ADVERTISEMENT

Meski Nyaman, Tinggal di Kos yang Tetangga dan Ibu Kosnya Green Flag Malah Bikin Repot Sendiri

kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

Tinggal di kos yang tetangga dan ibu kos green flag malah bikin repot sendiri. Kita justru sungkan kalau mau melakukan “kenakalan-kenakalan kecil” khas perantau.

***

Memiliki ibu kos yang sangat perhatian, dan tetangga kamar yang luar bisa solid, adalah dambaan hampir setiap anak rantau. Lingkungan indekos yang serba suportif atau kerap dilabeli green flag ini sepintas terdengar sempurna. 

Namun, bagi Yoga, mahasiswa tahun ketiga di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, kenyamanan sosial tersebut justru melahirkan beban moral setiap harinya. Malah merepotkan dirinya sendiri.

Yoga sendiri merupakan seorang mahasiswa tahun ketiga di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Jogja. Sejak awal menginjakkan kaki di kota pelajar dua tahun silam, ia menetap di sebuah kos yang direkomendasikan oleh kakak tingkatnya. 

Kata dia, kos tersebut masuk dalam kategori “nanggung”. Harga sewanya tidak bisa dibilang murah, tapi juga tidak terlalu mahal untuk menguras kantong mahasiswa. 

“Fasilitasnya pun standard kalau kataku. Nggak mewah banget, tetapi sangat layak huni,” ujarnya saat bercerita pada Mojok, Kamis (10/9/2026).

Kos strategis, cukup jalan kaki buat ke kampus

Secara logika, tidak ada alasan bagi Yoga untuk pindah karena tak nyaman. 

Apalagi, kos itu berlokasi sangat strategis. Jaraknya yang dekat dengan kampus membuat Yoga kerap kali memilih berjalan kaki, yang hanya memakan waktu lima hingga 10 menit, ketimbang harus repot memanaskan mesin motor di pagi hari. 

Hal ini, menurutnya, menjadi penyelamat, mengingat ia memiliki kebiasaan buruk sulit bangun pagi padahal jadwal kuliah acap kali dimulai di jam pertama. 

Belum lagi, deretan pilihan kuliner murah yang mengepung area kos membuatnya tak pernah kesulitan meredam rasa lapar di tengah malam.

“Di sini itu makan murah dan enak ada sampai tengah malem. Jadi nggak repot kalau butuh makan.”

Tetangga dan ibu kosnya green flag, pakai banget

Namun, daya tarik utama kos tersebut sebenarnya terletak pada kualitas manusianya. Sejak hari pertama, Yoga disuguhkan dengan lingkungan yang, bagi dirinya, kelewat sehat.

Tetangga kos Yoga mayoritas adalah mahasiswa aktif di organisasi keagamaan kampus. Kata Yoga, “mereka alim, tutur katanya sopan, dan yang paling penting, tidak neko-neko.” 

Meskipun ramah, mereka sangat menghargai privasi. Interaksi antarpenghuni terjalin dalam porsi yang tahu batasan, kapan harus menyapa dan kapan harus menahan diri agar tidak mengganggu jam istirahat.

Kedisiplinan mereka juga tercermin dari kondisi kos. Ruang tengah selalu rapi. Kamar mandi bersama selalu dalam keadaan bersih dan wangi, seolah dibersihkan setiap waktu, padahal sama sekali tidak ada jadwal piket.

“Pokoknya kadang malah bingung sendiri, kok ada orang se-green flag mereka,” ujarnya.

Keberuntungan Yoga seolah genap dengan figur sang ibu kos. Alih-alih menjadi sosok yang galak–laiknya ibu kos kebanyakan–ibu kosnya justru kelewat ramah.

Paling sederhana, ia menyediakan dapur terbuka di mana anak kos bebas memasak. Tidak jarang, sang ibu sengaja menyetok sayur-mayur di dalam kulkas dan membebaskan siapa saja untuk mengambilnya. 

Perhatiannya pun terasa tulus, sekadar menanyakan kabar atau kelancaran kuliah tanpa pernah melanggar batas privasi apalagi ikut campur urusan pribadi.

“Cuma memang begini, awalnya aku merasa sangat beruntung, rasanya seperti punya keluarga baru. Tapi lama-kelamaan, kebaikan mereka itu pelan-pelan bikin aku repot sendiri. Ada rasa sungkan yang harus aku pikul terus,” ungkap Yoga.

Saking baiknya tetangga dan ibu kos, malah sungkan

Yoga bercerita, kerepotan yang dialaminya lebih kepada beban tata krama. Ia mencontohkan, rutinitas menerima makanan dari ibu kos. Niat awal ingin berhemat sebagai mahasiswa, pemuda ini justru sering merogoh kocek lebih dalam semata-mata untuk membalas budi.

“Pantang rasanya mengembalikan wadah makanan dalam keadaan kosong. Kalau ibu kos ngasih lauk pakai kotak makan, aku pasti pusing mikirin besok harus diisi apa sebelum dikembalikan,” kata Yoga diselingi tawa.

Selain urusan makanan, interaksi antarpenghuni yang terlampau peduli juga menipiskan ruang privasinya, terutama saat energi sosialnya habis. 

Ada kalanya Yoga pulang dalam kondisi penat akibat tugas kampus dan hanya ingin mengurung diri di kamar, tertidur berantakan, tanpa diganggu siapa pun. Sayangnya, absennya Yoga dari area komunal selama setengah hari saja langsung memicu kekhawatiran tetangganya.

“Mereka pasti mengetuk pintu dan nanya, dikira sakit. Niat mereka sangat tulus, tapi perhatian itu justru memaksaku untuk segera berinteraksi. Aku merasa berdosa kalau membuat orang-orang baik ini cemas,” ujarnya.

Mau “agak nakal” pun sungkan

Ia bercerita, sebagai mahasiswa yang berada di usia transisi, jiwa kebebasan dalam diri Yoga masih menyala-nyala. 

Terkadang, ada hasrat kecil untuk sedikit “nakal” dan menjadi mahasiswa pada umumnya. Namun, jangankan melakukan kenakalan besar, untuk sekadar melakukan kenakalan-kenakalan kecil saja, Yoga tidak berkutik.

Sesepele ia tidak berani membiarkan tumpukan pakaian kotornya terlihat menggunung di keranjang. Ia diliputi rasa bersalah jika menaruh sepatu sembarangan, karena area depan kamarnya akan merusak pemandangan lorong yang selalu tertata rapi. 

Bahkan, Yoga mengaku sering merasa dihakimi oleh rasa malunya sendiri ketika berniat membolos kuliah. Beberapa tetangga kosnya secara tidak langsung menghafal rutinitas paginya.

“Jadi, ya. Niat mau bolos kadang malah malu sendiri.”

Kadang ada perasaan iri dengan kos teman-temannya

Yoga bahkan mulai membandingkan rutinitasnya dengan teman-teman yang tinggal di lingkungan kos temannya yang “agak bebas”.

Setiap kali berkunjung ke kos teman-temannya, Yoga kerap melihat sisi dunia yang berbeda. Di sana, kebebasan adalah segalanya. 

Teman-temannya bebas membawa masuk siapa saja, termasuk membawa pacar,  bahkan membiarkan menginap.

Mereka juga leluasa menunda bersih-bersih, begadang sambil memutar musik, dan menikmati segala bentuk kekacauan khas kehidupan mahasiswa.

Melihat hal itu, Yoga tidak menampik adanya sebersit rasa iri. Ada bagian dari dirinya yang ingin merayakan kebebasan tanpa syarat semacam itu, tanpa harus dibayangi perasaan sungkan.

“Tapi kayaknya kalau tinggal di lingkungan yang se-LV itu, kayaknya nggak bakal kuat juga,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Orang Have Penghuni Kos Eksklusif Nyoba Nginep di Kos Murah, Cuma Semalam tapi Mual dan Tak Tahan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.