Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

Ahmad Munjizun penerima LPDP yang diterima kuliah di Australia. (sumber: dok.istimewa)

Dari kandang sederhana di Lombok, diterima kuliah di Universitas Mataram hingga bisa lanjut kuliah di University of Queensland Australia, Ahmad Munjizun sadar bahwa masa depan kadang tidak datang kepada mereka yang paling siap. Justru, sering kali datang kepada orang yang cukup berani untuk percaya terlebih dahulu, lalu bertahan sekaligus berjuang ketika jalan menuju ke sana belum terlihat.

Menemukan passion dari kehidupan sehari-hari

Pada suatu akhir pekan di tahun 2009, Ahmad Munjizun pulang ke rumah dengan sebuah keputusan yang membuat ibunya terkejut. Jika sebelumnya dia membawa kabar ingin pindah jurusan kuliah, kali ini dia justru mantap menentukan arah masa depannya menjadi peternak.

Jizun, begitu dia akrab disapa, sempat ingin mengejar cita-cita lamanya menjadi guru matematika, sebab sejak kecil dia menyukai ilmu berhitung. Baginya, mengerjakan soal lalu menemukan jawabannya memiliki kepuasan tersendiri. 

Dia bahkan pernah membayangkan suatu hari bisa menjadi guru, lalu membantu murid-muridnya meraih prestasi lebih jauh dari dirinya. Sayangnya, Jizun justru diterima di Fakultas Peternakan Universitas Mataram.

Walaupun sebetulnya, hidupnya tak jauh dari kegiatan tersebut. Pagi sebelum sekolah, dia harus memastikan sapi dan kuda sudah makan. Sepulang sekolah, dia kembali menggembala, mencari rumput, membersihkan kandang, atau membantu merawat kuda-kuda milik keluarga.

Jizun pengembala kuda. MOJOK.CO
Masa remaja Jizun yang dekat dengan kuda.(sumber: dok.istimewa)

Maka dari itu, ketika akhirnya diterima di Fakultas Peternakan Universitas Mataram, satu pertanyaan muncul dalam benaknya. Mengapa harus peternakan lagi? Di rumah mengurus ternak. Di kampus juga akan belajar ternak.

Namun, Jizun mencoba menjalaninya. Setelah mengikuti sebuah kuliah umum di kampus, arah pikirannya jadi berubah. Dia pun pulang dan menginformasikan rencana mengejutkan kepada ibunya.

“Mak, saya nggak jadi pindah jurusan kuliah. Setelah saya di Fakultas Peternakan Unram, insyaallah saya akan kuliah di University of Queensland, Australia,” kata Jizun dikutip dari laman resmi Media Keuangan Kementerian Keuangan RI, Senin (6/7/2026).

Inspirasi datang di bangku kuliah Universitas Mataram

Titik balik itu datang pada sebuah acara kuliah umum di tahun 2009. Pagi itu, Suhubdy Yasin salah satu dosennys berdiri di hadapan para mahasiswa baru Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Kalimat pembukanya tidak biasa.

“Ilmu peternakan akan membawa kalian ke surga.”

Mahasiswa yang hadir tentu bertanya-tanya. Namun sang profesor kemudian menjelaskan dengan cara yang membumi. Dari pangan, pakaian, ekonomi, hingga kemampuan seseorang membangun kehidupan yang lebih baik, bisa dilakukan melalui ilmu peternakan.

Namun bagi Jizun, ada bagian lain yang lebih membekas. Suhubdy bercerita tentang perjalanannya sebagai alumni Fakultas Peternakan Unram yang kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di University of Queensland, Australia. Ia menampilkan foto-foto kampus itu. Gedung-gedungnya megah. Dunia yang tampak sangat jauh dari Lombok tiba-tiba hadir di depan mata.

Jizun menatap foto itu. Di kepalanya, sebuah kalimat terpintas, “kalau Prof. Suhubdy bisa, suatu hari saya pasti juga bisa.” 

Lolos beasiswa ke LN usai lulus dari Universitas Mataram

Belajar seluk beluk kuda di Universitas Mataram. (sumber: dok.istimewa)

Setelah lulus dari Universitas Mataram pada 2014, Jizun mulai serius mencari jalan menuju beasiswa. Dia sudah pernah menjadi mahasiswa berprestasi Universitas Mataram. Ia aktif dalam kegiatan luar kampus dan pelatihan kepemimpinan. 

Namun untuk kuliah ke luar negeri, prestasi akademik saja tidak cukup. Ada satu tantangan besar yang harus ia hadapi: kemampuan bahasa Inggris. Nilai TOEFL prediksinya tidak kunjung memenuhi standar. Setelah beberapa kali mencoba, nilainya mentok di angka 437.

Bagi banyak orang, angka itu mungkin cukup untuk membuat mundur. Namun, Jizun tidak berhenti. Ia membeli buku TOEFL, belajar sendiri, dan terus mencari jalan. Pada saat yang sama, ia mendengar tentang beasiswa LPDP jalur afirmasi. 

Dia pun lanjut mendaftar tapi saat proses wawancara LPDP, ia tidak tampil sempurna. Bahkan sempat dibombardir dengan pertanyaan seputar materi ekonomi, karena saat itu sempat mempertimbangkan jurusan lain. 

Bahasa Inggrisnya pun belum kuat. Ketika diminta berbicara dalam bahasa Inggris, ia menggunakan pengalaman singkatnya mengikuti program di Northern Territory Australia sebagai pegangan.

Aksennya mungkin belum sempurna. Tata bahasanya mungkin masih terbatas. Tetapi alumnus Universitas Mataram itu menunjukkan satu hal: dia pernah berusaha, dan dia mau belajar. Akhirnya pengumuman itu datang. Ahmad Munjizun diterima di Animal Science, University of Queensland.

 Alumnus Universitas Mataram kembali ke kampung halaman

(sumber: dok.istimewa)

Setelah menyelesaikan studi magister di University of Queensland, Jizun kemudian mendaftar beasiswa Fulbright. Keyakinannya sederhana: ia telah melalui proses pembentukan kapasitas. Ia sudah bertumbuh sejak mengenyam pendidikan di Universitas Mataram. Ia pun berhak mencoba lagi.

Akhirnya, Jizun melanjutkan studi doktoral di North Carolina State University Amerika Serikat untuk mendalami Animal Science dengan spesialisasi Equine Science. Di University of Queensland, Jizun melihat betapa majunya pengelolaan kuda dilakukan di sana.

Banyak hal yang dulu ia lakukan di kandang berdasarkan pengalaman turun-temurun, kini ia pahami secara ilmiah. Dia mulai melihat bahwa peternakan bukan hanya soal produksi. Dalam konteks kuda, pendekatannya telah bergeser. 

Kuda tidak selalu ditempatkan sebagai hewan kerja atau sumber produksi, tetapi juga sebagai companion animal yang membutuhkan perhatian terhadap kesejahteraan hewan. Dari sana, Jizun menaruh perhatian pada bidang animal welfare.

Dia ingin standar pemeliharaan hewan, termasuk kuda, bisa meningkat. Cara mengikat, kondisi kandang, kesehatan, hingga perlakuan terhadap hewan harus menjadi bagian dari perhatian. Bukan semata karena hewan memiliki nilai ekonomi, tetapi karena cara manusia memperlakukan hewan juga mencerminkan cara manusia memahami tanggung jawab.

Dia sadar, perubahan semacam itu tidak bisa dilakukan sekaligus. Ekonomi masyarakat juga harus tumbuh. Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, standar kesejahteraan hewan seringkali belum menjadi prioritas.

Pada akhirnya, alumnus Universitas Mataram itu memutuskan pulang ke kampung halaman sebagai salah satu asisten Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dia tidak hanya bersentuhan dengan pertanian dan peternakan. Ia juga bersentuhan dengan bidang energi, pariwisata, investasi, serta hubungan eksternal.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version