Peneliti palsu asal Indonesia lagi apes, boroknya terbongkar saat menghadiri konferensi di Denmark belum lama ini. Kejadian ini hanya fenomena gunung es dari sekte “pemuja kargo” yang melanda ekosistem riset di Indonesia.
***
Pasca-Perang Dunia II, sebuah fenomena unik terjadi di kepulauan Melanesia, kawasan Pasifik. Selama perang, penduduk asli di sana terkesima melihat tentara Amerika Serikat datang membangun pangkalan militer.
Dari langit, pesawat terbang turun membawa kargo berisi makanan kaleng, pakaian, tenda, hingga obat-obatan. Namun, saat perang usai, tentara-tentara itu pulang dan pesawat kargo tidak pernah datang lagi.
Demi memanggil kembali kargo yang dianggap ajaib–karena bisa memberi makanan–itu, penduduk asli melakukan hal yang unik dan tak terduga. Mereka membersihkan sebidang tanah untuk dijadikan landasan pacu tiruan.
Kemudian, mereka mendirikan menara pengawas palsu dari bambu, menyalakan obor di pinggir lapangan sebagai lampu navigasi, dan mengukir kayu menjadi bentuk headphone untuk dipakai oleh seseorang yang berlagak sebagai petugas pemandu udara.
Mereka meniru semua perilaku, gerak-gerik, dan bentuk pangkalan militer Amerika sebelumnya, dengan sangat presisi. Namun, tentu saja, pesawat yang mereka tunggu tidak pernah mendarat.
Mereka bisa saja meniru wujud bandara, tetapi tidak memahami sepenuhnya apa itu pesawat, bagaimana ia bisa terbang, atau mengapa ia bisa membawa kargo berisi makanan.
Kisah nyata yang menggelitik ini kemudian diangkat oleh seorang fisikawan pemenang Nobel, Richard Phillips Feynman. Dalam pidato kelulusan di California Institute of Technology (Caltech) pada tahun 1974, yang kemudian dibukukan dalam otobiografinya berjudul Surely You’re Joking, Mr. Feynman! (1985), ia memperkenalkan sebuah konsep bernama Cargo Cult Science atau “Sains Pemuja Kargo”.
Feynman menggunakan istilah ini untuk menyindir para peneliti yang bertingkah persis seperti suku pedalaman di Pasifik tersebut. Mereka melakukan semua “ritual” ilmiah: memakai jas laboratorium, mengumpulkan data, menulis makalah dengan istilah-istilah rumit, dan menghadiri konferensi.
Di permukaan, apa yang mereka lakukan terlihat sangat akademis. Sangat intelek. Namun, ada satu hal krusial yang hilang: integritas dan kemauan untuk menguji apakah teori mereka benar-benar bekerja di dunia nyata.
“Mereka hanya memuja kulit luar dari sains, tetapi isinya kosong melompong,” kata Feynman.
Hari ini, kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke kepulauan Pasifik untuk melihat sekte pemuja kargo ini bekerja. Tengok saja ekosistem pendidikan tinggi kita di Indonesia.
Buktinya baru saja menampar wajah kita. Belum lama ini, publik dihebohkan oleh skandal memalukan di mana sekelompok peneliti asal Indonesia tertangkap basah memalsukan data riset dalam sebuah konferensi ilmiah di Denmark.
Hasil riset akademisi Indonesia jatuh dan mati di lembah
Pertanyaan kemudian muncul: mengapa mereka punya keberanian untuk melakukan penipuan sekonyol itu di panggung internasional?
Jawabannya sangat sederhana: karena sedari awal, riset tersebut memang tidak pernah dirancang untuk menghasilkan sesuatu yang nyata.
Dalam studi manajemen inovasi, ada sebuah konsep terkenal yang disebut The Valley of Death. Istilah Indonesianya: “Lembah Kematian Inovasi”. Istilah ini pertama kali populer di Amerika Serikat pada akhir abad ke-20 untuk menggambarkan jurang pemisah antara penelitian dasar di laboratorium kampus dengan proses produksi massal di pabrik.

Sebuah riset sering kali jatuh dan mati di lembah ini karena tidak adanya modal, fasilitas, atau kerja sama dengan industri untuk mengubah purwarupa menjadi produk komersial yang bisa dibeli masyarakat.
Di Indonesia, ekosistem riset kita justru sengaja dikondisikan untuk masuk dan mati dengan tenang di dalam lembah kematian tersebut. Riset-riset di kampus kita terbelenggu oleh birokrasi yang rumit.
Hal ini, salah satunya, diungkap dalam Buku Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017-2045. Laporan ini menyimpulkan satu kenyataan yang cukup miris: sejak awal, banyak riset di Indonesia tidak buat untuk “diseriusi”. Yang penting jadi. Perkara berguna atau tidak, urusan belakangan.
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Mulai dari tak adanya dukungan dari pengambil kebijakan dan otoritas, minimnya fasilitas di laboratorium, hingga masalah struktural di level kampus.
Pendeknya, banyak riset di Indonesia tidak didesain untuk menjadi obat di rumah sakit, mesin di pabrik, atau solusi kemiskinan di tengah masyarakat. Tujuan akhir dari riset di negara ini hanyalah menjadi laporan administrasi, angka kredit untuk kenaikan pangkat, dan yang paling miris cuma jadi file yang membusuk di komputer perpustakaan.
Borok para peneliti di Indonesia
Kalau kamu mengira bahwa gerombolan peneliti yang curang di Denmark itu hanyalah oknum yang lagi apes, tentu kamu keliru. Kebobrokan ini sudah bersifat massal dan terlembaga, bahkan menular hingga ke kampus-kampus raksasa yang selama ini kita banggakan.
Hal ini, misalnya, dibuktikan oleh Profesor Lokman I. Meho dari American University of Beirut, yang hasil risetnya pernah ditulis Mojok. Melalui studinya yang merilis metrik global bernama Research Integrity Risk Index pada tahun 2025, ia menelanjangi ekosistem akademik kita.
Indeks tersebut tidak menghitung seberapa banyak sebuah kampus menerbitkan jurnal, tapi seberapa tinggi risiko kecurangan dan manipulasi yang dilakukan oleh dosen-dosennya.
Hasilnya sangat mengerikan. Belasan Perguruan Tinggi Negeri papan atas di Indonesia masuk ke dalam daftar merah dunia (Red Flag dan High Risk). Kampus-kampus kebanggaan negara ini kedapatan memproduksi ribuan artikel di jurnal-jurnal predator–jurnal abal-abal yang bersedia menerbitkan tulisan apapun asal si penulis membayar belasan juta rupiah.
Selain itu, banyak artikel ilmiah dari akademisi kita yang terpaksa ditarik kembali oleh penerbit dunia karena terbukti memanipulasi metodologi atau menggunakan tool pembuat draf tulisan otomatis.
Ketika peringkat kampus dan indeks publikasi global (seperti Scopus) sudah dijadikan berhala baru oleh kementerian dan rektorat, etika ilmiah langsung dibuang ke tempat sampah. Dosen-dosen dituntut memproduksi tulisan layaknya buruh pabrik konveksi yang mengejar setoran, demi mencairkan tunjangan atau menaikkan akreditasi kampus.
Akibat dari tekanan birokrasi yang gila ini, lahirlah karikatur akademik yang luar biasa absurd. Kita tentu masih ingat kasus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional pada tahun 2024, yang ketahuan mencatut nama dosen asing agar tulisannya bisa terbit.
Yang bikin nalar sehat terbolak-balik, sang dekan tercatat mampu menerbitkan 160 artikel ilmiah internasional hanya dalam waktu satu tahun. Sebagai gambaran, bahkan mesin tik paling canggih di dunia pun akan berasap dan terbakar jika dipaksa menulis 160 penelitian sungguhan dalam waktu 365 hari. Namun, sistem kita justru memberi karpet merah untuk keajaiban palsu semacam ini.
Fenomena ini diperparah dengan maraknya industri “Joki Guru Besar”. Dosen-dosen senior yang malas meneliti cukup membayar puluhan juta rupiah kepada biro jasa terlarang untuk membuatkan mereka jurnal internasional tiruan agar gelar profesor bisa cepat didapat.
Berdasarkan laporan investigasi harian Kompas pada awal 2023, pasar gelap ini beroperasi dengan tarif yang terstruktur. Calon guru besar hanya perlu menyetor uang antara Rp30 juta hingga lebih dari Rp100 juta, bergantung pada peringkat jurnal sasaran—mulai dari jurnal terindeks Scopus kuartil bawah (Q4) hingga kuartil atas (Q1).
Sindikat ini bekerja dengan sistem pabrik naskah (paper mill). Dosen yang menjadi klien tidak perlu turun ke lapangan atau menulis satu kata pun; mereka sekadar membeli “slot” untuk dicantumkan sebagai penulis pertama pada naskah yang digarap oleh tim joki anonim.
Dampak struktural dari manipulasi data dan perjokian ini tercatat dengan sangat jelas pada pertengahan 2024. Skandal terbesar menimpa Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Berdasarkan hasil investigasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), pemerintah mencabut gelar guru besar dari 11 dosen di Fakultas Hukum ULM secara serentak.
Fakta-fakta ini mengonfirmasi satu hal: publikasi jurnal tidak lagi berfungsi sebagai medium pertukaran ilmu yang berisi data valid. Ia telah sepenuhnya bertransformasi menjadi komoditas transaksional.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Keculasan Dosen dalam Publikasi Jurnal Internasional bikin Integritas dan Kualitas Riset Kampus di Indonesia Dipertanyakan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan