya maba, di media sosial bertebaran narasi semacam ini: “Jangan mau dikibuli abang-abangan ya dek ya.”
Pesona organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) tidak bisa disangkal mahasiswa baru (maba)
Saya pernah menulis banyak pengakuan orang yang mengaku malu pernah terpapar omongan abang-abangan kampus di Mojok.co. Bahkan sampai menyebut omongan mereka tidak lebih dari omong kosong belaka. Namun, belum lama ini ada salah seorang kenalan memberikan sudut pandang berlawanan.
Sama seperti mahasiswa baru kebanyakan, di masa menjadi maba Mufti (26) juga terpantik untuk mengikuti langkah para senior yang kemudian disebut sebagai abang-abangan kampus tersebut. Kuliah di sebuah PTN Islam di Jawa Timur, Mufti secara spesifik menyebut bahwa abang-abangan yang ia ikuti saat itu berada di bawah bendera organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
“Tentu ada banyak alasan selain kepolosan. Aku melihat mereka yang di ormek tersebut progresif. Labelnya saja pergerakan,” ungkap Mufti.
Lagipula, tidak sedikit maba di masa awal masuk kuliah memiliki hasrat eksistensi. Ingin berdinamika lebih dari sekadar duduk di kelas. Maka menjadi bagian dari ormek atau organisasi mahasiswa lain, apalagi yang pengaruhnya dominan di kampus, menjadi salah satu jalan yang bisa ditempuh.
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus dan yapping sampai Subuh
“Dan toh saat aku masuk, aku suka diskusi di dalamnya karena mencakup banyak hal. Filsafat, tasawuf, teologi (akidah), sejarah, sastra, politik negara, dan paling sering yang kekiri-kirian. Itu memantik pikiranku,” sambung Mufti.
Mufti mengamini memang pola narasi yang dipakai abang-abangan kampus untuk menarik adik tingkat masih sama dengan beberapa tahun silam saat ia masih maba. Yakni mengolah narasi bahwa dengan ikut abang-abangan di ormek pasti jejaring akan terbuka luas.
Selain itu juga memainkan narasi bahwa diskusi abang-abangan memuat ilmu yang tidak didapat di dalam kelas. Mereka kerap mengkritik habis model pembelajaran dosen di dalam kelas yang kerap kali dianggap monoton dan tidak memantik nalar kritis.
Itulah yang membuat Mufti terlibat aktif dalam setiap agenda ormek. Ia pun nyaris tidak pernah absen untuk ikuti diskusi abang-abangan, dari warung kopi ke warung kopi maupun di belakang gedung fakultas. Dari selepas Isya sampai menjelang Subuh.
“Aku jadi jongos pun nggak masalah waktu itu. Maksudnya ya disuruh-suruh. Beliin rokok lah, beliin makanan lah. Uangnya dari mereka, aku cuma beli-beliin aja,” akunya.
Bagi Mufti itu masih standar. Sebab, setiap ada kegiatan, hal-hal yang berurusan dengan angkat-mengangkat barang, Mufti pun rela jadi adik tingkat paling rajin riwa-riwi angkat-angkat. Bahkan Mufti berkali-kali juga mengerjakan tugas makalah hingga fotokopi dari abang-abangannya.
“Kulakuin karena memang aku pengin jejaring. Aku juga pengin keberadaanku diakui oleh mereka. Bagi adik tingkat, pengakuan dari senior-senior itu penting buat eksistensi,” ucap Mufti.
Bagian dari proses pencarian jati diri, apa salahnya?
Tiap bertemu dengan teman seangkatan sesama alumni PTN Islam tersebut, Mufti selalu habis diolok-olok karena pernah sebegitunya dengan abang-abangan kampus. Dianggap hina karena faktanya memang tidak sedikit abang-abangan kampus yang tidak lulus kuliah. Lulus pun di semester 14. Itu pun belum jaminan “jadi orang”.
Alih-alih tersinggung, Mufti fun saja menerimanya sebagai bagian dari pengalaman empiris yang pernah ia alami. Ia juga mengaku tidak menyesal karena pernah tekun menyimak abang-abangan ormek yapping sampai Subuh, tapi sering bolong-bolong di sejumlah mata kuliah (matkul).
“Aku menganggapnya bagian dari proses hidup. Namanya juga maba, di masa pergulatan eksistensi dan intelektual. Dan itu gejala yang wajar, karena kehidupan kampus memang memungkinkan mahasiswa mengeksplorasi pikiran dan gerakan seliar-liarnya, sesuatu yang nggak didapat waktu SMA,” beber Mufti.
Kenyataan itu, tegas Mufti, juga tidak bisa disangkal. Itulah kenapa pola serupa (abang-abangan selalu tampil di masa orientasi mahasiswa baru) selalu bisa didapati setiap tahun. Sebab, sekoar-koar apapun orang di media sosial perihal abang-abangan kampus, namanya mahasiswa baru butuh nyemplung terlebih dulu untuk merasakan sendiri secara empiris. Tidak bisa didikte begitu saja.
Tiru yang baik, buang yang buruk
Bagi Mufti, rasanya tidak fair jika menggiring maba agar tidak dekat-dekat dengan abang-abangan atau organisasi mahasiswa tertentu. Pasalnya, dalam pengalaman Mufti sendiri misalnya, dalam beberapa hal abang-abangan ini juga punya pengaruh positif yang bisa diambil.
“Misalnya, karena kegemaran diskusi panjang itu, aku terpantik baca banyak buku. Dari situ pengetahuanku bertambah, nalar kritisku juga bekerja,” kata Mufti.
Persoalan jejaring pun sebenarnya juga tidak ngibul-ngibul amat. Memang tidak banyak jejaring produktif yang bisa diandalkan untuk mencari kerja saat lulus kuliah. Namun, jejaring pertemanan dalam konteks sosial jelas tidak fair jika tidak dihitung.
“Karena sekarang ini ya, kalau aku pergi ke mana gitu, misalnya itu adalah daerah asal seorang jejaring dari ormek, akhirnya bisa janjian ketemu, nongkrong-nongkrong. Kadang juga aku mampir ke rumah. Jadi di banyak tempat ada opsi singgah,” paparnya.
Lebih dari itu, berorganisasi dengan abang-bangan kampus di satu sisi juga membuat Mufti tidak butuh waktu lama beradaptasi dalam sistem organisasi kerja saat ia akhirnya terjun di industri.
Bagi Mufti, prinsipnya batasnya jelas: tiru yang baik, buang yang buruk. Ia meniru ketekunan membaca buku abang-abangan kampus di ormeknya. Tapi ia memilih menuntaskan kuliahnya tepat waktu alih-alih mengikuti seniornya yang molor hingga semester 14 atau bahkan tidak menyelesaikan kuliah, dan seterusnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
