Rasyid (28) sempat mengalami kebimbangan karier bahkan di awal perkuliahan. Sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Jepang, ia tak bisa berhenti di tengah jalan. Namun siapa sangka, kariernya justru melejit sebagai HR di Tuku.
Realita kuliah Sastra Jepang tak sesuai ekspektasi
Dulu, Rasyid pernah bermimpi punya karier di Jepang. Makanya, dia memutuskan merantau jauh-jauh dari Kalimantan ke Surabaya untuk kuliah di Jurusan Sastra Jepang. Rasyid berujar ketertarikannya tersebut berasal dari banyak faktor.
“Pertama, aku melihat dari potensi kerja di Jepang yang cukup tinggi. Populasi mereka juga cukup rendah. Dan aku tertarik dengan pop culture di sana,” tutur Rasyid.
Sayangnya, Rasyid malah merasa hilang arah di masa awal kuliah. Dia mulai kehilangan motivasi belajar. Di sisi lain, Rasyid justru menemukan ketertarikan di bidang manajemen di tengah kejenuhannya kuliah Sastra Jepang, sehingga dia memutuskan kuliah di dua jurusan sekaligus.
“Aku sempat merasa kecewa dengan diriku sendiri saat belajar Sastra Jepang. Overthinking-nya lebih ke arah bagaimana ya caraku menyelesaikan keduanya?,” ujarnya.
Keraguan tersebut membuat Rasyid mempertimbangkan kembali arah kariernya. Dia sempat ingin melepaskan Jurusan Sastra Jepang dan fokus kuliah Manajemen. Namun, orang tuanya tidak mengizinkan karena sayang jika harus berhenti di tengah jalan.
“Akhirnya aku tetap lanjut hingga lulus, walaupun makan waktu yang lama. 8 tahun. Hampir kena DO,” kata Rasyid.
Kopi Tuku selamatkan saya dari mahasiswa abadi Sastra Jepang
Sembari berjuang menyelesaikan skripsinya di Jurusan Sastra Jepang, Rasyid juga memanfaatkan waktu luangnya dengan bekerja di coffee shop. Dari sanalah dia menemukan passion baru dan menemukan semangatnya untuk lulus kuliah.
“Jadi ada beberapa lamaran part-time barista yang dikirimkan dan kebetulan ada salah satu coffee shop independen di Surabaya yang menerima kerja waktu itu. Lalu diteruskan ke coffee shop yang ada di dekat daerah Gresik. Setelah itu sempat double dan triple job sembari kuliah,” tuturnya.
Lewat kenalannya, Rasyid akhirnya mengenal Tuku, salah satu kedai kopi lokal terkenal di Indonesia yang didirikan oleh Andanu Prasetyo pada Juni 2015 di Cipete, Jakarta Selatan. Brand itu menjadi pelopor tren es kopi susu dengan gula aren melalui menu ikoniknya, Es Kopi Susu Tetangga.
Di Tuku, Rasyid mendapat banyak pelajaran berharga. Selain diberi kesempatan sebagai tim operasional, dia juga belajar soal manajamen—sesuatu yang memang dia sukai sejak awal.
“Agak shock karena interaksi antara manajemen dan tim hampir tidak ada batasnya. Kami bisa saling menyapa, dengan owner pun seperti teman bahkan bisa nongkrong. Dan secara apresiasi yang diberikan juga sangat sesuai dengan apa yang kami berikan, baik di lingkungan internal Tuku maupun customer-nya,” tuturnya.
Tak sia-sia belajar Kanji untuk nyemplung di dunia karier
Setelah 8 tahun kuliah, Rasyid menyadari bahwa ilmu yang dia dapat di Jurusan Sastra Jepang cukup berguna untuk mengembangkan kariernya. Ilmu itu sesederhana ia membaca dan memaknai huruf Kanji.
Setiap karakter hurufnya memiliki nilai visual keseimbangan dan kearifan tentang bagaimana manusia memandang alam serta eksistensi dirinya. Sebab, banyak Kanji lahir dari tiruan bentuk alam.
Misalnya, kanji Yama yang menggambarkan tiga puncak gunung, artinya melambangkan keteguhan dan kestabilan. Lalu, Mizu yang menggambarkan aliran air, menyimbolkan fleksibilitas, ketenangan, dan kemampuan beradaptasi.
“Jadi saat belajar bahasa Jepang, kita tidak hanya menghafal, tapi juga memahami latar belakangnya,” ucap Rasyid.
Dari contoh di atas, satu aksara Kanji bisa memiliki makna yang berbeda-beda. Hal itu, kata Rasyid, sama seperti cara kita memandang suatu masalah seharusnya. Itu yang diterapkan Rasyid baik saat di operasional maupun ketika dirinya sudah menjadi HR.
Baginya, mengurus karyawan ibarat membaca Kanji bahwa setiap manusia punya konteks, latar belakang, dan karakter yang harus dipahami secara menyeluruh, bukan sekadar dinilai dari luarnya saja.
“Sastra Jepang membantuku menilai masalah dari konteks dan latar belakang sejarah di baliknya. Lalu, kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk next time, apa yang legacy, apa lagi yang kita tinggalkan. Dan itu cukup influence ke pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari,” kata Rasyid.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan