Berdasarkan data dari tracer study, lulusan vokasi (sarjana terapan) lebih laris di dunia kerja, lebih tinggi dari keterserapan lulusan S1. Sebab sekolah vokasi dinilai mampu memenuhi kebutuhan industri secara cepat.
Data tersebut dipaparkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, dalam sesi Talkshow Pionir Permadani di Grha Sabha Pramana UGM lantai 2, Kamis (6/8/2026).
Merujuk hasil tracer study dalam rentang 2021-2024, keterserapan tenaga kerja lulusan vokasi (sarjana terapan) ada di angka 77%. Sementara lulusan pendidikan akademik S1 hanya sebesar 72%.
Lulusan sekolah vokasi dibutuhkan industri karena beri tenaga kerja terampil
Memang masih ada anggapan lama yang menyebut bahwa lulusan sekolah vokasi alias sarjana terapan akan susah diterima di dunia kerja. Ijazahnya dinilai tidak seprestisius ijazah lulusan S1.
Akan tetapi, fakta saat ini justru menunjukkan sebaliknya. Di hadapan 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Stella menepis anggapan tersebut. Stella menegaskan bahwa pendidikan vokasi saat ini justru memiliki peran krusial dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
“Per hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja,” ujarnya.
Pendidikan vokasi, lanjut Stella,memiliki peran utama dalam merespons kebutuhan industri secara cepat dengan menghasilkan talenta terampil dan berkualitas. Tanpa adanya suplai tenaga kerja terampil, industri akan mati dan investor pun enggan berinvestasi.
“Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespons pasar kerja,” ungkapnya.
Berkaca dari Tiongkok
Stella mengambil contoh keberhasilan dari pendidikan vokasi di Tiongkok: Shenzhen Polytechnic University yang bekerja sama erat dengan industri lokal yang telah mendunia seperti Huawei dan BYD.
Stella menjelaskan, pendapatan dari Greater Bay Area (Shenzhen, Hong Kong, Guangzhou) mencapai 2,15 triliun USD, lebih besar dari output ekonomi seluruh Indonesia yang berada di kisaran 1,55 triliun USD.
Hal tersebut, bagi Stella, menjadi bukti nyata betapa lulusan sekolah vokasi memang punya peran besar di daerah Shenzhen, Guangzhou dan Hong Kong untuk industri. Dari situ kemudian menghasilkan perekonomian yang bahkan lebih besar.
“Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia,” tegasnya.
Di Swiss sarjana terapan bisa mendapat gaji Rp2 miliar
Selain di negara Asia Timur, di negara Eropa seperti Swiss juga memiliki keunggulan pada pendidikan vokasi.
Berdasarkan paparan Stella, lulusan sarjana terapan mampu menghasilkan gaji sebesar 102.114 Swiss Franc atau jika dirupiahkan akan mencapai Rp2 miliar. Maka tidak heran jika Korea Selatan juga turut memperkuat pendidikan vokasinya.
“Karena mereka (Korea Selatan) tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat,” terang Stella.
Lalu apa upaya Kemdiktisaintek RI untuk kuatkan sekolah vokasi di Indonesia?
Karena fakta-fakta tersebut, Stella menegaskan bahwa saat ini Kemdiktisaintek RI berkomitmen memperkuat vokasi melalui tiga pilar utama: industry match curriculum, industry match instructors,dan industry match infrastructure.
Salah satu program kerja sama yang telah berjalan adalah Kerja Sama dengan LiuGong, perusahaan produsen alat berat multinasional Tiongkok.
Bentuk kerja sama ini berupa pemberian beasiswa kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) untuk belajar dan magang selama 1 tahun di perusahaan alat berat Liugong, baik di Tiongkok maupun Indonesia.
Dengan begitu, harapannya lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) bisa memiliki kompetensi unggul yang memang dibutuhkan di dunia kerja. Fenomena lulusan perguruan tinggi susah cari kerja pun bisa pelan-pelan teratasi.
Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)
BACA JUGA: Kuliah S1 4 Tahun Terlalu Lama dan Tak Relevan Lagi karena Peluang di Dunia Kerja Lebih Nyata Vokasi? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
