ADVERTISEMENT

Vespa Bapak Menguras Tabungan dan Bikin Tak Lulus Kuliah, Tapi Saya Ikhlas Merawat karena Kenangannya

vespa bapak

Kalau dilihat sekarang, Vespa PX 150 berwarna putih itu memang keren. Catnya mengilap, bodinya rapi, dan beberapa bagian sudah saya restorasi. Orang yang melihatnya mungkin akan mengira saya sangat menyayangi Vespa ini, memang iya. Tapi kalau ditanya apakah saya pernah membenci motor ini, jawabannya juga iya.

***

Saya pertama kali mengenal Vespa ini sebagai kendaraan keluarga. Ketika SMP sampai kuliah, inilah kendaraan yang mengantar saya ke mana-mana. Keluarga saya hanya punya dua motor. Vespa bapak ini dan satu motor Honda Beat yang dipakai ibu untuk bekerja.

Dulu saya tidak pernah protes ketika harus dibonceng bapak menggunakan Vespa. Bahkan ketika sudah kuliah, saya justru mengendarainya sendiri untuk lajon dari Godean menuju Karang Malang, tempat kampus saya berada. 

Dari bonceng hingga lajon kampus, vespa bapak menjadi saksinya

Saya masih ingat suara mesin Vespa ketika pagi. Bukan suara motor yang halus. Ada suara khas yang sekarang justru saya rindukan. Waktu SMP, saya tinggal duduk di belakang bapak. Berangkat sekolah, pulang sekolah, begitu terus. Tidak ada pilihan kendaraan lain.

Setelah kuliah, saya mulai membawa Vespa itu sendiri. Jarak Godean-Karangmalang sebenarnya tidak pendek, apalagi kalau setiap hari harus ditempuh menggunakan kendaraan tua. Tapi saat itu saya biasa saja.

“Ya mau bagaimana lagi? Adanya cuma itu, ya sudah dipakai saja,” kata saya kepada bapak ketika membicarakan kendaraan keluarga.

Bapak juga tidak pernah menjanjikan akan membelikan motor baru. Kondisi ekonomi keluarga membuat Vespa itu harus tetap dipakai. Masalahnya, semakin sering digunakan, semakin sering pula Vespa itu meminta perhatian.

PX 150 merupakan Vespa bermesin dua tak dengan kapasitas sekitar 150 cc. Model ini dikenal dengan bodi baja monokok, transmisi manual empat percepatan, serta karakter mesin yang sederhana tetapi membutuhkan perawatan. Bagi saya, kesederhanaan itu justru kadang berarti biaya yang tidak sederhana.

Vespa bapak mogok, tabungan ikut amblas

Masalah paling menyebalkan adalah ketika Vespa tiba-tiba mogok. Kadang terjadi ketika saya sedang terburu-buru ke kampus. Kadang ketika pulang. Pernah juga saya harus berhenti di pinggir jalan hanya untuk mencari tahu apa yang bermasalah.

Belum lagi onderdil. Satu bagian rusak, keluar uang. Bagian lain bermasalah, keluar uang lagi. Awalnya saya masih bisa mengatasinya menggunakan uang sendiri. Lama-lama tabungan saya ikut terkikis.

Saya pernah bilang kepada bapak, “Pak, Vespa ini diganti saja, ya?” Bapak tidak langsung menjawab. Saya tahu persoalannya bukan karena bapak tidak mau. Memang belum ada uang untuk membeli motor baru. Akhirnya Vespa tetap dipakai. Saya pun tetap kuliah. Tapi perlahan saya merasa hidup saya seperti dibagi dua: kuliah dan merawat Vespa.

Sampai akhirnya masa studi habis

Saya tidak ingin menyalahkan Vespa atas semua kegagalan kuliah saya. Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura bahwa urusan motor ini tidak menghabiskan waktu, tenaga, dan uang saya. Ada masa ketika saya lebih banyak memikirkan bagaimana Vespa bisa kembali jalan daripada memikirkan tugas kuliah.

Sampai suatu pagi, saya membuka email dan menemukan pemberitahuan bahwa masa studi saya sudah habis. Saya harus mengundurkan diri dari kampus. Saya membaca email itu beberapa kali. Rasanya hancur.

Bertahun-tahun kuliah, uang yang sudah dikeluarkan, waktu yang terbuang, dan perjalanan Godean-Karang Malang yang saya tempuh berkali-kali ternyata berhenti di situ. Saya memang punya tanggung jawab atas kuliah saya sendiri. Saya tidak bisa mengatakan Vespa adalah satu-satunya penyebab saya tidak lulus.

Tapi kalau ditanya apa yang paling saya ingat dari masa kuliah, jawabannya tetap Vespa ini. Motor yang mengantar saya ke kampus sekaligus motor yang selama bertahun-tahun membuat saya harus mengeluarkan uang dan waktu untuk merawatnya. Ironis memang.

Saya balas dendam kepada vespa bapak

Setelah tidak lagi kuliah dan mulai bekerja, saya justru melakukan sesuatu yang mungkin terdengar aneh. Saya merestorasi Vespa itu. Saya menghabiskan uang lebih dari Rp10 juta untuk membuatnya kembali bagus.

“Ngapain malah dibagusin?” beberapa orang mungkin bertanya begitu. Jawaban saya sederhana: saya ingin membalas dendam. Bukan membalas dendam dengan menjualnya atau membuangnya. Saya justru ingin membuat Vespa yang dulu membuat saya kerepotan menjadi Vespa yang benar-benar saya banggakan.

Saya bongkar bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Saya benahi tampilannya. Saya keluarkan uang lagi. Setiap kali melihat Vespa itu sekarang, perasaan saya campur aduk. Ada bangga karena akhirnya motor bapak terlihat seperti yang saya inginkan. Ada senang karena benda yang menemani saya sejak SMP masih ada. Tetapi ada juga sedikit rasa kesal.

Dulu Vespa ini mengantar saya berangkat kuliah. Sekarang Vespa ini menjadi pengingat bahwa saya tidak pernah sampai di garis akhir kuliah. Bapak mungkin tidak pernah bermaksud membuat saya kesulitan. Vespa ini juga tentu tidak pernah punya niat membuat saya gagal. Kalau dipikir-pikir, yang salah mungkin juga bukan motornya.

Namun bagi saya, Vespa PX 150 putih ini sudah terlanjur menjadi saksi dari dua hal yang bertolak belakang: ia mengantarkan saya menuju kampus setiap hari, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang membuat perjalanan kuliah saya berhenti sebelum selesai.

Makanya, saya merawatnya dengan merestorasi vespa bapak tersebut. Karena mau bagaimanapun juga, banyak kenangan yang indah juga ngenes di dalamnya, saya yang diantar kuliah dengan vespa itu dan saya yang gagal lulus karena vespa itu juga.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.