Ada masanya, label sebagai “mahasiswa abadi” karena tidak lulus-lulus kuliah justru menjadi kebanggaan. Dalih yang dipakai adalah kesibukan organisasi hingga tidak kunjung fokus mengerjakan skripsi.
“Label aktivis atau organisatoris itu prestise. Bawa narasi kalau ilmu di kelas itu tidak ada apa-apanya dibanding ilmu di organisasi dan segala kegiatan turunannya.” Begitu dalih yang diucapkan oleh salah seorang mantan mahasiswa abadi di sebuah PTN di Surabaya, Wasil (29).
Kuliah pada 2016, perjalanan kuliah Wasil akhirnya terhenti karena di-drop out (DO) oleh kampus. Pasalnya, hingga semester 14, ia tidak kunjung bisa merampungkan skripsi. Padahal saat itu ia mendapat keringanan berupa waktu tambahan.
Menjadi mahasiswa abadi: asal yapping sudah dihormati
Sejak semester 1 Wasil tergabung sebagai kader sebuah organisasi mahasiswa ekstra (ormek). Persemester tiga, ia mulai aktif sebagai pengurus aktif. Selain itu juga mulai merambah organisasi intra.
Sejak saat itu, intensitasnya di kelas menurun drastis. Selalu ada alasan untuk tidak masuk kelas. Alhasil, banyak mata kuliah yang harus mengulang. Setelah mengulang pun, ternyata masih tidak lulus lagi, jadi harus mengulang lagi.
“Masuk kelas paling ya awal-awal aja. Setelahnya bolos terus,” ujar Wasil, Minggu (3/5/2026).
“Makin terpapar juga kan dengan bacaan dan diskusi kalau perkuliahan itu nggak menjawab apapun, hanya kayak formalitas, akhirnya aku lebih aktif diskusi di ormek ketimbang masuk kelas,” sambungnya.
Nah, karena kultur senioritas yang kental di organisasi mahasiswa, Wasil mendapatkan sesuatu yang tidak ia dapatkan di kelas: banyak mahasiswa junior yang menaruh respek padanya.
Bagaimana tidak. Keaktifan Wasil di organisasi, rambutnya yang gondrong terurai, hingga cara bicaranya yang selalu mengutip istilah-istilah rumit, membuat banyak mahasiswa junior menganggapnya “abang-abangan”. Itu membuatnya kian nyaman menjadi mahasiswa abadi. Sebab, ia mau yapping apapun pasti akan didengar oleh para junior.
Saat teman seangkatan sibuk skripsi, justru semakin bangga jadi mahasiswa abadi
Sejujurnya, batin Wasil tersentil tiap mendapati teman-teman seangkatannya sudah skripsi hingga wisuda. Merasa tertinggal.
Akan tetapi, Wasil selalu denial. Misalnya, ia percaya setiap orang ada masanya. Tidak ada yang terlambat.
“Pikirku waktu itu, teman-teman kan berprinsip, skripsi yang baik itu ya skripsi yang selesai. Yang penting cepet lulus. Aku nggak mau seperti itu. Kalau aku mau bikin skripsi, harus berdampak,” kata Wasil.
Masalahnya, sekadar topik atau judul saja Wasil mengakui masih kesulitan. Karena egonya adalah: membuat skripsi yang benar-benar berbeda sama sekali dari yang pernah ada.
“Selain itu, pikirku, kenapa buru-buru lulus kuliah, kayak ilmu dan pengalamannya udah cukup aja? Aku belum merasa cukup. Jadi masih kunikmati aja masa kuliahku,” imbuh Wasil.
Malahan, tiap kali ada teman seangkatan yang diwisuda, Wasil akan meromantisasi statusnya sebagai mahasiswa abadi dengan lagu “Koboy Kampus” – The Panasdalam Bank ft Pidi Baiq, terutama pada penggalan lirik:
Lalu kapan saya akan diwisuda?
Adik kelas sudah lebih dulu
Hati cemas merasa masih begini
Teman baik sudah di-DO
Abaikan pertanyaan orang tua dan tetangga, sibuk ngopi di kampus
Orang tua Wasil memang tidak paham seluk-beluk dunia kuliah. Namun, sejak awal mereka tahu kalau jatah kuliah maksimal tujuh tahun.
Itulah kenapa selepas tahun keempat, orang tua Wasil tidak luput menanyakan: “Kuliah kamu memang belum selesai ya, Sil?”
“Masih banyak tugas dan kegiatan, Buk, Pak, nanti lak ya selesai-selesai sendiri,” begitu jawab Wasil.
Tapi kalau sudah tetangga, saudara, atau teman lama yang tanya: “Kok belum lulus-lulus kuliah?”, Wasil malah bisa menjawab dengan lebih sengak.
Persoalannya, sepanjang kuliah Wasil memang tidak nyambi bekerja. Biaya kuliah dan hidup di perantauan ditanggung penuh oleh orang tuanya.
“Kegiatanku, ngampus, sekre, ngopi, demo, main, tidur mbangkong (bangun kesiangan),” ungkapnya dengan penuh sesal.
Jadi mahasiswa DO tapi tetap andalkan kiriman uang orang tua
Sejujurnya, tiap mau tidur menjelang Subuh, di bilik sekre yang menjadi tempat tidur para mahasiswa abadi, Wasil sesekali overthinking: ada perasaan bersalah karena semakin umurnya bertambah, ia masih menjadi beban orang tua.
Namun, lagi-lagi, ia denial. Orang tuanya sejak awal bilang menyanggupi biaya kuliah Wasil. Oleh karena itu, cara menebusnya adalah dengan memanfaatkan mencari ilmu dan pengalaman di lingkungan kampus sebaik-baiknya.
Tapi kenyataannya Wasil gagal merampungkan skripsi dana berujung DO. Statusnya beralih dari mahasiswa abadi menjadi mahasiswa DO.
“Awalnya kan takut mau jujur ke orang tua. Jadi setelah DO, aku masih bertahan di sekre. Masih dapat kiriman uang dari orang tua. Tapi ada teman seangkatan yang sudah kerja marahin aku: harusnya nggak begitu yang kulakukan,” beber Wasil.
Akhirnya Wasil pulang dan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja orang tua Wasil kecewa. Bahkan sempat mendesak Wasil untuk mengajukan banding agar diberi kesempatan.
“Ibuku malah sampai minta diajak ke kampus biar dia yang ngomong ke pihak kampus. Orang tuaku orang desa lugu. Dikira kampus kayak sekolahan. Jadi sampai segitunya mereka kecewa,” kata Wasil. Di titik itu, Wasil benar-benar merutuki pengabaiannya terhadap mata kuliah dan skripsi.
Ternyata tidak kunjung mengerjakan skripsi dan tidak lulus-lulus kuliah bikin orang tua menderita
Tapi bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur. Tidak butuh waktu lama, situasi di rumah pun kembali normal.
Hanya saja, obrolan dengan sang ibu suatu kali membuat Wasil semakin menumpuk rasa bersalah. Sebab, selama ia menjadi mahasiswa abadi hingga berakhir menjadi mahasiswa DO, ternyata ia telah membuat orang tuanya menderita.
“Tujuh tahun di perantauan, setiap bulan minta kiriman, ternyata nggak selalu bapakku punya uang. Kata ibuku seperti itu. Jadi ya kadang ngutang-ngutang,” beber Wasil.
Obrolan itu terjadi ketika suatu kali Wasil terlibat cekcok dengan bapaknya. Perkara utamanya tentu saja karena Wasil DO dari kampus.
“Ibuku bilang, jangan begitu ke bapak, karena bapak itu mengusahakan banget setiap bulan bisa ngirim ke aku,” sambung Wasil.
Kata ibu Wasil, kadang kala saat sang bapak merasa kelelahan bekerja sebagai mandor kuli, bapaknya iseng bertanya pada ibu Wasil: Kuliah Wasil kurang berapa lama lagi?
Ibu Wasil tahu persis, pertanyaan tersebut dilontarkan dengan harapan: kalau sisa sedikit lagi, artinya kerja kerasnya menanggung biaya kuliah Wasil juga tinggal sedikit lagi. Setidaknya, jika Wasil sudah lulus, Wasil sudah bisa mandiri.
Itulah kenapa Ibu Wasil kerap bertanya: Kapan Wasil lulus? Pertanyaan yang justru disepelekan dan dijawab sekadarnya oleh Wasil.
“Ya sekarang aku udah kerja. Tapi kalau ingat itu ya nyesel. Nyesel kenapa nggak kuselesaikan kuliahku karena sibuk di organisasi mahasiswa. Paling nggak punya modal ijazah buat cari kerja yang lebih baik. Nyesel karena waktu itu aku seneng-seneng aja jadi mahasiswa abadi, tapi ternyata orang tuaku diam-diam terbebani,” pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kisah “Mahasiswa Abadi” di UNY Nyaris Kena DO hingga Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos CPNS usai Wisuda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
