Eks pelamar LPDP yang sudah 3 kali gagal mendapat beasiswa S2 ini mengaku kesal dengan interviewer, terutama saat seleksi wawancara. Suka menyerang personal dan tak diberi kesempatan bicara saat seleksi
***
Sebagai bentuk persiapan menghadapi seleksi wawancara LPDP, Desi* mengaku sudah latihan berkali-kali. Mulai dari membuat mock interview, simulasi bersama pelamar beasiswa lainnya, hingga saling memberikan feedback.
Meski sudah yakin dengan persiapannya, ternyata hal itu masih belum cukup untuk menguatkan mental Desi terutama pada saat seleksi wawancara LPDP.
Sudah tiga kali ini dia mencoba, tapi dua di antaranya membuat Desi trauma. Dia kaget dengan respons interviewer LPDP yang terkesan menyerangnya secara personal, alih-alih membangun kepercayaan diri si pelamar.
Meski tak semua pewawancara seperti itu, pengalaman tersebut bikin Desi kena mental. Untungnya, Desi mampu bangkit dan mencoba daftar LPDP kembali. Namun Desi baru sadar, ada masalah lain yang jauh lebih besar sehingga membuatnya ragu.
Kaget saat wawancara LPDP pertama kali
Tahun 2024, saat Desi pertama kali mendaftar beasiswa, ia diwawancarai oleh 3 orang interviewer LPDP. Mereka terdiri dari akademisi, psikolog, dan praktisi. Interviewer LPDP di bidang praktisi inilah yang membuat Desi jengkel saat wawancara.
“Aku benar-benar dibikin syok sama ibu-ibu ini, pokoknya menyebalkan banget,” kata Desi kepada Mojok, Jumat (18/9/2026).
Mulanya, praktisi tersebut menanyakan hal umum seperti pengalaman kerja. Desi pun menjelaskan bahwa dia bekerja sebagai asisten peneliti di tempat yang berbeda-beda dengan status kontrak.
Satu penelitian biasanya membutuhkan waktu selama 3-6 bulan. Namun, belum selesai Desi menjawab, interviewer LPDP langsung memotong penjelasannya sembari memberi kritikan tajam saat proses wawancara.
“Ah itu mah bukan pekerjaan, itu cuma bantu-bantu doang,’,” kata Desi meniru ucapan Interviewer LPDP saat seleksi wawancara.
Desi pun merasa tersinggung, karena selama ini dia menganggap, bahwa apa yang dia lakukan selama ini termasuk pekerjaan walaupun masih sebatas freelance.
Tak cukup sampai di situ, interviewer LPDP juga menyakan alasan Desi memilih program S2 Tata Kota alih-alih melanjutkan jurusannya di Ilmu Politik saat sarjana.
Sesuai dengan esai yang dibuat, Desi pun menyampaikan bahwa urban planing di Indonesia masih berfokus pada penyelesaian teknis. Belum dielaborasi dengan social technical aspects.
“Tapi lagi-lagi, ibu praktisi ini tetap defensif. Menurut dia, dengan pengalamanku yang cuma ‘bantu-bantu doang’ tadi, aku nggak akan bisa mewujudkan apa yang sudah aku tulis di esai, sampai aku merasa terpojok,” tutur Desi.
Pewawancara LPDP bingung dengan jawaban pelamar
Akhirnya, Desi dinyatakan tidak lolos. Namun, dia masih mencoba kembali pada Januari 2025. Kali ini, Desi mendapat interviewer LPDP yang salah satunya di bidang farmasi.
“Dia selalu memojokkan aku, kayak ‘kamu kan anak politik kenapa harus belajar urban planning?’,” kata Desi.
Dan dengan jawaban yang sama seperti tahun lalu, lagi-lagi argumen Desi tak ada artinya. Desi merasa interviewer LPDP tidak paham dengan substansi masalah yang dia berikan, karena latar belakang mereka.
“Terus dia tiba-tiba ngomong, ‘ini kalau misalnya nggak keterima gimana nih,’ seolah nyindir untuk nakut-nakutin. Maksudku kayak, emang harus ya seorang interviewer LPDP itu bilang kayak gitu?” ujar Desi.
Mendengar sindiran tersebut, Desi merasa tak punya jawaban selain diam. Dia takut tindakannya justru dinilai tidak sopan saat wawancara LPDP, sehingga namanya berpotensi masuk daftar hitam.
“Di sisi lain tubuhku otomatis nge-freeze, karena sebelum interview aja aku udah deg-degan banget. Ingin nangis juga rasanya, karena kan sudah di tahap akhir, tinggal wawancara dengan harapan diterima,” jelas Desi.
Rugi secara finansial tapi membentuk mental
Setelah kejadian itu, Desi lagi-lagi dinyatakan tidak lolos sebagai penerima beasiswa LPDP.
“Dua wawancara LPDP di awal itu benar-benar bikin aku trauma,” kata Desi.
Namun ternyata, mimpi Desi jauh lebih besar dari rasa traumanya. Ia pun tak ingin menyerah dan mencoba daftar kembali pada Juli 2025. Beruntung, Desi mendapat interviewer LPDP yang memang kompeten di bidangnya.
“Aku merasa beruntung, karena mendapatkan interviewer LPDP yang lebih ‘normal’ dalam artian lebih waras lah, nggak judging, enak diajak ngobrol hal-hal yang substantif,” kata Desi.
Sayangnya, Desi masih gagal pada percobaan ketiganya. Meski begitu, kegagalan kali ini memberikan pelajaran penting bagi dirinya untuk menghadapi trauma kemarin. Ia sadar, kini tantangannya bukan lagi sekadar pertarungan intelektual, melainkan ketahanan mental dan finansial.
“Jujur, untuk membayar IELTS lagi sebesar Rp3,5 juta, in this economy agak berat ya, karena bisa jadi aku harus mengulang lagi. Itu juga belum termasuk biaya-biaya tambahan seperti admission fee atau untuk letter of acceptance (LoA)-nya,” jelas Desi.
Di sisi lain, Desi pun menyadari bahwa sebenarnya tak semua interviewer LPDP punya karakter menjatuhkan. Setidaknya, masih ada orang berilmu yang dapat menyampaikan argumennya tanpa menyerang orang lain secara personal.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Gagal LPDP Bukan karena Nggak Mumpuni, tapi Pewawancaranya Apatis dan Mau Menang Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
