ADVERTISEMENT

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO

Kecintaan Uyun terhadap Jurusan Antropologi tak bisa diganggu gugat. Ia menjadi salah satu mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang mendapat IPK bagus seangkatannya. Saat ditanya, mata kuliah apa yang menurutnya paling sulit? Ia menjawab, tidak ada. Bahkan, proses menggarap skripsi adalah bagian terseru dalam hidupnya. Namun, ada satu masalah yang tak bisa Uyun hindari seperti mahasiswa akhir kebanyakan.

Skripsi Antropologi Unair jadi mata kuliah terseru

Bisa dibilang, Uyun adalah anak sosial tulen. Sejak kecil, ia suka berkunjung ke bangunan bersejarah. Kadang-kadang, ia juga melihat hiburan wayang maupun acara kesenian yang menyangkut soal budaya. 

Oleh karena itu, Uyun berasa jackpot saat diterima di Unair Jurusan Antropologi. Semasa kuliah, Uyun mengaku belum mengalami kendala yang berarti sampai tibalah ia menggarap skripsi. Yang mana dirinya lebih suka menggunakan metode penelitian kualitatif dibandingkan kuantitatif.

“Dari dulu aku memang nggak suka hitung-hitungan, kalau ada tugas yang pakai metode penelitian kuantitatif aku lebih sering nyontek teman, tapi waktu pakai metode kualitatif pas skripsi itu seru banget. Skripsi jadi bagian terasyik dalam hidupku,” kata Uyun kepada Mojok, Minggu (12/4/2026).

Uyun yang mengambil peminatan sosial budaya di Jurusan Antropologi Unair itu berujar, tak sengaja mendapatkan ide skripsinya saat menonton berita di salah satu media internasional, yang menyajikan sikap toleransi adat di Gudo, Jombang, Jawa Timur. 

“Aku ingat banget waktu itu nonton televisi bareng ibu, terus ibu juga mendorongku untuk penelitian di sana,” kata Uyun.

Uyun yang tak berani datang sendiri, akhirnya ditemani sang ayah untuk melihat Tri Dharma Hong San Kiong, klenteng yang menjadi tempat perlindungan etnis Tionghoa sekaligus kesenian mereka saat mengalami diskriminasi di tempat tinggal mereka dulu. 

Kini, klenteng itu sudah bertransformasi menjadi tempat yang kaya akan toleransi. Bahkan, kedatangan Uyun ke klenteng disambut dengan makanan halal dan percakapan yang ramah bersama warga.

Baca Halaman Selanjutnya

Termotivasi oleh nasihat Timothy Ronald

Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version