ADVERTISEMENT

Sudah 7 Tahun Belajar Jadi Dokter Gigi Masih Kalah sama Kepercayaan dan Omongan Tetangga Soal Kesehatan Gigi

dokter gigi

Lulusan S1 Kedokteran Gigi UGM tentu adalah kebanggan. Namun bagaimana jika ternyata menjadi dokter gigi musuhnya bukan hanya ekonomi masyarakat namun juga perhatian masyarakat soal kesehatan gigi?

***

Bagi Ika (26), menjadi dokter bukan cita-cita yang tiba-tiba muncul ketika memilih jurusan kuliah. Sejak kecil ia sudah ingin menjadi dokter. Hanya saja, doanya dulu tidak terlalu spesifik.

“Kayaknya doanya kurang spesifik dokter apa, jadinya dokter gigi ternyata,” kata Ika sambil bercanda kepada saya, Minggu (13/09/2026).

Ia masuk kuliah pada usia 18 tahun dan baru benar-benar menyandang gelar dokter gigi sekitar usia 25 tahun. Pendidikan sarjananya ditempuh sekitar 3,5 tahun. 

Setelah itu masih ada fase koas selama kurang lebih 2,5 tahun. Perjalanan tersebut belum langsung membuatnya bebas mencari pekerjaan karena ia masih harus menjalani internship selama enam bulan. Tujuh tahun lebih bukan waktu sebentar untuk belajar merawat gigi orang lain.

Sebagai dokter gigi, kuliah bukan masalah, malah ketika koas yang menguras banyak tenaga

Menurut Ika, masa S1 sebenarnya tidak jauh berbeda dari kehidupan mahasiswa lain. Bedanya, jadwal kuliah kedokteran gigi cukup padat. Senin sampai Jumat bisa dihabiskan dari pagi sampai sore, bahkan praktikum kadang baru selesai menjelang magrib.

Ia sempat merasakan kuliah daring ketika pandemi Covid-19. Setelah praktikum kembali berjalan, ia masuk fase preklinik sebelum akhirnya memasuki fase klinik atau koas.

Di sinilah cerita mulai berbeda.

Koas kedokteran gigi bukan hanya soal datang ke kampus lalu mengerjakan tugas. Mahasiswa harus mencari pasien sendiri, membiayai pasien, sekaligus memastikan perawatan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.

Koas ini definisi menguras biaya, waktu, tenaga, dan kewarasan,” ujar Ika.

Belum lagi pasien bisa tiba-tiba membatalkan perawatan atau tidak sesuai dengan kebutuhan kasus. Bagi mahasiswa yang sedang mengejar kelulusan, urusan mencari pasien bisa menjadi persoalan tersendiri.

Stigma masyarakat: pasien koas adalah kelinci percobaan, benarkah?

Ada satu anggapan yang menurut Ika masih sering muncul di masyarakat: pasien koas dianggap seperti kelinci percobaan.

Padahal, sebelum menyentuh pasien, mahasiswa kedokteran gigi sudah melewati pembelajaran bertahun-tahun. Mereka berlatih menggunakan phantom atau model gigi, berdiskusi dengan dosen, dan ketika merawat pasien pun tetap berada di bawah pengawasan dokter pembimbing.

Stigma itu membuat Ika sadar bahwa persoalan kesehatan gigi bukan hanya mengenai bagaimana dokter mengobati pasien. Ada pula pekerjaan lain yang tidak kalah penting: membuat masyarakat percaya.

Salah satu pasien yang paling ia ingat justru datang dari lereng Gunung Merbabu. Ketika masih koas, Ika merawat pasien tersebut untuk pembuatan gigi tiruan. Pasien itu rela bolak-balik Magelang-Jogja demi menyelesaikan perawatan.

Bagi Ika, pasien tersebut bukan sekadar bagian dari syarat kelulusan.

“Lebih ke terharu dan bersyukur sih karena jadi lulus gara-gara beliau,” katanya.

Pengalaman itu memperlihatkan hal sederhana: ketika seseorang benar-benar membutuhkan perawatan, keberadaan dokter gigi bisa sangat berarti.

Sakit gigi sering ditahan hingga tak sakit lagi

Persoalan tersebut semakin terlihat ketika Ika menjalani internship di daerah Maluku, tepatnya sangat terpencil, perbatasan, dan kepulauan. Ia melihat sendiri bahwa masyarakat di daerah masih banyak yang belum mendapatkan informasi memadai mengenai kesehatan gigi dan mulut.

Di tempat Ika menjalani internship, jumlah dokter gigi terbatas. Bahkan di Pulau Seram, menurut pengalamannya, puskesmas yang memiliki dokter gigi dapat dihitung dengan jari. Akibatnya, ada pasien yang harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan.

Tidak mengherankan jika sebagian pasien baru datang ketika sakit giginya sudah berulang dan tidak mempan lagi diobati. Masalahnya juga tidak selalu soal uang.

Ika menemukan pasien yang sebenarnya bisa menggunakan BPJS, tetapi tidak tahu layanan apa saja yang tersedia. Beberapa perawatan gigi, seperti penambalan dan pencabutan dalam kondisi tertentu, dapat ditanggung melalui JKN sesuai ketentuan layanan.

Kondisi Indonesia memang masih menunjukkan jarak besar antara masalah gigi dan akses pelayanan. Kemenkes mencatat 57,6 persen penduduk mengalami masalah gigi dan mulut, tetapi hanya 10,2 persen yang mendapatkan pelayanan dari tenaga medis gigi. Bahkan proporsi penduduk yang menyikat gigi dengan benar hanya 2,8 persen.

Data terbaru Kementerian Kesehatan juga menunjukkan jumlah dokter gigi yang tercatat dalam sistem mencapai 36.089 orang dengan rasio sekitar 0,13 dokter gigi per 1.000 penduduk.

Bukan cuma soal orang kampung yang tidak punya uang untuk ke dokter gigi

Stigma bahwa dokter gigi hanya untuk orang kaya memang masih didengar Ika. Namun menurutnya, persoalannya jauh lebih rumit.

Ada orang yang memang kesulitan secara ekonomi. Ada yang takut. Ada yang tidak tahu bahwa perawatan tertentu dapat menggunakan BPJS. Ada pula yang sebenarnya ingin berobat tetapi tidak punya waktu karena pelayanan kesehatan berlangsung pada jam kerja.

Di daerah terpencil, masalahnya bertambah satu: jarak.

“Kalau mereka hidup di lingkungan yang belum ada dokter gigi, jauh dari akses kesehatan gigi, ya mereka mau tahu dari mana kalau bukan dari tetangga dan ‘katanya’,” ujar Ika.

Kalimat itu mungkin menjadi gambaran paling sederhana mengenai persoalan kesehatan gigi di daerah. Ketika dokter gigi tidak ada di sekitar mereka, informasi berpindah dari mulut ke mulut.

Ketika seseorang mengatakan sakit gigi cukup diobati dengan obat, sugesti itu lebih mudah dipercaya daripada penjelasan dokter yang jaraknya berjam-jam perjalanan. Meski begitu, Ika tidak pernah merasa tujuh tahun pendidikannya sia-sia.

Justru sebaliknya. Ia merasa semakin sadar bahwa dokter gigi dibutuhkan, terutama di daerah yang kekurangan tenaga kesehatan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, perubahan kecil bahkan mulai terlihat. Tetangga yang dulu skeptis terhadap perawatan dokter gigi mulai meminta Ika merawat anggota keluarganya setelah melihat pasien sebelumnya baik-baik saja.

Bagi Ika, mungkin memang tidak semua orang langsung percaya kepada dokter gigi. Namun setidaknya, satu pasien yang sembuh bisa menjadi cerita baru yang lebih kuat daripada omongan tetangga.

Dari sana, kepercayaan barangkali tidak perlu dipaksa. Cukup dibuktikan, satu gigi dan satu pasien pada satu waktu.

Penulis: Janu Wisannto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Gagal Jadi Dokter Gigi usai Lulus dari Kampus Swasta di Surabaya, Kini Sukses Budidaya Ternak di Kota Batu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version